SRIPOKU.COM - Di tengah gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, dunia diliputi perasaan optimis akan berakhirnya perang.
Namun, hingga Minggu (26/4/2026), WIB, masing-masing pihak belum menemukan titik terang untuk sepakat mengakhiri perang.
Situasi di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicunya.
Baik Iran maupun Amerika Serikat sebenarnya sudah berencana bertemu di Pakistan untuk berbicara tentang menyudahi perang.
Akan tetapi, Abbas Araghchi yang merupakan Menteri Luar Negeri Iran mendadak kembali terbang ke Timur Tengah di tengah pembicaraan mediasi.
Sementara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memilih untuk tidak datang.
Baca juga: Inggris dan Prancis Main Belakang dari AS Temui Puluhan Negara, Perang Iran Tewaskan Ratusan Anak
Mengutip thearabweekly.com, Iran masih menutup Selat Hormuz untuk pengiriman minyak dan gas alam cair global.
Sementara Amerika Serikat masih belum bersedia membuka blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan kepada Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, melalui telepon bahwa Teheran tidak akan memasuki "perundingan yang dipaksakan" di bawah ancaman atau blokade.
Dia mengatakan, Amerika Serikat harus terlebih dahulu menghilangkan blokade maritimnya sebelum para negosiator dapat mulai meletakkan dasar untuk penyelesaian.
Di lain pihak, Trump mengatakan bahwa ia membatalkan kunjungan utusannya karena terlalu banyak perjalanan dan biaya untuk apa yang ia anggap sebagai tawaran Iran yang tidak memadai.
"Iran menawarkan banyak hal, tetapi tidak cukup," kata Trump.
Trump mengatakan kepemimpinan Iran dalam kekacauan.
Di media sosial, Trump menulis:
"Ada pertikaian dan kebingungan yang luar biasa di dalam kepemimpinan Iran. Tidak ada yang tahu siapa yang berkuasa, termasuk mereka. Lagipula, kita memegang kendali penuh, mereka tidak punya kendali sama sekali! Jika mereka ingin bicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!"
Baca juga: Pintu Selat Hormuz Semakin Rapat, Iran dan Amerika Serikat Tak Temui Kesepakatan
Pemerintah Iran menegaskan, Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum adanya perang.
Sekadar informasi, sejak perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel meletus akhir Februari 2026, Iran menutup Selat Hormuz untuk pelayaran komersial.
Setelah itu, Iran menetapkan pungutan biaya bagi kapal-kapal yang ingin berlayar.
Mengutip saudigazette.com, Washington dan Teheran mengadakan pembicaraan di Islamabad dua pekan lalu, tetapi gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Negosiasi tersebut menyusul gencatan senjata selama dua pekan yang ditengahi oleh Pakistan pada 8 April 2026, yang kemudian diperpanjang oleh Trump.
Upaya diplomatik untuk putaran pembicaraan selanjutnya terus berlanjut, meskipun poin-poin utama yang dilaporkan masih menjadi kendala meliputi status masa depan Selat Hormuz, pembatasan Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran, dan program pengayaan uranium Teheran.