Disparbud Kediri Evakuasi Benda Yoni Diduga Peninggalan Pra Majapahit, Disimpan di Rumah Warga Duwet
Rendy Nicko April 24, 2026 08:50 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri melakukan evakuasi terhadap benda diduga artefak berupa yoni yang ditemukan warga di area persawahan Dusun Babadan Desa Duwet Kecamatan Wates, Selasa (21/4/2026) lalu. 

Evakuasi dilakukan setelah benda tersebut dipastikan memiliki nilai historis dan masuk kategori Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB). Sebelumnya, artefak tersebut berada di tengah lahan pertanian bekas tanaman padi milik warga dan berpotensi mengalami kerusakan.

Ketua Lembaga Adat Desa, Candra David Pratama mengungkapkan bahwa awalnya benda tersebut dikira hanya batu biasa oleh pemilik lahan.

"Awalnya dikira batu biasa. Setelah kami cek langsung di lokasi, bentuknya mengarah ke yoni, salah satu peninggalan budaya masa lampau," jelasnya, Jumat (24/4/2026).

Baca juga: Warga Protes Jalan Rusak di Garum Blitar, Tanam Pohon Pisang di Lubang Jalan

Artefak tersebut diketahui berada di tengah tanaman bekas padi. Setelah masa panen selesai, warga bersama dinas terkait dan perangkat desa memindahkannya ke lokasi yang lebih aman.

Proses pemindahan dilakukan secara gotong royong. Pemindahan dilakukan dengan hati-hati agar tidak menambah kerusakan pada struktur benda.

Dari hasil pemeriksaan awal, kondisi yoni tersebut tidak lagi utuh. Bagian pancuran air dilaporkan telah patah, begitu pula dengan bagian atas yang mengalami kerusakan. Beberapa bagian lain juga tidak ditemukan di sekitar lokasi penemuan.

Saat ini, benda tersebut disimpan sementara di rumah warga setempat untuk menjaga keamanannya sambil menunggu proses kajian lanjutan.

Sementara itu, Kepala Disparbud Kabupaten Kediri Mustika Prayitno Adi, menyampaikan bahwa langkah awal yang dilakukan adalah pembersihan serta verifikasi dimensi benda untuk memastikan statusnya sebagai ODCB.

Selain itu, pemindahan ke lokasi yang lebih aman dinilai penting guna mencegah kerusakan lebih lanjut, terutama akibat aktivitas pertanian di lokasi asal.

"Tidak harus dibawa ke museum kabupaten. Jika di desa dirasa cukup aman untuk penyimpanan ODCB, maka bisa tetap dikelola di tingkat desa, tergantung hasil kajian dari temuan tersebut," jelas Mustika.

Berdasarkan data awal, terdapat dua benda yoni berbahan batu andesit yang ditemukan di lokasi tersebut. Namun, keduanya dalam kondisi tidak utuh dan diduga mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia.

Adapun dimensi yoni pertama memiliki tinggi sekitar 70 cm, lebar atas 60 cm dan lebar bawah 70 cm, dengan lubang bagian atas berukuran 40 x 40 cm serta kedalaman 20 cm.

Sementara yoni kedua memiliki tinggi 60 cm dengan lebar 70 cm serta kedalaman lubang mencapai 40 cm dengan diameter 20 cm.

Batu Bata Kuno

Selain yoni, ditemukan pula bata kuno yang diduga merupakan bagian dari struktur bangunan irigasi masa lampau. Ukurannya bervariasi, mulai dari panjang 40 hingga 46 cm dengan ketebalan 8 hingga 10 cm.

Meski belum ditemukan penanda tahun pasti, bentuk dan langgam artefak diperkirakan berasal dari masa pra Majapahit. Keunikan bentuknya yang lebih tinggi dari yoni pada umumnya juga menjadi perhatian dalam proses identifikasi.

Penemuan ini menambah daftar temuan benda purbakala di lereng Gunung Kelud yang sebelumnya telah ditemukan beberapa artefak lain di kawasan yang sama.

(Isya Anshori/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.