TRIBUNJATIM.COM - Beberapa kapal milik negara China yang berlayar di perairan Laut China Selatan ternyata memiliki pekerjaan 'khusus'
Pekerjaan mereka tidak berat, tetapi oleh negara dibayar puluhan juta agar tetap bisa menjaga wilayah dimana kapal mereka berlabuh tersebut.
Di hamparan biru Laut China Selatan, ratusan kapal nelayan tampak berjajar.
Akan tetapi, kapal-kapal tersebut tidak menebar jaring untuk menjala ikan, seyogyanya nelayan mencari penghidupan di laut lepas. kapal-kapal tersebut justru terlihat diam tak beraktivitas.
Dilansir dari ABC News seperti dikutip TribunJatim.com via Kompas.com, Sabtu (25/4/2026), para awak kapal ini diketahui tidak sedang melaut untuk mencari ikan.
Mereka adalah bagian dari "milisi maritim" China, sebuah armada bayangan yang didanai negara untuk memperkuat klaim kedaulatan di wilayah sengketa.
"Mereka ada di sana untuk menjaga kehadiran," kata Gregory Poling dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Amerika Serikat (AS).
"Pemantauan Filipina menunjukkan para kru hanya duduk-duduk makan siang, menggunakan telepon satelit, atau bermain kartu," lanjutnya.
Berdasarkan penelitian CSIS, setiap kapal China tersebut menerima bayaran beberapa ribu dollar AS per hari hanya untuk tetap berada di lokasi.
Sistem ini merupakan bagian dari kebijakan Military-Civil Fusion atau Integrasi Militer-Sipil China.
Poling mengungkapkan, lima tahun lalu, subsidi tersebut bernilai sekitar 3.500 dollar AS (sekitar Rp 60 juta) per hari untuk setiap kapal.
Meski data terbaru tidak dipublikasikan, para awak kapal harus membuktikan bahwa mereka menghabiskan setidaknya 280 hari di laut untuk bisa mencairkan pembayaran.
Kondisi ini mengubah pola rekrutmen awak kapal. Bukan nelayan terampil yang dikerahkan, pemilik kapal kini lebih banyak mempekerjakan staf seadanya atau bahkan membawa anggota keluarga.
"Ini adalah tanda lain bahwa mereka sebenarnya tidak sedang memancing. Pada hari-hari biasa, mereka sepertinya tidak berada di bawah kendali siapa pun. Yang mereka lakukan hanyalah membuang sauh," jelas Poling.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Naik Kapal Laut, Secara Psikologis Gambarkan Perasaan Labil Si Pemimpi, Buruk?
Data CSIS menunjukkan bahwa jumlah kapal milisi maritim ini mencapai rekor tertinggi pada tahun 2025.
Jika pada 2021 rata-rata terdapat 100 kapal yang dikerahkan setiap hari, angka tersebut melonjak drastis menjadi lebih dari 241 kapal pada 2025.
Armada ini terbagi dalam dua jenis. Pertama, milisi profesional dengan kapal besar yang sering mengaktifkan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS).
Kedua, kapal nelayan sipil yang kerap dijuluki "kapal hantu" karena tidak memiliki AIS sehingga sering hilang dari pantauan radar.
Euan Graham, analis dari Australian Strategic Policy Institute (ASPI), menyebut bahwa milisi maritim China sebenarnya berfungsi di bawah komando militer, meski sering dikategorikan sebagai operasi "zona abu-abu".
Collin Koh, peneliti senior dari Nanyang Technological University di Singapura, menyebut milisi ini memiliki peran ganda.
Peran tersebut mulai dari pengawasan intelijen hingga potensi sabotase infrastruktur maritim seperti kabel bawah laut.
Penggunaan sipil untuk tujuan strategis memiliki akar sejarah panjang dalam ideologi "Perang Rakyat" Mao Zedong, sang pendiri Republik Rakyat china.
Namun kini, di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, peran ini semakin diperkuat.
Pada 2013, Xi Jinping secara terbuka memuji milisi maritim di Hainan sebagai "unit model" setelah terlibat konfrontasi dengan Penjaga Pantai Filipina.
Menurut media pemerintah, Xi mengaku sangat tergerak oleh upaya milisi dalam membela hak-hak maritim China dan mendorong mereka untuk terus mengumpulkan intelijen lepas pantai.
Meski China tidak merespons permintaan komentar terkait hal ini, bukti di lapangan menunjukkan peningkatan agresivitas.
Pada Desember 2025, Penjaga Pantai Filipina merilis video yang memperlihatkan kapal milisi profesional China menggunakan meriam air terhadap nelayan Filipina di dekat Sabina Shoal.
"Terkadang tidak ada upaya untuk menyembunyikan ini, termasuk kehadiran personel Angkatan Laut China berseragam di atas kapal-kapal sipil ini di Laut China Selatan," pungkas Graham.