Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Kristoforus Bota
POS-KUPANG.COM, BETUN - Padi Siap Panen di Rabone Malaka rusak parah dihantam banjir bandang, Sabtu, (25/4/2026).
Petani Pasrah melihat tanaman padinya rusak.
Banjir yang dipicu hujan deras berkepanjangan selama sehari penuh itu merusak areal persawahan milik warga yang sudah mendekati masa panen.
Saat dipantau POS-KUPANG.COM di lokasi, kondisi sawah di sekitar permukiman warga tampak memprihatinkan. Di sisi kiri, kanan, hingga belakang rumah salah satu warga, hamparan sawah yang sebelumnya hijau kekuningan karena padi mulai hampir matang kini rusak parah. Sejumlah bagian lahan terlihat rata dengan tanah setelah diterjang arus banjir.
Batang-batang padi yang sebelumnya sudah berisi bulir kini roboh dan terendam air. Hingga hari ini, genangan air masih menggenangi sebagian lahan sehingga memperburuk kondisi tanaman yang sebenarnya tinggal menunggu waktu panen.
Sawah tersebut diketahui milik Metri Maria Dolorosa Hoar. Saat ditemui pada Minggu, (26/4/2026), dengan wajah sedih, ia mengaku sangat terpukul karena lahan itu menjadi salah satu sumber harapan keluarganya untuk memperoleh hasil panen tahun ini.
Menurutnya, setiap musim panen normal, lahan seluas 35 are itu biasanya mampu menghasilkan puluhan karung gabah. Namun banjir kali ini membuat seluruh perkiraan hasil panen menjadi tidak menentu.
Ia menjelaskan, air mulai meluap ke area persawahan sejak siang hari sebelumnya.
"Aliran air datang dari saluran depan itu. Itu saluran juga sempit sehingga tidak mampu menampung air hujan ini. Makanya air dari saluran itu keluar dan meluap kesini," ujarnya sambil menunjukan ekspresi sedihnya.
Beruntung air tidak sempat masuk ke dalam rumah miliknya, namun sawah yang berada di sekitar permukiman itu justru menjadi sasaran utama terjangan banjir. Padi yang telah dirawat sejak awal musim tanam rusak hanya dalam waktu singkat.
Baca juga: Banjir Bandang di Kali Noemuti TTU, Ratusan Pelajar di Desa Kiuola Batal ke Sekolah
Dengan nada pasrah, Metri mengaku tidak banyak yang bisa dilakukan melihat kondisi tersebut.
Ia menuturkan, padi di sawah tersebut ditanam sejak pertengahan Januari 2026. Jika cuaca normal dan tidak terjadi bencana, tanaman itu diperkirakan sudah bisa dipanen sekitar pertengahan Mei mendatang.
Kini harapan untuk menikmati hasil panen memuaskan mulai memudar. Keluarga hanya berharap masih ada sebagian tanaman yang tersisa dan dapat dipanen, meski hasilnya dipastikan jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Warga berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membantu petani terdampak serta mencari solusi jangka panjang agar bencana serupa tidak terus berulang setiap musim hujan. (ito).