Selanjutnya ada Roberto Mancini tanggapi dingin peluang melatih Timnas Italia.
Hingga Mbappe ngode ingin Jose Mourinho kembali ke Real Madrid.
Berikut selengkapnya:
Italia dengan tegas menolak wacana menggantikan Iran di ajang Piala Dunia 2026.
Usulan tersebut dinilai tidak realistis dan justru dianggap menyinggung harga diri sepak bola Italia.
Italia merasa terhina dengan ide untuk menggantikan Iran.
Gagasan ini sebelumnya dilontarkan oleh Paolo Zampolli, yang menyarankan kepada Donald Trump dan Gianni Infantino agar Italia dipertimbangkan sebagai pengganti Iran jika negara tersebut batal tampil.
Paolo Zampolli dikenal sebagai Utusan Khusus Amerika Serikat (AS) untuk Kerja Sama Global.
Menurut Zampolli, sarannya itu bukanlah permintaan politis, tetapi sebuah rencana darurat jika Iran tak bisa berpartisipasi di Piala Dunia 2026 pada saat-saat terakhir.
Namun Iran dilaporkan belum mundur dari Piala Dunia 2026, dan tim tersebut sedang dalam masa persiapan meski tengah berperang melawan AS di Timur Tengah.
"Saya memiliki mimpi. Permintaan saya adalah untuk Rakyat Italia dan warga Amerika-Italia," kata Zampolli, Rabu (22/4/2026), dikutip dari kompas.tv.
Zampolli beralasan, Italia memiliki sejarah besar di Piala Dunia dengan empat gelar juara, sehingga dinilai layak jika diberi kesempatan tampil apabila terjadi kondisi darurat.
Baca juga: Alasan Utusan Donald Trump Minta ke FIFA agar Italia yang Gantikan Iran di Piala Dunia 2026
Namun, pandangan ini langsung menuai reaksi keras dari berbagai pihak di Italia.
Menteri Olahraga Andrea Abodi mengatakan usulan untuk menggantikan di Piala Dunia 2026 tidak mungkin terwujud.
"Pertama, itu tak mungkin. Yang kedua, jelas bukan ide bagus," kata Menteri Olahraga Andrea Abodi, Kamis (24/4/2026).
Bahkan, sejumlah pejabat olahraga Italia merasa terhina dengan ide untuk menggantikan Iran.
"Saya akan merasa terhina. Anda harus pantas untuk ke Piala Dunia," ujar Presiden Komite Olimpiade Italia, Luciano Buonfiglio.
Sedangkan Menteri Keuangan Italia, Giancarlo Giorgetti, menyebuat usulan tersebut merupakan hal yang memalukan.
Diketahui Italia harus menerima kenyataan pahit setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2026.
Mereka tersingkir melalui babak play-off usai kalah adu penalti dari Bosnia-Herzegovina.
Kegagalan ini memperpanjang absennya Italia dari turnamen terbesar sepak bola dunia, setelah sebelumnya juga tidak tampil dalam dua edisi terakhir.
Situasi ini semakin menegaskan jalan menuju Piala Dunia harus ditempuh melalui perjuangan di lapangan, bukan melalui penunjukan atau penggantian.
Baca juga: Antonio Conte Tergoda Loker Pelatih Timnas Italia, Napoli Sudah Ikhlas Lahir Batin
Atas kegagalan itu, kesedihan mendalam pun sempat menerpa para pemain, termasuk Kapten Timnas Italia, Gianluigi Donnarumma.
Ia menangis usai timnya gagal tampil di Piala Dunia 2026.
Melalui unggahan di media sosial pribadinya, mantan kiper AC Milan itu mengungkapkan kesedihan mendalam yang ia rasakan usai pertandingan.
“Tadi malam, setelah pertandingan, saya menangis. Saya menangis karena kekecewaan karena tidak mampu membawa Italia ke tempat yang seharusnya,” tulis Donnarumma, dilansir dari BolaSport.com.
Ia juga menyebut kesedihan tersebut tidak hanya dirasakannya sendiri, tetapi juga seluruh pemain dan pendukung Italia yang berharap tim kebanggaan mereka kembali tampil di panggung dunia.
“Saya menangis karena kesedihan yang luar biasa yang saya rasakan, bersama seluruh tim Azzurri, dan saya tahu saat ini para penggemar juga merasakannya,” lanjutnya.
