SERAMBINEWS.COM - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat dan Israel dilaporkan tengah menyusun rencana serangan besar-besaran terhadap Iran, menyusul runtuhnya prospek gencatan senjata akibat sengketa di jalur pelayaran vital Selat Hormuz.
Media Amerika melaporkan pada Kamis bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump mempertimbangkan opsi militer jika Teheran menolak tekanan Washington terkait penguasaan selat strategis tersebut.
Sengketa ini menjadi batu sandungan utama perundingan damai, di tengah kebuntuan yang kian dalam setelah AS memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sejak awal Maret, Teheran disebut telah secara efektif mengendalikan Selat Hormuz. Iran menegaskan hanya akan melonggarkan cengkeramannya jika AS mencabut blokade, tuntutan yang ditolak mentah-mentah oleh Washington.
Baca juga: Iran Kirim Pesan Tegas ke AS: Cabut Blokade atau tak Ada Negosiasi
Para pejabat Iran bahkan menilai blokade itu sebagai pelanggaran gencatan senjata, sehingga menolak hadir ke Pakistan untuk perundingan putaran kedua.
Di tengah kebuntuan tersebut, para panglima militer AS dikabarkan menggodok skenario eskalasi.
Menurut laporan CNN, yang mengutip sejumlah sumber, opsi yang dipertimbangkan mencakup serangan baru terhadap sasaran militer Iran, penargetan kapal peletakan ranjau dan kapal perang di Selat Hormuz, hingga operasi pembunuhan terarah terhadap pejabat tertentu.
Bahkan, ancaman untuk menghantam infrastruktur sipil, termasuk fasilitas energi, juga disebut masuk dalam kalkulasi.
Dengan jalur energi dunia dipertaruhkan dan diplomasi terhenti, kawasan kini berada di ambang eskalasi yang berpotensi mengguncang stabilitas global.
Upaya Amerika Serikat untuk merebut paksa uranium yang sangat diperkaya milik Iran dinilai sebagai operasi militer berisiko ekstrem dengan tingkat kompleksitas yang nyaris mustahil.
Penilaian ini disampaikan Jason Campbell, peneliti senior di Middle East Institute, dalam wawancara dengan Al Jazeera, Sabtu.
Menurut Campbell, misi semacam itu hanya bisa dilakukan jika AS memiliki intelijen yang nyaris sempurna.
“Anda harus hampir benar-benar yakin di mana uranium yang sangat diperkaya itu berada,” ujarnya.
Risiko, kata dia, akan melonjak tajam jika material tersebut tersebar di beberapa lokasi karena akan memaksa militer AS melakukan beberapa operasi besar secara hampir bersamaan.
Campbell menyebut sejumlah situs nuklir utama Iran, Isfahan, Natanz, dan Fordow, sebagai kandidat lokasi penyimpanan.
Namun, fokus terbesar disebut berada di Isfahan.
“Laporan sumber terbuka yang kredibel menunjukkan Iran kemungkinan memindahkan uranium yang sangat diperkaya ke fasilitas Isfahan sebelum perang 12 hari tahun lalu,” katanya.
Masalahnya, kendala teknis di Isfahan sangat berat.
Tiga pintu masuk yang diketahui ke kompleks tersebut dilaporkan telah rusak dan bahkan ditimbun tanah oleh Iran untuk membuatnya tak bisa diakses.
Kondisi ini menjadikan operasi penyusupan atau ekstraksi material nuklir jauh lebih berbahaya.
Sementara itu, persoalan lokasi dan jumlah uranium Iran juga menjadi sorotan lembaga internasional.
International Atomic Energy Agency (IAEA) dinilai perlu menetapkan “garis dasar” baru untuk memverifikasi persediaan uranium Teheran.
Pendapat senada disampaikan Daryl Kimball, direktur eksekutif Arms Control Association.
Ia menyebut sekitar 200 dari total 440 kilogram uranium yang sangat diperkaya diyakini berada di sekitar kompleks Isfahan, sementara sisanya dekat fasilitas Fordow.
Namun, Kimball menegaskan material tersebut bukan “debu nuklir” istilah yang kerap digunakan Donald Trump, melainkan gas uranium heksafluorida yang sangat beracun.
“Material ini kemungkinan berada di terowongan atau terkubur di bawah bangunan akibat pemboman sebelumnya, disimpan dalam wadah yang bisa tampak seperti tabung,” jelasnya.
Selain beracun, uranium tersebut juga membutuhkan penanganan ekstra hati-hati untuk diekstraksi atau diturunkan kadar pengayaannya.
Tak heran, Trump sebelumnya mengakui bahwa pemulihan uranium Iran akan menjadi “proses panjang dan sulit”, sebuah isyarat bahwa tujuan itu, jika benar dikejar, akan menghadapkan Washington pada risiko militer dan politik yang sangat besar.(*)