TRIBUNNEWS.COM - Di tengah ketidakpastian mengenai kelanjutan pertemuan delegasi Amerika Serikat (AS) dan Iran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terbang ke Pakistan untuk bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir.
Araghchi bertemu dengan Asim Munir ketika AS mengirim delegasinya ke Pakistan untuk melanjutkan perundingan yang bertujuan mengakhiri perang yang dimulai 28 Februari lalu.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan perundingan akan dilanjutkan di Islamabad pada hari ini, Sabtu (25/4/2026).
Namun, Iran menegaskan tidak ada pertemuan langsung dengan AS.
Sementara itu, media Tasnim Iran melaporkan Araghchi membawa tanggapan Teheran terhadap usulan yang diajukan Pakistan sebelumnya.
"Abbas Araqchi, Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran, yang melakukan perjalanan ke Islamabad untuk bertukar pandangan dengan pejabat senior Pakistan, bertemu dan mengadakan pembicaraan dengan Marsekal Lapangan Asim Munir, Komandan Angkatan Darat Pakistan, pada Sabtu pagi ini," lapor Tasnim.
Araghchi akan membahas perkembangan upaya terkait gencatan senjata dan berakhirnya serangan AS-Israel terhadap Iran.
Selain itu, Menteri Luar Negeri itu akan membahas upaya menjaga stabilitas di Asia Barat dan kerja sama memelihara perdamaian.
Ia juga menegaskan posisi negaranya, kepemimpinan Iran tetap teguh pada isu pencabutan blokade angkatan laut AS di pelabuhan Teheran dan penghentian serangan AS-Israel.
Sementara itu, Asim Munir mengapresiasi kepercayaan Iran kepada Pakistan sebagai negara tetangga dan negara Muslim untuk membantu memajukan proses diplomatik.
Baca juga: Krisis Energi Mengintai! Iran Ancam Tutup Jalur Minyak Timur Tengah jika AS Lanjutkan Blokade
Komandan tersebut juga mengumumkan kesediaan negara tersebut untuk melanjutkan upaya mediasi Pakistan hingga hasil yang diinginkan tercapai.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran tiba di Islamabad pada hari Jumat.
Setelah mengunjungi Pakistan, ia akan melakukan kunjungan ke Rusia dan Oman.
Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang menandai pecahnya konflik baru di kawasan Timur Tengah.
Pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, dan posisinya kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei, setelah mendapat persetujuan dari Majelis Ahli Ulama Iran.
Serangan gabungan itu terjadi hanya dua hari setelah perundingan nuklir antara AS dan Iran yang berlangsung di Jenewa.
Selama ini, AS dan Israel menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, sementara Iran menegaskan programnya hanya untuk keperluan energi sipil.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke Israel serta pangkalan militer AS di sejumlah negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Selain itu, Iran menghentikan perundingan nuklir dan memblokade Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi dunia, yang memicu lonjakan harga minyak serta kekhawatiran krisis energi global.
Memasuki hari ke-40 konflik pada 7 April, AS dan Iran sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan yang dimulai pada 8 April.
Kedua pihak kemudian kembali berunding pada 11 April 2026 di Islamabad, namun belum mencapai kesepakatan damai karena masih ada isu-isu sensitif yang belum terselesaikan.
Hingga kini, konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.900 orang, berdasarkan laporan Al Jazeera.
Setelah kegagalan perundingan pada 11 April, AS memblokade jalur pelayaran kapal-kapal Iran di Selat Hormuz.
Delegasi kedua negara sempat dikabarkan akan kembali bertemu di Islamabad pada 22 April 2026, namun Iran menolak.
Pada 25 April, AS mengirim delegasinya ke Islamabad dengan harapan untuk melakukan negosiasi dengan delegasi Iran.
Sementara itu, Iran menolak pertemuan langsung dengan delegasi AS, dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pertemuan dengan pihak Pakistan.
Iran berpegang teguh dengan tuntutannya dalam 10 point, di antaranya AS-Israel harus menghentikan serangan terhadap Iran, mencabut blokade terhadap kapal-kapal Iran, mencabut sanksi, dll.
Sementara AS mengajukan 15 poin kepada Iran di antaranya untuk menghentikan program nuklirnya, mencabut blokade di Selat Hormuz, mengurangi pengaruh militer Iran di kawasan Timur Tengah, menjamin keamanan regional termasuk terhadap sekutu AS, dll.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)