Kisah Eye Sunarya, Penjual Boboko Asal Majalengka Bisa Berangkat Haji: Menabung Rp 10 Ribu Sehari
Mutiara Suci Erlanti April 24, 2026 01:11 PM

 

Laporan Adim Mubaroq 


TRIBUNCIREBON.COM, MAJALENGKA - Pagi belum sepenuhnya ramai ketika sebuah rumah sederhana di Blok Minggu, Dusun Cisampih, Desa Tarikolot, mulai dipenuhi orang.

Disana lantai keramik biasa diiringi kipas angin di sudut ruangan mewarnai wajah-wajah sumringah karena keinginan naik haji sebentar lagi terwujud. 


Di tengah ruangan itu, Eye Sunarya (54), atau yang akrab disapa Wa Mumu, berdiri berdampingan dengan sang istri, Siti Mariah (48).

 Di depan mereka, koper haji berwarna merah putih tersusun rapi. Sorot matanya tenang, tapi menyimpan perjalanan panjang yang tak sederhana.


Pada 25 April, pasangan ini akan masuk asrama haji di Indramayu, dan berangkat dari BIJB Kertajati pada 26 April menuju tanah suci Mekkah dengan kloter 06 asal Majalengka.

 Perjalanan yang bagi banyak orang mungkin biasa, namun bagi Wa Mumu adalah puncak dari puluhan tahun ketekunannya dalam menabung.

Baca juga: Bukan Hanya Renovasi, Kisah Lahirnya Musala Faridhatul Ilmi Polsek Losari yang Sempat Terbengkalai


Jauh sebelum koper itu berdiri di ruang tamu, Wa Mumu telah lebih dulu 'memikul hidupnya'.

Sejak lulus Sekolah Dasar pada 1981, ia menekuni profesi sebagai pedagang boboko dan anyaman bambu.

Dagangannya dipikul, berjalan kaki dari kampung ke kampung di wilayah Palasah hingga Leuwimunding.

Di saat pedagang lain mulai beralih ke kendaraan bermotor, ia tetap setia pada langkah kaki.


“Setiap hari saya berkeliling membawa boboko dan anyaman bambu. Saya ambil dari saudara yang menjadi pengrajin, lalu saya jual ke kampung-kampung,” tuturnya, Jumat (24/4/2026).

EYE DAN MARIAH - Eye Sunarya (54), atau yang akrab disapa Wa Mumudddw
EYE DAN SITI MARIAH - Eye Sunarya (54), atau yang akrab disapa Wa Mumu, (kiri) berdiri berdampingan dengan sang istri, Siti Mariah (48) (kanan) saat di kediamannya di Palasah, Majalengka

Setelah sekitar lima tahun berjualan di kampung halaman, Wa Mumu kemudian merantau ke wilayah Purwakarta dan melanjutkan usahanya hingga sekarang bersama sang istri berjualan boboko. 


Penghasilan yang ia bawa pulang sering kali jauh dari cukup. Namun, ia tetap sabar dan menerima.

Tahun 2013, di tengah penghasilan sekitar Rp30.000 per hari, ia memberanikan diri mendaftar haji bersama istrinya. 


"Saya niatkan, bismillah, waktu itu, daftar, dan Alhamdulillah, semoga lancar dan bisa menunaikan ibadahnya dengan baik," kata Mumu. 


Sejak saat itu, ia menyisihkan Rp10.000 setiap hari. Tanpa jeda, tanpa alasan.

Separuh untuk hidup hari ini, separuh untuk masa depan yang bahkan belum ia lihat bentuknya.


Bagi warga sekitar, keberangkatan Wa Mumu bukan sekadar ibadah, tapi cerita yang tumbuh bersama mereka.


“Pak Mumu itu orangnya sabar dan ulet. Dari dulu memang sudah punya niat kuat untuk berhaji. Kami ikut bangga akhirnya bisa terwujud,” ujar H. Rega (57), tetangganya.


Wiwi (50) melihatnya dari sisi yang lebih dekat—sebagai rutinitas yang tak pernah berubah.

Baca juga: Analisis Mantan Agar Persib Bandung Bisa Kalahkan Arema FC Malam Nanti


“Setiap hari keliling, tetap semangat. Ini jadi contoh bagi kami semua bahwa kerja keras dan konsistensi itu penting,” katanya.


Sementara itu, kerabatnya, Pepeh (38), menyebut kunci keberhasilan itu sederhana, tapi jarang dilakukan.


“Penghasilannya memang tidak besar, tapi beliau konsisten menabung. Itu yang membuat kami kagum,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.