Anggota Komisi VII DPR RI Putra Nababan meminta Kementerian Pariwisata meninjau ulang target kunjungan wisatawan mancanegara. Permintaan ini disampaikan menyusul dinamika geopolitik global yang kian tidak stabil, termasuk meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
"Oleh karena itu, kita harus cepat mengubah fokus. Jika pasar Eropa terhambat, kita harus mengoptimalkan potensi yang ada di depan mata, yakni kawasan Asia, Australia, dan Selandia Baru," kata Putra di Jakarta, Jumat (24/4/2026), dilansir
Dia mengatakan bahwa konflik geopolitik telah menurunkan jumlah kunjungan kunjungan turis asal Eropa ke Indonesia. Padahal, segmen itu merupakan kategori yang dikenal dengan durasi tinggal yang lama dan pengeluaran belanja yang besar.
Putra mengatakan saat ini negara membutuhkan sumber pemasukan devisa baru yang segar. Dengan mengubah fokus target wisman, dia yakin bahwa stabilitas devisa negara bakal terjaga.
"Mengingat posisi geografis Indonesia yang strategis, aman, dan nyaman, sektor pariwisata seharusnya menjadi mesin utama pertumbuhan di tengah ketidakpastian global," ujar dia.
Putra juga mendesak Kementerian Pariwisata untuk tidak berlama-lama dalam mengambil keputusan. Menurut dia, kebijakan insentif bagi turis asing harus segera dieksekusi sebagai langkah mitigasi dampak ekonomi.
"Di tengah situasi dunia yang sulit, kita harus pastikan Indonesia tetap menjadi destinasi yang paling kompetitif, aman, dan memberikan kemudahan bagi siapa pun yang ingin berkunjung," kata dia.
Dia juga mengusulkan kebijakan bebas visa yang lebih agresif, dengan membagi profil wisatawan mancanegara ke dalam dua kategori utama yang harus ditangani secara spesifik.
Putra menjelaskan kategori pertama, yakni wisatawan prioritas kenyamanan turis dari negara maju seperti Jepang, Australia, dan Selandia Baru.
Bagi mereka, harga visa bukanlah masalah utama, melainkan kemudahan administrasi. Mereka menginginkan proses yang cepat tanpa antrean panjang.
Kategori kedua, yakni wisatawan sensitif harga, seperti turis dari China dan India. Kelompok itu memiliki jumlah massa yang sangat besar, tetapi sangat mempertimbangkan biaya tambahan, seperti visa on arrival (VoA).
"Kita dapat turis yang mengejar kenyamanan sekaligus turis yang mengejar efisiensi biaya. Hasilnya, volume kunjungan meningkat, dan devisa pun mengalir," kata dia.





