Kadaker Bandara: Pelayanan Bandara Terus 'Menyala' Sejak Jamaah Injak Kaki di Tanah Suci
Sakinah Sudin April 26, 2026 09:22 AM

Laporan Hasim Arfah, Wartawan Tribun-tTmur.com dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi

TRIBUN-TIMUR.COM, MADINAH - Kedatangan jamaah haji Indonesia di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah tidak hanya ditandai proses turun dari pesawat dan pengambilan barang bawaan. 

Di balik setiap kedatangan, ada rangkaian layanan yang disiapkan secara berlapis oleh petugas haji Daerah Kerja Bandara.

Mulai penyambutan, pendampingan lansia dan disabilitas, pengawasan bagasi, hingga koordinasi kesehatan jamaah.

Kepala Daerah Kerja Bandara Abdul Basir, Sabtu (25/4/2026), menegaskan, pelayanan di bandara merupakan wajah pertama layanan haji Indonesia di Arab Saudi. 

Karena itu, seluruh petugas diminta bekerja tidak hanya cepat dan tertib, tetapi juga dengan kepekaan terhadap kondisi jamaah yang baru menempuh perjalanan panjang.

“Bandara adalah titik awal jamaah merasakan pelayanan di Tanah Suci. Maka sejak mereka turun dari pesawat, petugas harus hadir," kata Abdul Basir.

"Bukan hanya mengarahkan, tetapi juga menenangkan, membantu, dan memastikan tidak ada jamaah yang merasa sendirian,” jelasnya.

Menurutnya, sebagian besar jamaah tiba dalam kondisi lelah setelah menempuh penerbangan berjam-jam. 

Tidak sedikit pula jamaah lansia yang membutuhkan pendampingan khusus, baik saat keluar dari pesawat, menuju area imigrasi, menunggu bagasi, maupun saat diarahkan menuju bus keberangkatan ke hotel.

“Bagi kita mungkin proses bandara terlihat biasa. Tetapi bagi jamaah, terutama lansia, ini perjalanan besar dalam hidup mereka," ujar Abdul Basir.

"Ada yang baru pertama kali naik pesawat, ada yang kelelahan, ada yang cemas mencari rombongan atau barangnya. Di situlah petugas harus bekerja dengan hati,” imbuhnya.

Abdul Basir menjelaskan, pelayanan bandara melalui koordinasi sejumlah unsur.

Mulai petugas sektor bandara, petugas kesehatan, petugas perlindungan jamaah, hingga pihak otoritas terkait. 

Setiap alur kedatangan dipantau agar jamaah dapat bergerak secara tertib, aman, dan tidak mengalami penumpukan di area layanan.

Tugas tersebut tidak ringan. 

Para petugas bekerja di area luar ruangan, menghadapi panas terik pada siang hari, dingin yang menusuk pada malam hari, angin kencang, serta debu yang kerap beterbangan. 

Namun, Abdul Basir menekankan, ketelitian tetap menjadi kunci utama.

Barang bawaan jamaah bagian dari kenyamanan mereka.

"Ketika koper ditemukan, kursi roda tidak tertukar, atau tongkat bisa kembali kepada pemiliknya, itu mungkin terlihat sederhana," kata Abdul Basir.

"Tapi bagi jamaah, itu sangat berarti,” jelasnya.

Selain aspek bagasi dan mobilitas, Daker Bandara juga memberi perhatian serius terhadap kondisi kesehatan jamaah.

Hal ini sejalan dengan penegasan PPIH Pusat bahwa pemeriksaan kesehatan pada masa embarkasi harus diperketat dan tidak boleh menjadi formalitas, serta status istitaah kesehatan merupakan syarat mutlak keberangkatan jamaah haji.

Abdul Basir menyampaikan, setibanya di Arab Saudi, petugas bandara tetap melakukan pengamatan terhadap kondisi jamaah, terutama yang terlihat lemah, mengalami kelelahan berlebih, atau membutuhkan bantuan medis. 

Bila ditemukan jamaah yang memerlukan penanganan, petugas segera berkoordinasi dengan tim kesehatan.

“Kami tidak ingin ada jamaah yang terlewat dari perhatian. Kalau ada yang tampak lemah, kebingungan, atau butuh bantuan, petugas harus responsif," ujar Abdul Basir.

"Pelayanan bandara bukan hanya soal kelancaran arus kedatangan, tetapi juga keselamatan dan rasa aman jamaah,” tegasnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pelayanan di bandara sangat bergantung pada kekompakan petugas di lapangan. 

Setiap orang memiliki peran masing-masing, tetapi semuanya bermuara pada tujuan yang sama: memastikan jamaah tiba, bergerak, dan melanjutkan perjalanan ke hotel dengan baik.

“Petugas mungkin bekerja di belakang layar, tetapi dampaknya langsung dirasakan jamaah," ujar Abdul Basir.

"Senyum jamaah ketika dibantu, rasa lega ketika barangnya ditemukan, atau ketenangan ketika diarahkan menuju bus, itu menjadi energi bagi kami untuk terus melayani,” jelasnya.

Abdul Basir berharap seluruh petugas Daker Bandara terus menjaga stamina, disiplin, dan empati selama masa operasional haji. 

Menurutnya, pelayanan yang baik tidak hanya lahir dari sistem yang rapi, tetapi juga dari kesabaran dan kepedulian petugas dalam menghadapi berbagai kondisi jamaah.

“Kita melayani tamu Allah. Maka tugas ini harus dijalankan dengan tanggung jawab, ketelitian, dan hati yang lapang, kata Abdul Basir.

"Semoga setiap bantuan kecil yang kita berikan menjadi bagian dari kelancaran ibadah jamaah,” harapnya. (hasim arfah/mch 2026)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.