TRIBUNNEWS.COM - Uang bisa dicari, tapi kejayaan negara tidak bisa ditunda. Itulah pesan kuat yang dikirimkan kapten tim nasional Korea Selatan, Son Heung-min, menjelang perhelatan Piala Dunia 2026.
Di tengah jadwal padat bersama Los Angeles FC (LAFC), ikon sepak bola Asia ini mengambil langkah ekstrem dengan menolak semua agenda syuting iklan demi menjaga kondisi fisik dan mentalnya tetap prima.
Langkah ini bukan sekadar strategi biasa. Bagi Son, yang kini merumput bersama di Major League Soccer (MLS), Piala Dunia kali ini bukan sekadar turnamen empat tahunan.
Ini adalah pertaruhan kehormatan, yang kemungkinan besar menjadi tarian terakhir atau last dance sang legenda di panggung tertinggi sepak bola dunia.
Keputusan Son untuk menepikan pundi-pundi demi persiapan teknis mendapat dukungan penuh dari para sponsor sebagaimana mengutip Korea JoongAng Daily.
Gatorade Korea, mitra setia yang telah bekerja sama dengan Son selama 12 tahun sejak Piala Dunia 2014, secara resmi mengumumkan pembatalan sesi pengambilan gambar terbaru mereka.
"Sejarah olahraga dibangun di atas tetesan keringat. Demi babak baru dalam sepak bola, kami memutuskan untuk membatalkan syuting iklan baru bersama Son Heung-min."
"Sebagai gantinya, kami akan menggunakan kembali materi iklan tahun lalu agar ia bisa terus berkeringat di lapangan latihan, bukan di lokasi syuting," tulis pernyataan resmi Gatorade Korea.
Sikap ini menegaskan betapa sakralnya persiapan kali ini bagi Son. Ia tidak ingin energinya terkuras saat fokusnya seharusnya tertuju pada taktik dan pemulihan fisik.
Baca juga: Nasib Jamal Musiala di Piala Dunia 2026 di Persimpangan Jalan, Nagelsmann Hadirkan Solusi
Kepindahan Son dari Tottenham Hotspur ke LAFC musim panas lalu rupanya merupakan bagian dari rencana besar.
Bermain di Amerika Serikat yang jadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko memberikan keuntungan adaptasi iklim dan lingkungan yang serupa dengan atmosfer pertandingan nanti.
Meski usianya kini menginjak 33 tahun, gairah Son tidak memudar sedikit pun. Ia sadar betul bahwa ekspektasi publik Korea Selatan ada di pundaknya.
"Saya sudah bisa merasakan, baik secara fisik maupun mental, betapa pentingnya musim panas ini bagi saya sebagai seorang pesepak bola," ungkap Son.
"Saya sedang mempersiapkan diri sebaik mungkin, tidak hanya dari segi fisik, tetapi juga mental."
Baginya, hasil di lapangan hijau adalah cerminan dari dedikasinya. Ia percaya bahwa kerja keras tidak akan mengkhianati hasil, terlepas dari seberapa berat rintangan yang menghadang.
"Apakah kita akan jatuh atau mampu mengatasi tantangan, semuanya bergantung pada kemauan kita."
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk memberikan kegembiraan dan kenangan indah bagi masyarakat Korea, dengan percaya pada waktu, upaya, dan keringat yang telah saya curahkan demi meraih mimpi ini," tambahnya.
Langkah Son untuk fokus total pada Piala Dunia juga datang di saat yang krusial. Musim ini, ia memang telah mencatatkan dua gol dan 11 assist, namun keran golnya di MLS tahun ini masih tertutup.
Sejauh ini, kontribusinya lebih banyak terlihat lewat tujuh umpan matang bagi rekan-rekannya.
Jadwal padat juga menjadi musuh utama. Son baru saja melewati rentetan laga tandang beruntun di Meksiko dalam ajang Concacaf Champions Cup.
Jika LAFC terus melaju hingga final, jadwal padat ini akan terus menghantuinya hingga akhir Mei.
Kelelahan tampak jelas saat Son bermain selama 77 menit dalam laga kandang LAFC melawan Colorado Rapids yang berakhir imbang 0-0.
Sang winger gagal melepaskan satu pun tembakan ke arah gawang, sebuah statistik yang jarang terjadi bagi pemain sekalibernya.
Hasil tersebut juga memperpanjang tren negatif LAFC yang belum mencicipi kemenangan dalam empat laga terakhir.
Namun, bagi para pendukung Taegeuk Warriors, pengorbanan Son yang memilih lapangan latihan ketimbang studio iklan adalah bukti nyata bahwa sang kapten belum habis.
Ia hanya sedang menghimpun tenaga untuk satu ledakan terakhir di Piala Dunia 2026 yang akan dimulai pada 11 Juni mendatang.
(Tribunnews.com/Niken)