BANJARMASINPOST.CO.ID - Aktris Michelle Ziudith mengaku mengalami penuaan dini gara-gara main sinetron.
Dia mengaku, satu penyebabnya adalah karena sering menangis.
Sebenarnya, Michelle Ziudith kembali mengukir prestasi dalam kariernya, yakni mempertahankan sinetron terbaru bertajuk 'Jejak Duka Diandra' hingga 100 episode.
Keberhasilan Michelle harus dibayar mahal, karena banyak sekali tantangan sulit yang harus ia lewati dalam perannya menjadi Diandra.
Salah satunya adalah wanita kelahiran Medan, Sumatera Utara ini sering sekali menangis dalam setiap adegannya.
"Waduh tantangan terbesarnya mungkin kerutan di bawah mata, kerutan di samping mata, penuaan dini wah," kata Michelle Ziudith pada beberapa waktu lalu.
Baca juga: Situasi Asli Mulan Jameela dan Maia Estianty Cs di Nikahan El-Syifa Disorot Dewi Motik: Sejajar
Wanita berusia 31 tahun itu memastikan akting menangisnya dilakukan secara natural tanpa alat bantu, sehingga muncul kerutan disamping matanya.
Karena seringnya air mata yang mengering tanpa dihapus demi menjaga kesinambungan gambar, Michelle Ziudith Waselly sempat mengalami iritasi parah.
"Air mata aku kan sampai mengering nungguin take. Jadi nangis, nungguin take, nangis lagi. Itu sampai (kulit) aku lecet, selecet-lecetnya. Karena habis nangis itu enggak dilap, aku bilang 'jangan dihapus, sayang air mata asli'," ucapnya.
"Itu yang bikin kulit merah, panas, lecet-lecet banget sampai infeksi mata. Waktu itu syuting di rumah Dimitri dan Adam," tambahnya.
Uniknya, pemain film 'Magic Hour' dan 'London Love Story' ini, memiliki cara tersendiri untuk memancing emosinya agar bisa menangis dalam waktu singkat.
"Aku tuh sering meromantisasi, misalnya pesanan makanan datangnya terlambat, pas makanannya sampai sudah harus take, itu bisa bikin aku nangis. Terbiasa merangkul rasa, jadi sesimpel lihat tangan Dimitri (Rio Dewanto) saja aku bisa langsung sedih," jelasnya.
Karena harus dilewati dengan beban yang berat, Michelle Ziudith bangga karena sinetronnya yang tayang di SCTV di apresiasi oleh penonton sampai 100 episode.
"Semoga kalian suka dan tidak bosan lihat bucinnya Diandra dan Dimitri," ujar Michelle Ziudith.
Sinetron 'Jejak Duka Diandra' tayang di SCTV setiap hari, dibintangi oleh Rio Dewanto, Ibrahim Risyad, hingga Michelle Ziudith.
Betapa enaknya jadi bayi, bisa menangis sepuasnya tanpa dihakimi. Justru disayangi, ditenangkan, diberi makan. Kadang, itu saja sudah cukup membuat hari terasa lebih baik.
Tapi begitu dewasa, air mata harus disembunyikan. Di kantor, tangisan hanya boleh di kamar mandi, itu pun sambil berharap bilik sebelah kosong agar kerentananmu tak jadi bahan gosip. Dunia di luar sana terasa keras, bahkan untuk sekadar menangis sendirian.
Kita semua punya alasan untuk menangis. Entah itu karena kepergian orang terkasih, konflik pekerjaan, atau sekadar menemukan sesuatu yang menyentuh di media sosial.
Dr. Alla Demutska, direktur klinis psikoterapi dan konseling di The School of Positive Psychology, mengatakan menangis adalah pengalaman yang unik bagi manusia.
"Sementara hewan menghasilkan air mata untuk melindungi mata, hanya manusia yang menangis secara emosional. Filsuf Hippocrates berteori bahwa air mata adalah 'uap dari hati yang mendidih karena emosi'," katanya.
Saat bayi, kita menangis untuk menandakan kebutuhan dasar kita; lapar, tidak nyaman, dan bahaya. Namun, dengan bertambahnya usia, serta menjalani babak-babak penting dalam hidup, termasuk pernikahan, kelahiran, dan kehilangan, tangisan bergeser menjadi tangisan yang lebih pelan, mengekspresikan kedalaman emosi yang kompleks.
"Seperti panci presto, menangis dapat berfungsi sebagai katup tekanan untuk melepaskan perasaan tertekan seperti sedih, frustrasi, atau bahkan bahagia", kata Serene Lee, seorang psikoterapis dan pendiri pusat konseling ICCT.sg.
Secara fisik, menangis memungkinkan tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan prolaktin melalui air mata.
