TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Sejumlah sekolah pelosok di Desa Banyuwulu dan Desa Gubrih, Kecamatan Wringin, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, rusak cukup parah.
Di SDN Banyuwulu 2, siswa kelas VI terpaksa menjalani kegiatan belajar di ruang laboratorium selama empat tahun terakhir. Hal ini terjadi karena ruang kelas utama mereka dalam kondisi rusak berat dan berpotensi ambruk.
Baca juga: Gerai dan Truk Koperasi Merah Putih Bondowoso Diserahkan Bertahap, Operasional Tunggu Juknis
Kepala SDN Banyuwulu 2, Miskali, mengungkapkan bahwa kerusakan tersebut sudah terjadi sejak dirinya mulai menjabat pada 2023.
"Sampai sekarang," jelasnya.
Meski fasilitas terbatas, semangat belajar siswa tetap tinggi. Dari total delapan siswa kelas VI (enam laki-laki dan dua perempuan) sebagian harus berjalan kaki hingga 4 kilometer untuk bisa bersekolah.
"Ada yang jalan kaki, ada yang diantar motor," ujarnya saat mendampingi kunjungan Bupati dan Wakil Bupati Bondowoso, Jumat (24/4/2026).
Baca juga: Sehari Bersama Bupati dan Wabup Bondowoso, Sapa Warga di Pelosok Biser Wringin
Kerusakan diduga disebabkan oleh pergeseran pondasi bangunan. Hal ini disampaikan Fauzan Adima, wali kelas V SDN Banyuwulu 2.
"Empat tahun sudah tidak dipakai," jelasnya.
Kondisi serupa juga terjadi di SDN Banyuwulu 4. Salah satu ruang kelas di sekolah tersebut bahkan harus disangga menggunakan bambu untuk mencegah keruntuhan.
Bupati Bondowoso, Abdul Hamid Wahid, meninjau langsung lokasi dan meminta pihak sekolah untuk tidak memaksakan penggunaan ruang kelas yang berisiko membahayakan keselamatan siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Bondowoso, Taufan Restuanto, mengakui bahwa persoalan infrastruktur pendidikan di daerah tersebut masih menjadi tantangan besar.
Ia menyebut, SDN Banyuwulu 4 saat ini memiliki 69 siswa SD dan 15 siswa SMP, sedangkan SDN Banyuwulu 2 menampung sekitar 56 siswa.
"Banyuwulu 2 dan Banyuwulu 4 kondisinya mengenaskan," ujarnya.
Baca juga: 41 Truk Didistribusikan untuk Koperasi Merah Putih di Bondowoso
Selain kerusakan fisik bangunan, akses menuju sekolah juga menjadi kendala. Beberapa tenaga pendidik harus menempuh perjalanan jauh setiap hari. Bahkan, Kepala SDN Banyuwulu 4 harus menempuh waktu perjalanan hingga dua jam untuk sampai ke sekolah.
"Itu masalah utama juga, jika kita pindahkan siapa yang menggantikan," tambahnya.
Taufan menjelaskan revitalisasi SDN Banyuwulu 4 telah diusulkan sebagai prioritas utama. Jika belum terealisasi dalam waktu dekat, pihaknya akan mengupayakan perbaikan melalui Perubahan APBD (P-APBD) 2026.
Meski demikian, ia memastikan bahwa sekolah-sekolah tersebut tetap mendapatkan bantuan fasilitas penunjang.
"Bahkan sebentar lagi akan mendapat bantuan lagi dua unit," tambahnya.