Lawan Stigma "Macul", Petani Milenial Pekalongan Gunakan Drone dan YouTube untuk Genjot Padi Organik
Rustam Aji April 25, 2026 11:07 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, KAJEN – Sektor pertanian di Kabupaten Pekalongan kini tak lagi identik dengan aktivitas tradisional yang melelahkan.

Sekelompok petani milenial mulai menggebrak lewat penggabungan praktik konvensional dengan teknologi digital dan mekanisasi modern guna mengatasi rendahnya literasi pertanian di kalangan generasi muda.

Langkah ini diambil bukan sekadar untuk bergaya, melainkan sebagai strategi memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus meningkatkan efisiensi kerja di tengah menyusutnya tenaga kerja di pedesaan.

Agung, seorang petani muda asal Desa Karangdowo, Kecamatan Kedungwuni, menjadi salah satu sosok yang mulai menekuni budidaya padi berbasis organik. Baginya, teknologi informasi kini menjadi "guru" utama dalam mengembangkan usahanya.

"Saya ingin belajar bertani, terutama padi. Apalagi sekarang banyak referensi dari media digital seperti YouTube yang bisa diakses dengan mudah untuk melihat contoh petani sukses," ungkap Agung, Jumat (24/4/2026).

Solusi Organik dan Mekanisasi Drone

 Fokus pada pertanian organik dipilih Agung sebagai respons atas menurunnya kualitas tanah akibat penggunaan bahan kimia yang berlebihan selama puluhan tahun. Menurutnya, keberlanjutan lahan adalah kunci agar sektor ini tetap produktif di masa depan.

Baca juga: Misi Berbeda di Jatidiri: Junianto Berharap Duel PSIS vs Kendal Tornado FC Jadi Hiburan Berkelas

Selain fokus pada kualitas tanah, Agung mendorong pemanfaatan teknologi tinggi untuk menarik minat anak muda. Penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) hingga teknologi drone untuk penyemprotan pupuk dinilai sebagai solusi atas minimnya tenaga kerja manual saat ini.

"Teknologi seperti drone bisa membuat pekerjaan jauh lebih cepat dan efisien. Ini yang harus diketahui generasi muda, bahwa bertani itu bisa modern," tambahnya.

Tantangan Literasi dan Dukungan Dana Desa

Meski potensi teknologi sangat besar, Agung mengakui kendala utama tetap pada rendahnya literasi. Banyak pemuda desa yang belum memahami adanya peluang besar dalam sektor ini, termasuk bagaimana memanfaatkan Dana Desa untuk mendukung program ketahanan pangan.

Merespons hal tersebut, Humas Duta Petani Milenial Kabupaten Pekalongan, Handono Warih, menegaskan bahwa edukasi dan pendampingan terus digencarkan.

Pihaknya kini fokus memperkenalkan teknologi terbaru agar petani muda tidak tertinggal informasi.

"Kami terus melakukan penyuluhan dan mengenalkan teknologi. Sinergi antara pemerintah pusat hingga desa sangat penting, terutama dalam pemanfaatan dana ketahanan pangan," ujar Handono.

Baca juga: Nestapa Petambak Mangunharjo Semarang: Dulu Raup Puluhan Juta, Kini Tambak Tenggelam Jadi Lautan

Menurutnya, anggaran negara tersebut seharusnya tidak hanya dihabiskan untuk pembangunan irigasi fisik, tetapi juga dialokasikan untuk pengadaan teknologi alsintan yang lebih efektif.

"Dana tersebut bisa digunakan untuk alat mesin pertanian agar produksi lebih efisien dan menarik bagi anak muda," pungkasnya. (Dro)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.