WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Peristiwa tragis yang menimpa dua asisten rumah tangga (ART) di Jalan Walahar Buntu, Bendungan Hilir (Benhil), Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Rabu (22/4/2026) malam, menyisakan duka.
Dua ART perempuan dilaporkan melompat dari sebuah rumah kos berlantai empat.
Akibat kejadian tersebut, satu korban meninggal dunia, sementara satu korban lainnya mengalami luka serius berupa patah tangan.
Pantauan di lokasi pada Jumat (24/4/2026) siang menunjukkan, rumah kos tersebut berada di area gang sempit dan buntu.
Baca juga: Kesaksian Ketua RW Benhil, Dua ART Sempat Merintih Usai Terjatuh dari Lantai 4
Lingkungan sekitar terbilang sepi, minim penerangan, terutama pada malam hari.
Bangunan rumah tampak berpagar besi berwarna hitam dengan model teralis, sehingga bagian teras masih bisa terlihat dari luar.
Di halaman depan hanya terlihat satu unit mobil terparkir.
Di titik kejadian, polisi memasang tanda berupa bulatan bernomor 1 dan 2 sebagai penanda lokasi jatuhnya kedua korban.
Baca juga: Kesaksian Ketua RW Bendungan Hilir Jakpus Temukan Jasad 2 ART setelah Terjun dari Lantai 4 Rumah Kos
Meski penyelidikan masih berlangsung, suasana di sekitar lokasi tampak nyaris tanpa aktivitas.
Hanya sesekali terlihat kurir paket yang datang silih berganti, serta beberapa warga yang melintas untuk membeli sayur dari gerobak.
Meski terdapat pos sekuriti di bagian depan rumah, tidak terlihat petugas yang berjaga.
Dari depan, bangunan tidak terlihat memiliki empat lantai, namun dari samping, terlihat jelas struktur bangunan yang menjulang hingga empat tingkat.
Baca juga: Dua ART Lompat dari Lantai 4 di Benhil, Satu Tewas, Polisi Periksa Majikan
Pada lantai satu hingga lantai tiga, terlihat deretan kamar kos dengan koridor di bagian depan.
Sementara lantai paling atas dibatasi tembok dengan tambahan teralis besi di bagian tengahnya.
Akses jalan di sekitar rumah juga terbatas, sebab jalan di depan dan samping bangunan merupakan jalan buntu.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih mendalami penyebab pasti peristiwa tersebut, termasuk kemungkinan adanya faktor lain yang melatarbelakangi aksi nekat kedua korban.
Penjelasan Ketua RW
Ketua RW02, Syahruddin, mendapat laporan warga dan langsung menuju lokasi.
Saat tiba di lorong sempit dengan pencahayaan minim, ia mendapati kedua korban masih dalam kondisi hidup meski mengalami luka serius.
"Dua-duanya saat itu masih hidup," kata Syahrudin.
Menurutnya, salah satu korban sempat merintih kesakitan.
Di sekitar lokasi juga ditemukan beberapa tas berisi pakaian milik korban.
Warga kemudian menghubungi layanan darurat 119 untuk meminta bantuan evakuasi.
Syahrudin dan warga tidak berani memindahkan korban karena khawatir salah angkat.
Kedua korban selanjutnya dilarikan ke RSAL Mintohardjo.
Namun, salah satu korban dilaporkan meninggal dunia setelah mendapat penanganan medis.
"Di RSAL, sempat ditindak enggak berhasil diselamatkan," katanya.
Syahruddin tidak mengenal kedua korban dan menyebut aktivitas di rumah kos tersebut sangat tertutup, bahkan tidak pernah dilaporkan ke pengurus lingkungan.
Hingga kini, polisi masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Kepala Satuan Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra mengatakan, kedua korban berinisial D (18) dan R (30).
Keduanya diduga melompat dari lantai empat rumah kos saat hendak melarikan diri dari tempat kerja.
"Betul (hendak kabur), informasi awalnya begitu," kata Roby.
Akibat kejadian tersebut, korban D meninggal dunia, sedangkan R mengalami patah tangan dan masih menjalani perawatan.
Meski masih dalam kondisi syok, R telah memberikan keterangan awal kepada polisi.
Ia mengaku nekat kabur karena tidak tahan dengan perilaku majikan.
"(Majikan) Galak, bisa omongan, bisa saja dengan tindakan," kata Roby. (m27)