BANGKAPOS.COM - Little Aresha, sebuah layanan daycare di Jogja disorot karena dugaan penganiayaan.
Kasus ini kini ditangani Polresta Yoygyakarta.
Sementara ini, hingga Minggu (26/42026), 53 anak dilaporkan menjadi korban daycare tersebut.
Kompas.tv melaporkan, polisi telah menggerebek daycare yang beralamat di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta tersebut.
Sebanyak 30 orang, termasuk pengurus yayasan dan pengasuh, diamankan polisi.
Dari penggerebekan, polisi menemukan dugaan kekerasan pada sejumlah bayi yang dititipkan di daycare tersebut. .
Hingga kini, Unit PPA Polresta Yogyakarta masih melakukan pemeriksaan dan pendalaman kasus ini.
Dugaan penganiayaan di daycare Little Aresha di Jogja ini terbongkar dari pengakuan mantan pengasuh di sana.
Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Eva Guna Pandia, menjelaskan pelapor merasa janggal dengan stardar perawatan anak karena menggunakan kekerasan.
“Awalnya dari karyawannya itu melihat bahwa perlakuan terhadap bayi atau anak yang dititip itu kurang manusiawi,” paparnya, Sabtu (25/4/2026).
Karyawan tersebut mengundurkan diri, namun dipersulit pengelola dengan cara ijazah ditahan.
“Tidak sesuai dengan hati nuraninya karena mungkin ada yang dianiaya juga mungkin kan. Ditelantarkan, akhirnya dia merasa tidak sesuai hati nurani minta resign,” lanjutnya.
Laporan kasus kekerasan kemudian diterima dengan sejumlah barang bukti berupa foto dan video.
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian, menjelaskan ada temuan tindak kekerasan yang dilakukan pengasuh ke anak-anak.
“Diduga kuat memperlakukan anak secara diskriminatif atau menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakukan salah dan penelantaran atau kekerasan terhadap anak,” ucapnya.
Proses penyelidikan masih berjalan untuk mengungkap kronologi dan motif penganiayaan.
Sejumlah wali murid kaget mendengar kabar penggerebekan daycare Little Aresha.
salah satu wali murid berinisial HF, menerangkan keponakannya yang berusia 3,5 tahun sempat dititipkan ke daycare.
Sepulang dari daycare, balita menunjukkan tanda-tanda ketakutan.
"Baru masuk satu hari, di hari kedua anak sudah ketakutan. Setiap mau berangkat selalu bilang tidak mau, enggak mau. Intinya dia takut sekali untuk masuk ke sana," bebernya, Jumat, dikutip dari TribunJogja.com.
Meski sudah dibelikan mainan, keponakannya enggan ke daycare dan setelah ditelusuri ditemukan tanda kekerasan.
"Katanya miss-nya (guru) galak-galak. Awalnya kami pikir karena belum penyesuaian saja, tapi ketakutannya tidak wajar," sambungnya.
HF mengaku mendengar ada anak yang diikat tangannya selama dititipkan di daycare.
"Saya langsung konfirmasi ke kakak saya yang di Jayapura, ternyata memang ada kabar medsos seperti itu. Pantas saja dulu keponakan saya traumanya luar biasa," katanya.
Little Aresha merupakan lembaga pendidikan yang menyediakan program PG, TK, dan Daycare Program Plus berbasis kurikulum inovatif dan holistik.
Lembaga ini bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung guna membantu perkembangan anak secara optimal.
Tenaga pengasuhnya disebut berpengalaman dan ramah anak.
Daycare ini juga mengklaim fasilitas lengkap untuk mendukung pembelajaran dan stimulasi anak usia dini.
Little Aresha beroperasi dari Senin hingga Sabtu dengan jam operasional fleksibel mulai sekira pukul 06.30-18.00 WIB.
Lokasinya berada di Jalan Pakel Baru Utara, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta.
Little Aresha menerima anak mulai usia dua bulan hingga sekira delapan tahun.
Fasilitas yang disediakan termasuk ruang bermain indoor/outdor, ruang tidur full-AC, dan ruang kelas.
Selain itu juga disebut ada konsultasi perkembangan serta kunjungan dokter secara berkala untuk memantau kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Selain pengasuhan, anak-anak mendapatkan pembelajaran yang disesuaikan usia guna menstimulasi kecerdasan dan karakter mereka secara menyeluruh.
Cara operasional dan layanan dirancang untuk fleksibilitas orang tua.
Waktu penjemputan bisa disesuaikan, program harian tersedia, dan sistem belajar mendukung tiga bahasa: Bahasa Indonesia; Inggris; dan Jawa.
Berdasarkan informasi dari sejumlah orang tua yang menitipkan anaknya, biaya daycare tersebut berkisar antara Rp900 hingga lebih dari Rp1 juta per bulan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta, Retnaningtyas mengonfirmasi hal tersebut.
