Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Beta Misutra
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, secara resmi membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bengkulu, Jumat (24/4/2026).
Dalam arahannya, Menag menegaskan pesan tegas kepada jajaran aparatur agar menjaga integritas dan etos kerja, seraya mengingatkan bahwa meski bukan malaikat, aparatur Kemenag tidak boleh bekerja seperti iblis.
Kegiatan Rakerwil yang digelar di Bengkulu ini menjadi momentum konsolidasi arah kebijakan sekaligus refleksi internal bagi seluruh jajaran Kementerian Agama di daerah.
Dari pantauan di lokasi, acara dihadiri oleh berbagai unsur penting, mulai dari pejabat daerah, tokoh agama, hingga perwakilan satuan kerja Kemenag se-Provinsi Bengkulu.
Tegaskan Peran Strategis Kementerian Agama
Dalam sambutannya, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Kementerian Agama memiliki posisi strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Selama Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 masih menjadi dasar negara, selama itu pula Kementerian Agama akan tetap berdiri,” ujarnya.
Namun di sisi lain, ia mengakui bahwa ekspektasi masyarakat terhadap Kementerian Agama sangat tinggi, bahkan cenderung tidak realistis.
“Ekspektasi masyarakat kepada Kementerian Agama itu seperti kepada malaikat. Tidak boleh salah. Sekali salah, langsung sensitif,” katanya.
Peringatan Tegas Soal Etos Kerja
Di tengah ekspektasi tersebut, Menag menyampaikan peringatan tegas kepada seluruh aparatur. Ia mengingatkan bahwa bekerja di Kementerian Agama tidak hanya soal administrasi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab moral dan spiritual.
“Kita memang bukan malaikat. Tapi jangan sampai kita bekerja seperti iblis,” tegasnya di hadapan peserta Rakerwil.
Menurutnya, setiap pekerjaan yang dilakukan aparatur Kemenag tidak hanya dipertanggungjawabkan kepada pimpinan, tetapi juga kepada Tuhan.
“Risiko kita bukan hanya mempertanggungjawabkan pekerjaan kepada Presiden, tetapi juga kepada Allah SWT. Tugas kita adalah mendekatkan manusia kepada agamanya,” ujarnya.
Ikhlas Beramal Bukan Sekadar Slogan
Menag juga menyoroti kembali jargon “Ikhlas Beramal” yang selama ini melekat pada Kementerian Agama. Ia menegaskan bahwa nilai tersebut harus diimplementasikan secara nyata dalam setiap pekerjaan.
“Ikhlas itu ketika tangan kanan bekerja, tangan kiri tidak perlu tahu. Tidak perlu diumumkan, tidak perlu dipuji,” katanya.
Sementara itu, konsep “beramal” menurutnya bukan sekadar aktivitas rutin, tetapi kerja yang terukur dengan hasil yang jelas.
“Amal itu kerja yang punya perhitungan: ada input, output, dan outcome,” tambahnya.
Ingatkan Bahaya Gratifikasi
Dalam arahannya, Nasaruddin Umar juga mengingatkan bahaya praktik gratifikasi yang kerap dianggap sepele oleh sebagian aparatur.
“Jangan tergoda dengan amplop yang tipis. Itu yang bisa menjerumuskan kita. Apa pun yang haram masuk ke dalam tubuh kita, hanya api neraka yang bisa membersihkannya,” ujarnya tegas.
Ia juga mengingatkan agar aparatur tidak terjebak dalam keinginan untuk populer.
“Jangan mabuk pujian. Jangan mengejar popularitas. Itu pintu masuknya godaan setan,” katanya.
Hadapi Tantangan Zaman dan Disrupsi Informasi
Mengangkat tema Rakerwil “Mempersiapkan Umat Masa Depan Provinsi Bengkulu”, Menag menilai bahwa tantangan zaman saat ini semakin kompleks dengan hadirnya teknologi dan arus informasi yang cepat.
Menurutnya, fenomena multiple shock atau kejutan berlapis menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi.
“Kementerian Agama harus hadir untuk mendekatkan jarak antara teks dan konteks itu,” ujarnya.
Ia juga menyoroti distorsi informasi di ruang publik, di mana kebenaran seringkali tertutup oleh kepentingan tertentu.
“Yang salah bisa terlihat benar, dan yang benar bisa terlihat salah. Ini tantangan kita semua,” katanya.
Tekankan Kebijaksanaan dan Eco-Theology
Menutup arahannya, Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya kebijaksanaan dalam menghadapi dinamika kehidupan.
“Kita kaya orang pintar, tapi masih kurang orang arif. Jangan sampai pendidikan melahirkan orang pintar yang justru menjadi masalah,” ujarnya.
Ia juga kembali menekankan pentingnya pendekatan eco-theology, yakni tanggung jawab keagamaan yang tidak hanya menyentuh manusia, tetapi juga lingkungan.
“Agama tidak hanya bicara manusia, tapi juga alam. Kalau ini dijaga, Indonesia bisa menjadi tempat yang nyaman, bahkan seperti surga,” tutupnya.
Dihadiri Berbagai Unsur Penting
Rakerwil Kemenag Bengkulu ini turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, pimpinan perguruan tinggi keagamaan, tokoh agama, pimpinan lembaga keagamaan, hingga jajaran Forkopimda.
Selain itu, peserta dari seluruh satuan kerja Kementerian Agama se-Provinsi Bengkulu juga mengikuti kegiatan ini, baik secara langsung maupun daring.
Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat arah kebijakan serta meningkatkan kualitas pelayanan Kementerian Agama kepada masyarakat, khususnya di Provinsi Bengkulu.