Dengan kegagalan ini, Donnarumma dipastikan harus menunggu hingga usia 31 tahun untuk kembali mencoba tampil di Piala Dunia, yakni pada edisi 2030 mendatang.
Baca juga: Isu Skandal Timnas Italia, Belum Lolos Piala Dunia 2026 Pemain Sudah Tanya Bonus
Meski demikian, penjaga gawang yang kini memperkuat Manchester City tersebut mengajak rekan-rekannya untuk bangkit dan tidak larut dalam kekecewaan.
“Kata-kata memang tidak banyak gunanya sekarang. Tetapi setelah kekecewaan yang begitu besar, kita harus menemukan keberanian untuk membuka lembaran baru,” ujarnya, dilansir dari BolaSport.com.
Sebagai kapten tim, Donnarumma menegaskan pentingnya kebersamaan dan keyakinan untuk membawa Italia kembali ke jalur kemenangan di masa depan.
Kegagalan Italia ini juga membuat sejumlah bintang besar harus absen dari Piala Dunia 2026.
Selain Donnarumma, nama-nama seperti Manuel Locatelli, Nicolo Barella, Sandro Tonali, hingga Moise Kean dipastikan tidak akan tampil di turnamen tersebut.
Tak hanya dari Italia, sejumlah pemain top dunia seperti Robert Lewandowski, Victor Osimhen, dan Dominik Szoboszlai juga harus mengubur mimpi tampil setelah negara mereka gagal melewati babak kualifikasi.
Kursi kosong pelatih Timnas Italia kini menjadi bola liar.
Bahkan Roberto Mancini bungkam dengan peluang dirinya melatih Timnas Italia.
Posisi pelatih Timnas Italia kini telah ditinggalkan oleh Gennaro Gattuso.
Hal itu setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026.
Baca juga: AC Milan Putar Otak Pertahankan Allegri usai Diisukan Bakal Jadi Pelatih Timnas Italia
Sejumlah nama pelatih top masuk dalam bursa calon pengganti, termasuk Antonio Conte dan Massimiliano Allegri yang disebut sebagai kandidat terdepan.
Conte bahkan secara terbuka mengakui ketertarikannya untuk kembali menangani Gli Azzurri, mengingat ia pernah melatih tim tersebut pada periode 2014–2016.
Namun, di tengah ramainya spekulasi, nama Roberto Mancini juga ikut mencuat menjadi kandidat pelatih.
Sosok yang pernah membawa Italia juara Euro 2020 itu disebut-sebut tertarik kembali ke kursi pelatih tim nasional.
Mancini baru-baru ini kembali ke Coverciano, pusat pelatihan timnas Italia, untuk menghadiri acara penghargaan "Inside the Sport 2026".
Dalam kesempatan tersebut, ia sempat berbicara soal kondisi sepak bola Italia, termasuk kegagalan terbaru tim nasional.
Ia mengakui hasil buruk seperti kegagalan lolos ke Piala Dunia adalah bagian dari sepak bola.
"Ada saatnya segalanya berjalan baik, ada juga saatnya tidak. Itu bagian dari olahraga. Kita harus terus bekerja keras," kata Mancini.
Ia tetap optimistis dengan masa depan Italia, menyoroti munculnya pemain-pemain muda potensial yang diyakini bisa mengangkat kembali prestasi tim nasional.
"Orang yang paling mengesankan saya adalah Palestra. Cancellieri juga memiliki kualitas hebat, tidak banyak yang dikatakan tentang dia. Ada pemain bagus," kata Mancini.
Namun, ketika ditanya langsung soal kemungkinan kembali melatih Italia, Mancini justru memilih bungkam.
Respons Mancini justru singkat dan anyep alias dingin.
Saat ditanya soal peluang kembali, ia menolak membahasnya.
"Saya di sini untuk menerima penghargaan, bukan untuk membicarakan hal lain. Pertanyaan berikutnya?" ujarnya.
Sikap ini kontras dengan laporan sebelumnya yang menyebutkan dirinya cukup percaya diri bisa masuk dalam daftar kandidat utama, terutama jika terjadi perubahan kepemimpinan di federasi FIGC.
Pada pertengahan 2025 lalu, Mancini juga pernah mengungkapkan penyesalannya meninggalkan Italia, yang kemudian direspons santai oleh Gabriele Gravina saat masih menjabat Presiden FIGC kala itu.
Namun kini, Gravina sendiri sudah tak menjabat, dan kandidat kuatnya mengarah pada Giovanni Malago, yang memiliki kedekatan dengan Mancini.
