Banyumas Surplus Beras 87 Ton Meski Kondisi PH Tanah Kurang Ideal
khoirul muzaki April 24, 2026 03:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BANYUMAS- Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Banyumas, Arif Sukmo Buwono mengungkapkan, Kabupaten Banyumas sampai saat ini masih berada dalam kondisi surplus beras. 

Dari 126,000 ton kebutuhan, Banyumas dapat memproduksi 213,881 ton dengan surplus 87,881 ton. 


Dengan asumsi kebutuhan konsumsi sekitar 70 kilogram per orang per tahun, produksi yang ada dinilai masih mencukupi.


Indeks pertanaman padi di Banyumas tercatat sekitar 2,1 kali dalam setahun. 


Artinya, rata-rata petani melakukan dua kali masa tanam, dengan tambahan kecil di sebagian lahan dari total sekitar 30 ribu hektare.


Namun demikian, produktivitas saat ini masih berada di kisaran 5,4 hingga 5,6 ton per hektare. 


Padahal, potensi hasil panen bisa mencapai 6,7 ton bahkan hingga 8 ton per hektare.


"Artinya masih ada ruang besar untuk kita tingkatkan," kata Arif. 

Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah kondisi tanah. Rata-rata pH tanah di Banyumas masih di bawah 5,5, yang tergolong kurang ideal untuk pertanian. 


Kondisi optimal seharusnya berada pada kisaran pH 6 hingga 7 agar tanaman dapat tumbuh maksimal.


Penurunan kualitas tanah ini terjadi akibat akumulasi penggunaan pupuk dalam jangka panjang. 


Untuk mengatasinya, Pemkab Banyumas telah mencanangkan Gerakan Pertanian Ramah Lingkungan (Geramling) sejak tahun 2025.


Apabila kualitas tanah, benih, dan intensitas tanam dapat ditingkatkan hingga tiga kali dalam setahun, Arif meyakini surplus produksi akan meningkat signifikan.

Baca juga: PSIS Bakal Mati-matian, Kendal Tornado FC Ngotot Jaga Peluang Promosi ke Liga 1

Bangun Pabrik Tepung

Surplus tersebut tidak hanya bisa menopang kebutuhan nasional, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi produk turunan seperti tepung beras.


"Makanya kami minta Agrinas bisa mendirikan pabrik tepung di Banyumas," tegasnya.


Ia juga menyoroti perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama generasi muda yang mulai beralih ke produk berbasis tepung seperti roti. 


Kondisi ini membuat kebutuhan tepung beras diprediksi akan meningkat di masa depan.


Di sisi lain, peningkatan produksi juga menghadapi tantangan biaya yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan tenaga kerja yang sebagian besar sudah berusia lanjut.


Akibatnya, proses produksi menjadi lebih lambat dan mahal.


Untuk itu, mekanisasi pertanian menjadi solusi utama. 


Penggunaan alat modern dinilai mampu memangkas biaya sekaligus mempercepat proses kerja.


Contohnya pada pembuatan galengan atau pematang sawah yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.


"Kalau pakai tenaga manusia, lama dan mahal. Kita dorong agar ada pabrik alat mesin pertanian, termasuk untuk pembuatan galengan," ujarnya.


Ia menjelaskan, kehadiran industri alat mesin pertanian seperti transplanter, traktor, alat pembuat guludan, mini combine harvester hingga ekskavator akan mempercepat pembangunan jaringan irigasi tersier.


Selain itu, proses produksi pertanian juga akan menjadi lebih efisien dan mampu menyerap tenaga kerja secara lebih optimal.


Dengan adanya kolaborasi bersama PT Agrinas, Arif berharap transfer teknologi dapat dilakukan secara masif dan lebih cepat.


"Kalau ini disetujui, prosesnya akan jauh lebih cepat dibanding sebelumnya," pungkasnya. (jti) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.