TMMD Kodim Aceh Tamiang Akhiri Jalur Maut di Sukamakmur dan Balingkarang
Saifullah April 25, 2026 10:03 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Jalur maut di Sukamakmur dan Balingkarang, Aceh Tamiang tak lagi menghantui masyarakat. 

Rasa takut tersebut justru berubah menjadi keyakinan hidup lebih baik.

Optimisme ini disampaikan masyarakat kedua kampung setelah daerah mereka menjadi sasaran TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD) ke-128 di Aceh Tamiang. 

Program yang secara resmi dilakukan 21 April ini memprioritaskan pembangunan jalan terobos dari Sukamakmur ke Balingkarang sepanjang 12 kilometer.

“Alhamdulillah, akhirnya ada akses jalan darat, dulu kami kalau mau ke Karangbaru (pusat pemerintahan) dan Kualasimpang (pusat perekonomian), harus dari sungai,” kata Datok Penghulu Kampung Balingkarang, Joni Sardi, Sabtu (25/4/2026).

Joni menggambarkan, jalur sungai ini sangat menakutkan karena memiliki risiko tinggi. 

Namun karena tidak ada pilihan lain, mau tak mau warga menggunakan getek ataupun perahu sebagai alat transportasi utama.

Meski menakutkan, selama puluhan tahun warga menjadikan getek dan perahu ini sebagai alat utama penyeberangan manusia, kendaraan dan hasil panen perkebunan.

Baca juga: Satgas TMMD Kodim Abdya Kunjungi Nurhabibah, Nenek Penerima Bantuan Rehab RTLH di Gunong Cut 

“Ya semuanya dari sini, kalau air naik ya tidak bisa kemana-mana, sangat berisiko,” ungkapnya.

Bila debit air sungai meningkat, tak jarang komoditas yang diangkut terbalik. 

Hal yang paling ditakutkan, getek dan perahu tidak beroperasi bila kenaikan air sangat signifikan.

“Bukan cuma terbalik, ada juga kasus orang sakit meninggal pas dalam penyeberangan, mau dibawa ke Kualasimpang,” ujarnya.

Sederetan kejadian menakutkan inilah yang kemudian muncul stigma jalur ini sebagai ‘jalur maut’. 

“Akhirnya kami punya jalan darat, mobil pun sudah bisa lewat,” kata Joni.

Rasa bahagia yang dirasakan Datok Penghulu Kampung Sukamakmur, Miat Juliansyah pun tak kalah. 

Dulu, kata dia, jalur yang sedang dibangun TNI merupakan jalur mati karena semak belukar dan tanahnya bergelombang.

“Ini tanah mati, jangan mobil, orang (manusia) pun tidak bisa lewat,” kata Miat.

Sejak lama warga menginginkan dibangunnya jalan darat agar kampung yang dipenuhi perkebunan kelapa sawit ini tidak terisolir. 

Baca juga: Keuchik di Abdya Yakin Program TMMD Ke-128 Berdampak Besar Bagi Petani

“Jangankan ke kota, ke Pekan Babo saja kami harus nyebrang naik getek,” ungkapnya.

Kehadiran jalan baru ini akan menjadi simpul bangkitnya perekonomian masyarakat.

Bukan hanya Sukamakmur dan Balingkarang, tapi juga dua kampung tetangga, Pematangdurian dan Sulum. 

Risiko hasil panen membusuk karena hanya bergantung dengan perahu, kini tidak akan dirasakan lagi, seiring akses jalan darat sudah berfungsi.

“Harapan kami, setelah dilakukan pengerasan oleh TNI, ada lanjutan dari pemerintah untuk pengaspalan supaya jalannya tidak rusak,” harap Miat dan Joni.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.