TRIBUN-VIDEO - Eskalasi konflik di Timur Tengah yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran mulai berdampak pada aset strategis Indonesia.
Dua kapal tanker milik Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz akibat proses negosiasi perizinan dilaporkan tersendat, sementara aspek operasional kapal juga ikut disorot publik.
Tertahannya kapal ini menjadi perhatian serius mengingat Selat Hormuz merupakan urat nadi energi dunia.
Dinamika di kawasan ini tidak hanya memengaruhi stabilitas ekonomi regional, tetapi juga mengancam ketahanan pasokan energi nasional.
Pakar kemaritiman Siswanto Rusdi menilai, ada kelemahan dalam pendekatan diplomasi Indonesia dalam negosiasi dengan Iran untuk mendapat izin agar kapal Indonesia bisa melewati Selat Hormuz.
Menurutnya, para diplomat Indonesia perlu memahami karakter pengambilan keputusan di Iran yang sangat bergantung pada restu pimpinan tertinggi, terutama dalam situasi darurat militer.
Hal itu disampaikannya dalam wawancara khusus dalam program On Focus Tribunnews, yang dikutip dari kanal YouTube Tribunnews, Jumat (24/4/2026).
"Yang menjadi kelemahan kita bernegosiasi dengan Iran, pejabat Kemlu, diplomat kita tidak mengerti karakter Iran ini. Iran itu apa-apa tergantung pemimpinnya," unjar Siswanto.
Saksikan wawancara selengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!