"Setelah menangis, tubuh menjadi rileks, detak jantung melambat dan napas menjadi lebih dalam, dan itulah mengapa kita sering merasa lebih ringan atau lebih damai," kata Lee.
Tetapi mengapa kita juga menangis saat bahagia? Itu terjadi ketika sistem emosional dipenuhi oleh intensitas positif.
"Jalur emosional di otak dapat tumpang tindih untuk kesedihan dan kebahagiaan, sehingga menangis menjadi pelampiasan emosi yang kuat," kata Lee.
Kita meneteskan air mata saat bahagia karena emosi kita 'terlalu meluap' untuk ditampung. Menangis membantu tubuh kita melepaskan luapan emosi tersebut, meskipun positif. Menangis juga berfungsi sebagai cara untuk mengungkapkan rasa syukur, kelegaan, atau ikatan batin yang mendalam.
Seberapa sering manusia menangis
Saat bayi berusia enam minggu, ia akan menangis rata-rata sekitar 2,25 jam per hari, menurut meta-analisis studi yang melibatkan hampir 8.700 bayi di seluruh dunia. Pada usia 12 minggu, rata-rata tangisannya akan berkurang menjadi 68 menit per hari. Dan itu baru permulaan.
Seiring pertumbuhan dewasa, perempuan menangis jauh lebih banyak daripada laki-laki, yaitu 30 hingga 64 kali per tahun (sebagai perbandingan, laki-laki menangis lima hingga 17 kali per tahun).
Namun, hal ini bukan disebabkan oleh perbedaan biologis seperti hormon. Sebaliknya, perbedaan frekuensi ini mencerminkan norma ekspresifitas, kata Dr. Demutska, mengutip sebuah studi yang mengamati lebih dari 7.000 individu dari 37 negara.
Rasa bersalah atau malu karena menangis sering kali berasal dari pengondisian sosial dan norma gender.
"Perempuan, terutama di lingkungan profesional, mungkin khawatir dianggap 'terlalu emosional' atau 'tidak profesional', sehingga mereka menginternalisasi keyakinan bahwa menangis harus disembunyikan."
Banyak pria, tambahnya, juga diajari bahwa menangis sama dengan kelemahan. "Mereka menekan emosi untuk mempertahankan rasa kendali atau maskulinitas. Menangis sebenarnya adalah respons alami manusia, dan itu bukan tanda kelemahan."
Pentingkah menangis?
Tentu saja menangis itu penting. Menurut Lee, menangis itu seperti membersihkan lemari emosi. Jika disimpan rapat-rapat, isinya akan menumpuk dan terasa berat.
"Membiarkan diri menangis sesekali membantu Anda merasa seimbang dan manusiawi. Setelah seminggu yang penuh tekanan, seseorang mungkin menangis sambil menonton film yang menyentuh hati dan setelahnya merasa 'segar', siap menghadapi hari berikutnya," katanya.
Terus-menerus menahan air mata dapat mengakibatkan mati rasa emosional, mudah tersinggung, atau bahkan gejala fisik seperti sakit kepala, kelelahan, atau ketegangan otot.
"Membiarkan diri menangis menandakan penerimaan diri dan kejujuran emosional," kata Lee.
Di sisi lain, Dr. Demutska percaya bahwa menangis hanyalah salah satu alat dalam perangkat pengaturan emosi kita.
"Saya tidak percaya semua orang harus menangis agar sehat. Beberapa orang memproses emosi secara efektif melalui cara lain seperti aktivitas fisik, ekspresi kreatif, pemrosesan verbal, atau strategi kognitif." katanya.
Yang penting, adalah kita menyadari emosi yang dirasakan dan mampu memodulasi intensitas emosi kita saat dibutuhkan.
"Jika menangis memiliki fungsi-fungsi tersebut bagi Anda, menangis itu berharga. Jika strategi lain lebih efektif, menangis bukanlah suatu keharusan."
Selain menangis, Dr. Demutska berpendapat bahwa seharusnya ada cara lain untuk mengelola stres; jika tidak, hal ini menunjukkan kemampuan koping yang terbatas.
Menurutnya menangis juga tidak sehat jika frekuensi atau intensitasnya mengganggu aktivitas sehari-hari, memengaruhi hubungan, dan/atau disertai pikiran untuk melukai diri sendiri.
"Menangis tanpa mengetahui alasannya, berulang kali, dapat menunjukkan kesulitan dalam memahami emosi atau proses disosiatif," katanya.
Merasa ingin menangis terus-menerus merupakan tanda lain bahwa kita membutuhkan bantuan profesional. Menangis tanpa adanya resolusi dapat mengindikasikan depresi, gangguan duka yang berkepanjangan, atau respons trauma.
(Banjarmasinpost.co.id/WartaKotalive.com)