Dari Depok Rahmi Menghidupkan Kebaya Jadi Gaya Hidup Sehari-hari
GH News April 26, 2026 10:09 PM
Depok -

Berapa banyak di antara kita yang menganggap kebaya hanya cocok untuk pernikahan atau acara formal? Sebenarnya, jika diamati lebih dekat, kebaya justru menjadi "Outfit of the Day" (OOTD) yang paling khas bagi perempuan Indonesia, yang dapat dikenakan dalam berbagai acara, mulai dari berbelanja di pasar hingga bekerja di sawah.

Acara "Cerita Kebaya: Diskusi, Praktik Berkain, dan Trunk Show" berlangsung pada Rabu, (22/4/2026) di Rumah Grypuri, Perumahan Depok Indah, Depok, mengisahkan kebangkitan kembali kebaya sebagai pakaian pokok dalam mode sehari-hari.

Rahmi Hidayati, pendiri Komunitas Kebaya Indonesia, menjadi motor acara itu. Dia menciptakan suasana ramah juga mengajak peserta dari berbagai kalangan untuk berefleksi sekaligus berfokus pada strategi untuk melestarikan warisan budaya bangsa.

Belakangan cukup banyak perempuan yang memakai kebaya, tetapi kebanyakan dikenakan dalam acara-acara resmi atau perayaan hari besar. Rahmi menyebutnya sebagai hambatan terbesar.

"Fakta itu yang kita hadapi saat ini. Anggapan bahwa mengenakan kebaya dan kain tradisional masih menjadi perkara yang rumit," kata Rahmi.

Memang, ada kelompok yang sudah lebih fleksibel dalam memakai kebaya. Rahmi mencontohkan mahasiswi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik serta Fakultas Sastra yang semakin berani mengenakan kebaya. Hanya saja, ada satu catatan buat dia, para mahasiswa itu memadukan kebaya itu bukan dengan kain seperti pakemnya.

Mereka sering kali memadukannya dengan celana jeans atau pakaian kasual lainnya. Perubahan cara berpakaian ini juga direspons Rahmi dengan pendekatan yang tidak konfrontatif.

Alih-alih melakukan protes atau menyalahkan norma-norma yang berlaku saat ini, Rahmi memilih strategi yang lebih inklusif.

"Aku nggak protes. Aku bilang, 'Kalian keren-keren loh pakai kebaya atasnya. Ih, lebih keren lagi kalau bawahnya pakai kain loh,' sambil ketawa-ketawa. Mereka jawabnya hampir sama: 'Ribet, Bu, kalau pakai kain.' Di situlah kita masuk, 'Ih gampang kok, nih nanti kita bikin tutorial berkain,'" kata Rahmi.

"Ini cara kita 'meracuni' anak muda agar bangga berkebaya. Kita ajarkan tutorialnya agar mereka tahu cara pakai yang nyaman untuk aktivitas harian," dia menambahkan.

Krisis nilai berkebaya

Bagi para traveler yang gemar blusukan ke pasar tradisional, pasar sering kali menjadi etalase budaya paling jujur. Namun, ada realita yang cukup membuat miris.

Dalam sebuah perjalanan ke Pasar Beringharjo di Yogyakarta dan Pasar Gede di Solo. dua pasar yang sangat kental dengan nuansa tradisiona. Pemandangan perempuan berkebaya dalam keseharian ternyata sudah sangat langka.

"Pas ke Jogja itu di Pasar Beringharjo, cuman ketemu ibu-ibu pakai kebaya itu enam orang. Itu pun sudah nenek-nenek yang jualan jamu. Di Solo juga begitu, di Pasar Gede tiap kali ke sana pasti cari nenek-nenek itu buat difoto karena selalu pakai kebaya. Cuman tiga orang," kata Rahmi.

Fenomena itu menjadi pengingat bahwa kebaya perlahan mulai tergerus oleh zaman, bahkan di pusat-pusat pelestarian tradisi seperti pasar tradisional. Padahal, pada zaman dahulu, nenek moyang kita terbiasa menaiki sepeda membawa padi dari sawah ke pasar dengan mengenakan kebaya secara luwes.

Di akhir diskusi, sebuah kesimpulan menarik didapatkan, bahwa membela negara di era modern tidak lagi harus menggunakan bambu runcing atau senapan, melainkan dengan mempertahankan identitas nasional melalui pakaian adat seperti kebaya adalah bentuk patriotisme nyata saat ini.

Rahmi mengajak masyarakat, khususnya para ibu, untuk mulai membiasakan kembali penggunaan kebaya di lingkungan keluarga.

"Misalnya keluarga di ulang tahun kasih hadiah kebaya, nanti difoto-foto pakai kebaya, pakai kain. Tinggal bilang, 'Ih kamu lucu loh, cantik loh pakai kebaya,'" kata dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.