300 Tobong Batu Bata Mati Suri, Warga Pubian Kehilangan Penghasilan Akibat Tambang Ditutup
taryono April 24, 2026 02:19 PM

 

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Penutupan tambang galian C yang selama ini menjadi sumber utama bahan baku batu bata di Kecamatan Pubian, Kabupaten Lampung Tengah, membawa dampak serius bagi perekonomian warga.

Dalam dua bulan terakhir, ratusan tungku pembakaran (tobong) bata di Kampung Payung Batu dilaporkan berhenti beroperasi. Sekitar 300 tobong kini mati suri akibat sulitnya memperoleh tanah sebagai bahan baku utama.

Penertiban yang dilakukan pemerintah terhadap aktivitas tambang yang dinilai ilegal membuat para perajin kehilangan akses terhadap material produksi.

Padahal, lebih dari 70 persen warga Kampung Payung Batu menggantungkan hidup pada industri batu bata dan genteng.

Selama ini, usaha tersebut menjadi tulang punggung ekonomi desa sekaligus menyerap banyak tenaga kerja lokal.

Kondisi di lapangan menunjukkan aktivitas produksi nyaris berhenti total. Area penjemuran bata tampak terbengkalai dan mulai ditumbuhi rumput.

Sementara itu, peralatan produksi seperti mesin molen dibiarkan tak terpakai hingga berkarat.

Suyono, pemilik tobong bata di kampung tersebut, mengatakan dirinya bersama para pekerja telah menganggur selama dua bulan terakhir.

“Sudah dua bulan kami tidak beroperasi karena bahan baku tidak ada. Biasanya kami mengambil tanah dari lokasi yang sekarang ditutup. Dalam satu tobong bisa ada 20 sampai 25 pekerja, sekarang semuanya tidak bekerja,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Menurut Suyono, kondisi ini membuat para pekerja kehilangan penghasilan tanpa adanya alternatif pekerjaan yang memadai.

“Kalau tidak ada pekerjaan, ya hanya mengisi waktu seadanya. Kami berharap pemerintah bisa memberikan solusi agar kami bisa kembali berproduksi seperti dulu,” katanya.

Ia juga berharap Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan tersebut, mengingat usaha batu bata telah menjadi sumber penghidupan warga selama puluhan tahun.

Dampak penutupan tambang galian C tidak hanya dirasakan oleh para perajin batu bata. Warga di wilayah lain juga mengalami kesulitan serupa.

Suratman, warga Kampung Sirabaya, Kecamatan Padang Ratu, mengaku kesulitan mendapatkan pasir untuk pembangunan rumahnya.

Akibat kelangkaan material tersebut, proses pembangunan rumahnya terpaksa terhenti selama lebih dari dua bulan.

“Saya sudah berusaha mencari pasir, tapi sejak tambang ditutup tidak ada yang berani beroperasi. Akibatnya, pembangunan rumah saya terbengkalai,” ujarnya.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.