4 Kampung di Sangihe Krisis Air, Stok Air Hujan Pun Habis, BPBD Siap Bantu Tapi Tunggu Laporan
Alpen Martinus April 24, 2026 03:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID, SANGIHE- Empat desa di Sangihe, Sualwesi Utara mengalami kesulitan mendapatkan air.

Itu akibat musim kemarau yang melanda wilayah kepulauan Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Warga mulai susah mendapatkan air di Kecamatan Tatoareng, Jumat (24/04/2026).

Baca juga: Daftar 4 Kampung di Sangihe yang Mulai Dilanda Krisis Air Bersih, Sumber Air Utama Mengering

Keadaan tersebut pun makin parah.

Kampung yang terdampak meliputi Kahakitang, Dalako Bembanehe, Kalama Lindongan III, serta Para I di Pulau Salingekere.

Warga di wilayah-wilayah tersebut kini harus berjuang ekstra untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Di Kampung Kahakitang, masyarakat yang selama ini mengandalkan air hujan mulai kehabisan cadangan akibat hampir sebulan tanpa hujan.

Kondisi ini membuat warga cemas, terutama untuk kebutuhan konsumsi.

Situasi tak jauh berbeda terjadi di Kampung Dalako Bembanehe.

Sumber air yang selama ini dimanfaatkan mulai mengering, memaksa warga mencari alternatif lain.

Sebagian harus menempuh medan sulit menuju mata air di wilayah Makurese yang berada di area menurun dekat pesisir.

Kondisi paling kritis terjadi di Kampung Kalama Lindongan III.

Kapitalaung setempat, Eksplandriks Kahimpong, menyebut wilayah tersebut sama sekali tidak memiliki sumber mata air, sehingga warga sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.

“Warga di Lindongan III sangat membutuhkan suplai air bersih. Jika tidak segera ditangani, ini bisa berkembang menjadi krisis yang lebih serius,” ujarnya.

Sementara itu, warga Kampung Para I di Pulau Salingekere juga mulai merasakan dampak serupa, dengan keterbatasan air untuk kebutuhan dasar seperti minum, memasak, dan sanitasi.

Kepala BPBD Sangihe, Wandu Labesi, mengatakan pihaknya siap menyalurkan bantuan air bersih.

Namun, hingga kini pihaknya masih menunggu laporan resmi dari pemerintah kecamatan dan kampung terdampak.

“Kami siap bergerak, tetapi perlu data dan permohonan resmi. Jika sudah diterima, penyaluran bantuan akan segera dilakukan, termasuk kemungkinan penetapan status bencana daerah,” jelasnya.

Pemerintah Kecamatan Tatoareng melalui Sekretaris Kecamatan, Redtnus Makamea, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan pendataan dan menyiapkan pengajuan bantuan ke pemerintah kabupaten.

“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kampung untuk memastikan data akurat. Permohonan bantuan air bersih sedang diproses agar penanganan bisa segera dilakukan,” katanya.

Krisis air ini tidak hanya berdampak pada kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi warga seperti pertanian dan peternakan.

Bahkan, anak-anak harus membantu orang tua mencari air sebelum berangkat sekolah.

Warga kini terpaksa menghemat penggunaan air secara ketat, termasuk mengurangi frekuensi mandi dan mencuci.

Kondisi ini juga berpotensi memicu masalah kesehatan akibat keterbatasan sanitasi.

Jika kemarau terus berlanjut tanpa penanganan cepat, krisis air di Tatoareng dikhawatirkan akan berkembang menjadi bencana kemanusiaan skala lokal.

Masyarakat berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan menyalurkan bantuan air bersih.

Distribusi air dinilai sebagai langkah paling mendesak untuk meringankan beban warga di tengah kondisi yang semakin sulit.

“Air adalah kebutuhan utama. Kami sangat berharap ada bantuan secepatnya,” ujar salah satu warga Dalako Bembanehe.

Dengan tantangan geografis wilayah kepulauan, penanganan krisis ini membutuhkan langkah cepat, koordinasi yang solid, serta perhatian serius agar dampaknya tidak semakin meluas. (EDU)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.