Saat ini, Mancini masih terikat kontrak dengan Al-Sadd di Liga Qatar, di mana timnya kini berada di ambang juara.
Mancini menegaskan fokusnya adalah menyelesaikan musim bersama klub tersebut.
Saat kembali didesak soal rencana karier berikutnya setelah kontraknya bersama Al-Sadd berakhir, Mancini kembali memilih meredam spekulasi.
"Saya harus menyelesaikan musim. Kadang telepon berbunyi, tapi biasanya itu anak-anak saya," ujarnya.
Al Sadd kini memimpin klasemen Liga Qatar, unggul dua poin dari rival terdekat Al Shamal.
Liga hanya menyisakan satu laga, dan kemenangan di laga terakhir itu akan membuat Al Sadd juara.
Hingga saat ini belum ada indikasi jelas apakah Mancini benar-benar tertarik kembali atau tidak.
Sikapnya yang enggan membahas secara terbuka justru menambah spekulasi di tengah ketidakpastian kursi pelatih Timnas Italia.
Kedekatannya dengan sejumlah petinggi sepak bola Italia disebut bisa menjadi faktor penting.
Dan yang pasti, keputusan federasi akan sangat menentukan arah kebangkitan Gli Azzurri setelah kegagalan tiga kali lolos Piala Dunia.
Kylian Mbappe bak memberi kode agar Jose Mourinho kembali melatih Real Madrid.
Memang Real Madrid kini sedang mencari pelatih anyar.
Meski Real Madrid kini masih ditukangi oleh Alvaro Arbeloa.
Tapi statusnya masih pelatih interim.
Baca juga: Pemain Real Madrid Disindir Berlagak Bos Besar usai Disingkirkan Bayern Munich
Klub yang berbasis di ibu kota Spanyol itu telah menunjukkan gelagat enggan menjadikannya sebagai pelatih permanen musim depan.
Hal ini tak lepas dari rentetan hasil minor yang didapatnya sejak menduduki kursi yang ditinggalkan Xabi Alonso.
Di tangan Arbeloa, Real Madrid justru harus tersingkir di perempat final Liga Champions dan terancam gagal meraih gelar Liga Spanyol.
Kondisi ini membuat El Real berencana mencari pelatih baru yang akan ditunjuk untuk menukangi tim mulai musim depan.
Dalam pencariannya, Los Merengues mendapat tawaran dari superagen asal Portugal, Jorge Mendes, untuk merekrut Jose Mourinho.
Siapa sangka, rumor ini kemudian mendapat restu dari Kylian Mbappe selaku salah satu megabintang pujaan Madridista.
Restu ini didapat Mourinho setelah Mbappe menunjukkan aktivitas media sosialnya di akun Instagram @Score90.
Akun tersebut mengunggah foto Mourinho bersama Mesut Ozil dan Cristiano Ronaldo di Real Madrid pada 2012.
Lalu, di bawah foto tersebut, ada foto The Special One bersama Mbappe dan Arda Guler dengan keterangan di tahun 2026.
Foto ini kemudian direspons oleh megabintang asal Prancis itu yang menyukai unggahan tersebut.
Aktivitas ini kemudian viral dan diyakini oleh banyak pihak jika Mbappe setuju bila Mourinho kembali ke Estadio Santiago Bernabeu.
Terlepas dari aktivitas Mbappe itu, Mourinho sendiri sempat membantah kemungkinan kembali melatih Los Merengues.
Pelatih berusia 63 tahun itu memilih menghormati kontraknya bersama Benfica yang masih tersisa satu tahun lagi.
"Satu-satunya hal yang pasti adalah saya masih memiliki sisa kontrak satu tahun dengan Benfica," kata Mourinho pada Februari 2026.
"Ada klausul yang bisa dengan mudah dilanggar oleh saya atau Benfica. Tidak ada klausul seperti itu sama sekali dengan Real Madrid," lanjutnya.
Sekadar informasi tambahan, Mourinho sempat menukangi Los Blancos selama tiga musim pada 2010–2013.
Selama tiga musim menukangi El Real, eks pelatih Chelsea itu memimpin 178 pertandingan di segala ajang.
Dari 178 pertandingan itu, Mourinho meraih 127 kemenangan, 28 hasil imbang, dan 23 kekalahan.
Selama tiga musim menukangi Real Madrid, dia mampu mempersembahkan satu gelar Liga Spanyol, Copa del Rey, dan Piala Super Spanyol.