TRIBUNJATIM.COM - Kondisi gaya hidup ekstrem ternyata dijalani oleh Kepala Pemerintahan Jepang, Sanae Takaichi.
Sebagai kepala pemerintahan "Negara Matahari Terbit", Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menghadapi masalah kurang tidur yang parah.
Dia bahkan hanya tidur dua sampai empat jam saban harinya.
Di balik hiruk-pikuk politik dan kesibukannya mengurus negara, Takaichi yang dikenal sebagai orang yang gila kerja alias workaholic mengaku mengalami kurang tidur yang ekstrem hingga kesulitan mengelola makanannya sendiri.
Melansir laporan Sankei Shimbun, curahan hati Takaichi ini terungkap saat dirinya bertemu dengan mantan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Liberal, Akira Amari, di kediaman resminya.
Dalam pertemuan tersebut, Amari sempat bertanya mengenai jam istirahatnya.
"Apakah Anda beristirahat dengan benar?" tanya Amari, sebagaimana dilansir The Chosun Daily, Jumat (24/4/2026), dikutip TribunJatim.com via Kompas.com, Jumat.
Takaichi lantas menjawab dengan jujur.
"Saya ingin tidur sedikit lebih lama," jawab Takaichi.
Baca juga: Jualan Cilok, Nenek Mislicha Bisa Tunaikan Ibadah Haji: Istiqomah Nabung Rp 10 Ribu Per Hari
Tak hanya soal waktu istirahat, PM Jepang ini juga mengeluhkan pola makannya sejak pindah ke kediaman resmi yang bersebelahan dengan kantor perdana menteri tersebut.
Dia mengaku kesulitan mengatur makanan di tengah jadwal yang padat dan akses yang terbatas.
"Makan itu hal yang sulit," ujar Takaichi.
Sebelumnya, pada Februari dia juga sempat membagikan tantangan makanan yang dihadapinya.
"Satu-satunya cara adalah makanan beku. Saya tidak bisa pergi keluar untuk membeli bahan makanan, jadi jika makanan beku habis, selesailah sudah," tuturnya.
Kondisi fisik Takaichi kian diperhatikan publik mengingat tanggung jawabnya di rumah.
Sejak Desember tahun lalu, dia tinggal di kediaman resmi bersama suaminya yang harus menggunakan kursi roda setelah menderita infark serebral.
Meski tidak memiliki anak, Takaichi secara langsung merawat suaminya di tengah kesibukan memimpin negara.
Hal inilah yang membuatnya dijuluki sebagai working carer.
Tuntutan kerja dan peran merawat ini berdampak pada waktu istirahatnya yang sangat minim.
Dalam sidang Majelis Nasional November tahun lalu, dia sempat memicu perhatian publik saat memaparkan durasi tidurnya.
"Waktu tidur saya akhir-akhir ini umumnya dua jam, dan bahkan pada hari-hari yang lebih panjang, hanya empat jam," ungkap Takaichi.
Baca juga: Apa itu Pearl Harbor? Peristiwa yang Disinggung Donald Trump saat Bertemu PM Jepang
Gaya hidup Takaichi yang kurang istirahat sebenarnya bukan hal baru.
Tahun lalu, dia sempat dikritik publik setelah menggelar rapat dengan para sekretaris pada pukul 03.00 pagi di kediaman resmi hanya untuk mempersiapkan jawaban bagi sidang Majelis Nasional.
Kini, kondisi Takaichi mulai memicu kekhawatiran di kalangan politik Jepang.
Sejumlah pihak merasa cemas jika kurang tidur yang berkepanjangan dapat memengaruhi kesehatan sang Perdana Menteri.
Lebih jauh lagi, muncul kekhawatiran bahwa kelelahan fisik dan mental tersebut berpotensi memicu kesalahan dalam pengambilan keputusan kebijakan yang krusial bagi negara.
Baca juga: Setelah Tertunda Setahun, Merci Mahasiswa STIE Malangkucecwara Akhirnya Berangkat Magang ke Jepang
Dikutip dari Kompas Health, kurang tidur termasuk kondisi ekstrem seperti hanya tidur sekitar 2 jam, tidak sekadar membuat tubuh terasa lelah, tetapi memicu gangguan serius pada fungsi tubuh.
Dalam jangka pendek, otak menjadi organ yang paling cepat terdampak: kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan proses berpikir menurun karena tidur berperan penting dalam memproses informasi dan memulihkan fungsi kognitif.
Akibatnya, seseorang menjadi mudah linglung, lambat bereaksi, dan berisiko tinggi mengalami kesalahan atau kecelakaan.
Bahkan, penelitian yang dikutip Kompas menyebutkan bahwa kekurangan tidur hanya 1–2 jam saja sudah bisa menurunkan kondisi tubuh sehingga meningkatkan risiko kecelakaan hingga dua kali lipat karena kantuk dan hilangnya fokus.
Secara fisiologis, tubuh yang hanya tidur sangat sedikit (misalnya 2 jam) mengalami ketidakseimbangan hormon dan sistem metabolisme.
Kompas melaporkan bahwa kurang tidur dapat mengganggu hormon pengatur gula darah (insulin), meningkatkan tekanan darah, serta memicu peradangan dalam tubuh.
Dampaknya tidak main-main: risiko penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, hingga kenaikan berat badan meningkat karena tubuh kehilangan kemampuan mengatur rasa lapar dan energi dengan normal.
Dalam jangka lebih panjang, efeknya menjadi lebih fatal.
Kurang tidur kronis dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit serius seperti stroke, yang merupakan salah satu penyebab kematian utama.
Baca juga: Pemkot Batu Bakal Gandeng Nagoya University Jepang dan UB Kembangkan Pertanian dan Pariwisata
Selain itu, tubuh sebenarnya tidak bisa “beradaptasi” dengan kurang tidur seperti yang sering dianggap orang; dampak buruknya tetap terakumulasi dan merusak kesehatan secara perlahan.
Bahkan kesehatan mental dan produktivitas juga ikut terganggu, membuat seseorang lebih mudah stres, emosional, dan tidak stabil secara psikologis.
Dengan demikian, jika seseorang hanya tidur sekitar 2 jam, yang terjadi bukan sekadar “kurang istirahat”, tetapi gangguan menyeluruh pada otak, hormon, dan organ tubuh yang bisa berujung pada kecelakaan, penurunan fungsi tubuh, hingga peningkatan risiko penyakit mematikan bila berlangsung terus-menerus.