Galakkan Teba Modern dan Tradisional, Upaya Pemerintah Tekan Kiriman Sampah ke TPA Peh
Anak Agung Seri Kusniarti April 27, 2026 12:03 AM

TRIBUN-BALI.COM - Pengelolaan sampah organik di Jembrana terus digalakkan. Pemkab Jembrana secara tegas mengajak warga untuk mengelola sampah organik dengan bijak.

Jika di lahan luas dengan teba tradisional, untuk di lahan sempit menggunakan teba modern. Hal ini untuk terus menekan volume sampah yang dikirim ke TPA Peh karena sudah mencapai 30-40 ton sehari. 

Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan juga secara resmi mengeluarkan Surat Imbauan kebijakan Pengolahan Sampah Organik Berbasis Sumber.

Sebab, selama ini sampah organik menyumbang lebih dari 60 persen total volume sampah di TPA Peh. Dengan Teba Modern, beban tersebut diharapkan berkurang drastis.

Baca juga: EKPANSI Regional di Asia Tenggara, KKV Resmi Masuk Indonesia, Hadirkan Pengalaman Ritel Gaya Hidup

Baca juga: PESAN Bijaksana Memimpin Karangasem, Orangtua Wabup Guru Pandu Berpulang

Apalagi, daya tampung TPA semakin hari bakal semakin sempit sehingga perlu respon pengelolaan yang benar nyata. Dengan inovasi Teba modern di setiap rumah, setiap rumah tangga diimbau tidak lagi mencampur sampah organik dengan anorganik. 

Pelaksanaannya di lapangan akan dipantau dan digerakkan langsung oleh Kelian Dinas atau Kepala Lingkungan di masing-masing Desa/Kelurahan. 

"Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan TPA yang kapasitasnya makin terbatas. Teba Modern adalah jawaban bagi masyarakat urban/perkotaan dengan lahan sempit. Cukup satu lubang kecil di sudut halaman, masalah sampah sisa dapur selesai tanpa bau dan tanpa lalat, dan hasilnya bisa dijadikan pupuk kompos yang bernilai," ujar Bupati Kembang.

Sebagai langkah konkret, kebijakan ini telah mewajibkan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Jembrana untuk menjadi contoh di lingkungan masing-masing. Setiap ASN diinstruksikan telah memiliki dan mengoperasikan sistem Teba Modern atau komposter di rumahnya masing masing.

Secara tradisional, teba adalah area di belakang rumah masyarakat Bali yang berfungsi sebagai tempat pembuangan sampah alami dan dimodifikasi menjadi Teba Modern seiring menyempitnya lahan pemukiman.

Berbeda dengan lubang konvensional, Teba Modern menggunakan sistem biopori besar atau buis beton tertanam yang dilengkapi dengan penutup rapat agar mudah terurai. Hal ini memungkinkan proses pengomposan terjadi secara higienis, tidak berbau, dan tidak memerlukan ruang luas. Sementara yang lahannya sangat terbatas, bisa juga menggunakan tong komposter serta compost bag.

"Mari jadikan pengolahan sampah sebagai gaya hidup baru. Jangan biarkan sampah keluar rumah sebelum dipilah, karena melalui Teba Modern, kita sedang menabung kesuburan tanah untuk masa depan anak cucu kita," tegas Bupati Kembang Hartawan. (mpa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.