Momen Piala Dunia - Saat Pele Mengacak-acak Gawang Swedia di Final pada Usia 17 Tahun
Zulfikar Pamungkas April 26, 2026 03:33 AM

INTERCONTINENTALE / AFP
Penyerang legendaris Timnas Brasil, Pele, melakoni salah satu momen terbaiknya di Piala Dunia pada edisi 1958.

BOLASPORT.COM - Piala Dunia kerap menghadirkan momen magis di setiap edisinya. Salah satunya adalah saat Pele mengacak-acak gawang tuan rumah Swedia di final pada usia 17 tahun.

Piala Dunia 1958 menjadi salah satu edisi paling ikonik dalam sejarah event empat tahunan tersebut.

Di edisi tersebut, seorang bocah bernama lengkap Edson Arantes Do Nascimento atau biasa akrab disapa Pele menjadi pusat perhatian.

Semua bermula saat Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) melakukan segala hal untuk membawa Timnas Brasil tampil apik di edisi tersebut. Salah satunya dengan menggunakan jasa psikolog.

Maklum saja, saat itu Tim Samba nyaris gagal berpartisipasi karena sempat ditahan imbang Peru di babak kualifikasi.

Saat melakukan tes psikologi, Pele nyaris tak dibawa karena mendapat nilai rendah dan dicap masih kekanak-kanakan oleh psikolog bernama Joao Carvalhaes.

"Pele jelas kekanak-kanakan. Dia kurang memiliki semangat juang yang dibutuhkan. Dia terlalu muda Saya rasa tidak bijaksana untuk membawanya," kata Carvalhaes, dikutip dari These Football Times.

Tetapi Pelatih Timnas Brasil saat itu, Vicente Feola, tetap bersikukuh membawa Pele dan memercayainya menggunakan nomor 10.

Kala itu, nomor 10 bukanlah nomor keramat di sepak bola. Tetapi nomor tersebut kini menjadi nomor keramat berkat aksi bocah berusia 17 tahun tersebut di Piala Dunia 1958.

Singkat cerita, Pele dibawah ke Swedia untuk turnamen tersebut. Sayangnya dia dibawa dalam kondisi tengah cedera lutut.

Karena tengah cedera, eks pemain Santos itu tak bermain di dua pertandingan awal Grup 4 saat melawan Austria dan Inggris.

Barulah pada pertandingan ketiga Grup 4, dia dimainkan oleh Feola selama 90 menit dan nyaris mencetak gol di menit-menit awal usai sepakannya mengenai tiang gawang.

Gagal mencatatkan namanya di papan skor pada fase grup, Pele sukses menggemparkan dunia saat babak perempat final kontra Wales.

Di laga tersebut, dia menjadi aktor kemenangan Brasil berkat golnya pada menit ke-66, gol yang membatnya menjadi pencetak gol termuda di Piala Dunia.

Keran golnya tak terhenti di perempat final. Pada babak semifinal, pemain yang pernah membela New York Cosmos itu kembali menjadi aktor kemenangan Brasil atas Prancis.

Tak tanggung-tanggung, Pele mampu meredupkan pamor penyerang Prancis sekaligus top skorer Piala Dunia 1958 saat itu, Just Fontaine, berkat hattrick­-nya.

Hattrick itu dibuatnya pada menit ke-52, 64, dan 75 yang membawa Tim Samba menang dengan skor 5-2.

Walhasil nama Pele melambung tinggi berkat hattrick-nya. Tetapi siapa sangka, dia menyiapkan satu kejutan di final saat dipastikan bertemu tuan rumah Swedia.

Di final, Brasil sempat gugup pada menit-menit awal karena trauma akan kekalahan di final Piala Dunia 1950 yang dari gol cepat Niels Liedholm pada menit ke-4.

Tetapi Selecao sukses membalasnya lima menit berselang lewat Vava yang juga membawa timnya berbalik unggul pada menit ke-32.

Keunggulan 2-1 ini belumlah aman bagi Brasil. Dalam kondisi tersebut, Pele muncul sebagai pahlawan dengan mengacak-acak pertahanan Swedia.

Pria kelahiran Sao Paulo ini sukses mencetak gol indah pada menit ke-55 lewat aksi individu menawan di kotak 16 lawan.

Berawal dari umpan Nilton Santos, Pele mengontrol bola dengan dadanya sambil membelakangi gawang dan mengangkat bola di atas kepala lawan yang diakhiri tembakan voli brilian.

Kemudian di akhir laga, dia mencetak brace dengan tandukan terukurnya memanfaatkan umpan silang dari Mario Zagallo yang membawa Brasil menang 5-2.

Berkat brace-nya itu, Pele menjadi pencetak gol termuda di final Piala Dunia pada usia 17 tahun 249 hari dan membawa Brasil meraih gelar juara pertamanya di turnamen itu.

"Dulu saya tidak memikirkan rekor. Yang saya pikirkan hanyalah janji yang saya buat kepada ayah saya," ujarnya dikutip dari laman FIFA.

"Ketika Brasil kalah dari Uruguay pada tahun 1950, saya melihat ayah saya menangis."

"Saya berkata kepadanya, 'Jangan khawatir, saya akan membawa Brasil memenangkan Piala Dunia'," imbuhnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.