Usung Konsep '3M', Permukiman Mrican Disebut Menko AHY Jadi Contoh Penataan Kawasan Kumuh
Joko Widiyarso April 24, 2026 09:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, ​YOGYA - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyambangi kawasan permukiman Mrican, Kabupaten Sleman, Jumat (24/4/26).

​Dalam kunjungannya tersebut, AHY melihat langsung hasil revitalisasi kawasan yang dulunya dikenal sebagai permukiman kumuh, kini bertransformasi menjadi hunian yang tertata rapi dan asri.

​Didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti, dan jajaran Kemenko Infrastruktur, AHY menyusuri bantaran sungai yang terlihat bersih dari tumpukan sampah.

​"Saya senang sekali, sebetulnya sudah lama saya merencanakan untuk datang langsung ke Desa Mrican ini. Kita melihat penataan kawasan yang sebelumnya kumuh, kemudian bisa dikatakan 'disulap' dan direvitalisasi," ujarnya.

​Benar saja, kawasan dengan luasan lebih kurang 5 hektar tersebut, sebelumnya memiliki kondisi yang cenderung memprihatinkan. 

Selain rumah warga yang berhimpitan dengan bibir sungai, tumpukan sampah di aliran air kerap menimbulkan bau menyengat dan menjadi langganan banjir.

​Namun, melalui intervensi anggaran sebesar Rp29 miliar dari Kementerian PUPR kala itu, kawasan ini kini mengadopsi metodologi konsep 3M (Mundur, Munggah, dan Madhep Kali).

​"Sekarang konsepnya riverfront, rumah-rumah menghadap ke kali. Jadi lebih sehat, sirkulasi udara baik, dan kita bisa menyusuri pinggir kali dengan nyaman. Ini sangat baik untuk kualitas hidup masyarakat, terutama tumbuh kembang anak-anak yang butuh ruang terbuka," cetusnya.

​Tak hanya soal infrastruktur hunian, AHY juga meninjau langsung Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Condongcatur yang mampu mengolah 8 - 10 ton sampah per hari menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) dan pupuk.

​Menurut AHY, penataan di Mrican ini merupakan pengejawantahan dari arahan Presiden Prabowo Subianto melalui Gerakan Indonesia ASRE (Aman, Sehat, Resik, dan Elok).

​"Salah satu yang kita kawal adalah menghilangkan wajah kumuh di kota-kota. Kita tata kawasannya, kita tata sampahnya. Jangan lagi ada polusi yang mengganggu kesehatan karena sumber penyakit biasanya dari kawasan kumuh," tegasnya.

​Melihat keberhasilan tahap awal ini, AHY memberikan sinyal hijau untuk melanjutkan penataan di lahan seluas 15 hingga 16 hektar lainnya yang masih tersisa di kawasan tersebut.

​Ia berharap model penataan Mrican yang mengedepankan sanitasi dan estetika ini bisa menjadi percontohan bagi wilayah padat penduduk lainnya di seluruh Indonesia.

​"Ini inisiatif luar biasa. Ada sekitar 15-16 hektar lagi yang diharapkan bisa ditata di tahap 2 dan 3. Kita ingin mendorong ini juga di tempat-tempat lain di Indonesia," pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.