Retnaningtyas mengatakan, kepastian tidak adanya izin operasional di daycare tersebut setelah dilakukan pengecekan ke instansi terkait.
“Tidak berizin. Kami sudah cek di Dinas Pendidikan maupun ke Dinas Perizinan, memang itu belum ada izinnya,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu (25/4/2026), dilansir Kompas.com.
Salah satu keluarga korban akhirnya angkat bicara.
Dalam wawancara dengan Tribunnews pada Sabtu (25/4/2026), bibi dari salah satu bayi dalam foto tersebut membenarkan keponakannya menjadi korban dalam kasus yang ramai diperbincangkan itu.
Ia adalah yang membagikan foto bergambar bayi-bayi dalam posisi tidur, tak mengenakan baju, sementara kedua kakinya diikat tali.
“Iya kak. Keponakanku itu ada di dalam foto itu,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan laporan resmi telah diajukan ke pihak berwajib.
“Laporan sudah pada masuk semalem di polresta kak. Senin atauselasa perkembangan kasusnya diinfo lagi,” tambahnya.
Selain itu, pada Sabtu pagi (25/4/2026), rombongan orang tua wali yang merasa terpukul mendatangi Mapolresta Yogyakarta untuk mengungkap fakta-fakta memilukan yang dialami anak mereka.
Noorman, salah satu orang tua yang menitipkan dua anaknya sejak 2022 hingga 2025, mengaku terhenyak saat menyadari pola luka yang dialami buah hatinya.
Ia mengungkapkan adanya indikasi perlakuan tidak manusiawi, mulai dari anak-anak yang diikat hingga dibiarkan tanpa busana.
“Ternyata perlakuan di daycare selama kami titipkan itu tidak manusiawi. Melihat dari bukti-bukti video yang kemarin kita lihat di TKP. Jadi dari video memang kita tidak terlalu jelas siapa anak-anak itu karena mungkin terbatas videonya,” katanya, saat ditemui di Polresta Yogyakarta.
Indikasi kekerasan ini semakin menguat karena adanya kesamaan luka antar-anak.
“Nah itu perlakuannya seperti itu yang saya alami. Kemudian ada beberapa luka di bagian badan, tapi kebetulan anak saya juga pernah mengalami luka tersebut. Dan luka tersebut ternyata sama dengan luka anak orangtua lain yang anaknya dititipkan di sana, jadi kita tahu bahwa ternyata lukanya sama,” ungkapnya.
Bahkan, Noorman mencurigai adanya upaya manipulasi dari pihak pengelola saat ia menemukan luka di punggung dan bibir anaknya.
“Jadi mereka bilang ini luka dari rumah ya, bun,” ucap Noorman menirukan dalih pihak daycare.
Padahal, ia memastikan kondisi anaknya sehat saat dimandikan di rumah sebelum berangkat.
Tak hanya luka fisik, dampak kesehatan serius juga muncul. Selain biaya bulanan berkisar Rp900 ribu hingga di atas Rp1 juta, para orang tua justru harus menanggung biaya medis karena anak-anak mereka jatuh sakit secara beruntun.
“Nah ternyata yang kena pneumonia tidak hanya anak saya, tapi ternyata ada beberapa anak juga Pneumonia,” ungkap Noorman lesu.
Kisah pedih serupa disampaikan Choirunisa (34).
Ia baru menyadari kondisi sebenarnya saat menjemput anaknya pada Jumat sore dan melihat lokasi sudah dijaga pihak kepolisian.
Anaknya yang berusia 1,5 tahun kini mengalami penurunan berat badan dan sakit berkepanjangan.
“Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk, biasanya nggak pernah batuk. Batuknya sampai mutah-mutah terus. Berat badannya juga dari hampir sembilan, jadi turun sampai delapan. Lukanya, ini ada fotonya. Ini semalam,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Choirunisa juga menunjukkan bukti tangan anaknya yang melepuh, yang sebelumnya diklaim pihak daycare sebagai cacar air.
“Kayak gini (melepuh) ini pas hari Jumat juga, dua minggu lalu. Bilangnya kena cacar air atau gimana. Tapi kalau kena cacar air, itu cuma bagian tangan sini sampai ini saja. Itu tangan dua-duanya, seperti melepuh,” ujarnya.
Hal yang paling menyesakkan adalah trauma psikis yang terbawa ke rumah. Akibat sering dipaksa tidur di lantai tanpa alas di daycare, anak Choirunisa kini mengalami gangguan perilaku saat istirahat.
“Dia menangis minta tidur di bawah, kebiasan di daycare ternyata tidurnya di bawah,” terangnya.
Polisi kemudian memasang garis polisi di lokasi daycare.
Saat ini dugaan adanya penganiayaan dan tindakan tidak manusiawi dari pegawai daycare masih dalam penyelidikan aparat kepolisian.
(TribunJogja.com/Miftahul Huda) (Tribunnews.com/Nanda Lusiana) (Kompas.com/Wisang Seto Pangaribowo) (Bangkapos.com)