Universitas Bengkulu Disiapkan Jadi Pusat Kopi, Rektor: Targetkan Lahirkan Barista Kelas Dunia
Rita Lismini April 24, 2026 07:54 PM

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Universitas Bengkulu (UNIB) didorong untuk menjadi pusat pengembangan kopi yang tidak hanya berfokus pada penelitian, tetapi juga penguatan sumber daya manusia di sektor tersebut.

Sebelumnya, pada Kamis 23 April 2026 Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy berdiskusi dengan pelaku dan petani kopi di Bengkulu bersama Rektor UNIB.

Rektor Universitas Bengkulu, Indra Cahyadinata, menyampaikan bahwa arahan tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, dalam kegiatan Dies Natalis UNIB.

Menurut Indra, konsep pengembangan yang diharapkan tidak sebatas menjadikan UNIB sebagai pusat riset kopi, tetapi juga mampu mencetak tenaga profesional, khususnya barista, yang siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

“Seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Menteri, targetnya bukan hanya sebagai pusat penelitian, tetapi juga menghasilkan barista yang siap bekerja, tidak hanya di Bengkulu atau Indonesia, tetapi juga di luar negeri,” ungkap Indra saat diwawancarai wartawan di Gedung Serba Guna (GSG), Jumat (24/4/2026).

Ia menambahkan, dengan langkah tersebut, diharapkan Bengkulu tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil kopi, tetapi juga sebagai daerah yang melahirkan barista berkualitas.

“Sehingga yang terkenal itu bukan hanya kopinya, tetapi juga baristanya berasal dari daerah kita,” tambah Indra.

Indra berharap rencana tersebut dapat segera direalisasikan melalui kerja sama antara Universitas Bengkulu dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu, serta dukungan dari pemerintah pusat.

“Mudah-mudahan ini dapat kita wujudkan melalui kerja sama dengan pemerintah provinsi dan tentu didukung oleh Bapak Menteri PPN/Bappenas,” tutup Indra.

Pengembangan Kopi di Bengkulu

Pengembangan komoditas kopi di Provinsi Bengkulu masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kualitas produksi di tingkat petani hingga akses pasar di sektor hilir.

Hal ini terungkap dalam forum diskusi soal hilirisasi kopi Bengkulu, bersama Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, di Serunai restaurant, Hotel Santika, Kota Bengkulu, Kamis (23/4/2026) malam.

Kegiatan itu dihadiri, Sekda Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni, Rektor Universitas Bengkulu, Indra Cahyadinata, Kepala BPS Bengkulu, Win Rizal, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, Kepala Bapperida (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan) Provinsi Bengkulu, Yuliswani serta pelaku dan petani kopi.

Salah seorang petani kopi asal Kepahiang, Wawan, mengungkapkan bahwa mayoritas petani masih menjual kopi dalam kondisi asalan, sehingga kualitasnya belum maksimal.

“Kalau sekarang, satu pohon itu produksinya masih sangat rendah. Bahkan belum sampai satu kilogram. Ke depan, kami berharap produktivitas bisa meningkat,” ungkap Wawan saat bertanya dalam diskusi, Kamis (23/4/2026).

Ia juga menyoroti bahwa kopi berkualitas tinggi seperti petik merah masih sangat sedikit di Bengkulu.

“Yang diolah barista itu tidak sampai 10 persen dari total produksi. Kebanyakan masih kopi asalan, kulit masih ada, biji pecah masih banyak,” jelas Wawan.

Wawan berharap adanya bantuan alat sortasi serta pendampingan berkelanjutan bagi petani.

“Kami tidak hanya butuh bantuan pupuk, tapi juga bimbingan agar bisa menghasilkan kopi berkualitas ekspor,” tambah Wawan.

Senada juga disampaikan, salah satu pengusaha kopi Kota Bengkulu, Abdul Khafi, menyoroti persoalan di sektor hilir, khususnya akses bahan baku dan persaingan dengan perusahaan besar.

“Kami butuh sortasi untuk mendapatkan biji kopi yang bebas dari cacat. Tapi masalahnya, perusahaan besar sudah lebih dulu masuk ke petani dengan modal besar,” kata Abdul.

Ia juga mengungkapkan bahwa kopi Bengkulu kerap tidak dikenal di pasar karena rantai distribusi yang tidak jelas.

“Sering kali kopi Bengkulu justru diklaim daerah lain, seperti Lampung, karena permainan tengkulak,” ujar Abdul.

Abdul Khafi berharap adanya intervensi konkret dari pemerintah untuk memperkuat pelaku usaha hilir.

“Kami siap ekspor, tapi perlu dukungan nyata, terutama dalam akses pasar dan infrastruktur,” tegas Abdul.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menekankan pentingnya kolaborasi antara petani, pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha.

“Kalau berjalan sendiri-sendiri, mungkin cepat, tapi tidak akan jauh. Dengan kelembagaan yang kuat, manfaatnya bisa lebih besar,” ujar Wahyu.

Ia mendorong pembentukan badan usaha milik petani kopi agar pengelolaan lebih terstruktur dan efisien.

Selain itu, penggunaan teknologi juga dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas.

“Kalau masih manual, produktivitas rendah. Dengan alat modern, hasil bisa jauh lebih optimal,” jelas Wahyu.

Sementara itu, Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, mendorong agar Bengkulu memiliki pusat pengembangan kopi terpadu.

“Semua praktisi kopi ini harus dikumpulkan. Bengkulu harus punya pusat kopi yang ke depan bisa menjadi rujukan dunia,” ujar Rachmat.

Ia bahkan menargetkan Bengkulu tidak hanya mengekspor biji kopi, tetapi juga sumber daya manusia.

“Kita harus bisa mengekspor barista. Dididik secara profesional, lalu disebarkan ke berbagai negara,” kata Rachmat.

Menurutnya, dengan penguatan ekosistem dari hulu hingga hilir, Bengkulu berpotensi menjadi pusat industri kopi yang diperhitungkan secara global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.