WARTAKOTALIVE.COM — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan ancaman serius terhadap jalur pelayaran global.
Teheran dilaporkan siap menutup Selat Bab al-Mandab apabila Amerika Serikat tidak mencabut blokade terhadap Selat Hormuz, langkah yang berpotensi mengguncang stabilitas perdagangan dunia.
Ancaman tersebut muncul di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dalam beberapa bulan terakhir.
Selat Bab al-Mandab sendiri merupakan salah satu titik sempit (chokepoint) paling vital dalam perdagangan global.
Jalur ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi penghubung utama antara Samudra Hindia dan Terusan Suez.
Sebagian besar distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju Eropa harus melewati wilayah ini, sehingga setiap gangguan akan berdampak luas terhadap rantai pasok energi dunia.
Ancaman Iran tidak berdiri sendiri, dalam beberapa pekan terakhir, kelompok Houthi di Yaman yang dikenal sebagai sekutu Teheran juga menyatakan kesiapan untuk menutup selat tersebut sebagai bagian dari tekanan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Bahkan, sejumlah analis menilai bahwa pembukaan “front baru” di Bab al-Mandab dapat menjadi strategi Iran untuk memperluas tekanan militer di luar Teluk Persia.
Lebih jauh, laporan Fars menyebut Iran telah menyiapkan daftar target strategis apabila terjadi serangan lanjutan dari AS dan Israel.
Target tersebut mencakup fasilitas energi, infrastruktur vital, hingga pusat teknologi informasi di kawasan Timur Tengah.
Iran juga menegaskan akan melakukan serangan balasan maupun tindakan pencegahan sesuai dengan eskalasi yang dilakukan pihak lawan.
Situasi ini memperlihatkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada Selat Hormuz, tetapi berpotensi meluas ke jalur pelayaran lain yang sama pentingnya.
Jika ancaman tersebut benar-benar direalisasikan, dunia akan menghadapi gangguan serius pada distribusi energi global, lonjakan harga minyak, serta ketidakpastian ekonomi yang meluas.
Sejumlah pihak internasional kini mendesak agar dilakukan deeskalasi segera. Namun, dengan meningkatnya retorika militer dari berbagai pihak, risiko konflik terbuka di kawasan tetap tinggi.
Selat Bab al-Mandab, yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan dunia, kini berada di tengah pusaran konflik geopolitik yang semakin kompleks.