Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pengawasan daycare di Solo mulai diperketat menyusul temuan dugaan pengasuhan anak yang tidak manusiawi di Yogyakarta.
Pemerintah Kota Solo mulai menata ulang ekosistem tumbuh kembang anak, mulai dari posyandu hingga daycare dan pendidikan anak usia dini (PAUD).
Langkah ini dilakukan sebagai respons atas kekhawatiran publik terkait keamanan dan kualitas pengasuhan anak usia dini di daycare.
Ditemui di sela kegiatannya, Wali Kota Solo Respati Ardi menyampaikan bahwa pengawasan dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
"Kita sangat-sangat berpikir bahwa dari awal hingga akhir penataan mulai dari posyandu sampai ke daycare sampai ke Paud, sampai ekosistem penitipan anak dan sekolah-sekolah fullday ini akan kita perhatikan. Nanti akan kita perhatikan terus," urai Respati, Minggu (26/4/2026).
Respati menegaskan bahwa perhatian terhadap anak usia dini menjadi prioritas utama Pemerintah Kota Solo.
Pengawasan tidak hanya dilakukan pada daycare, tetapi juga seluruh lingkungan pendukung tumbuh kembang anak.
Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan adanya pelanggaran di tempat penitipan anak di Solo.
"Anak usia dini menjadi perhatian khusus kita nanti ke depan," lanjutnya.
Baca juga: Senyum Anak-anak PAUD di Semarang Dapat Bimbingan Astra Motor Jateng, Wujud Sinergi Bagi Negeri
Dalam kesempatan tersebut, Respati juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dan pelaku usaha daycare dalam menjaga kualitas pengasuhan anak.
Ia menekankan bahwa keamanan anak harus menjadi prioritas utama, serta meminta adanya keterbukaan dari pengelola daycare.
"Ya mungkin pasti keamanan anak itu nomor satu. Dan saya harapkan dari orang tua dan pelaku usaha daycare harap terbuka. Nanti akan kita awasi terus," pungkasnya.
Sebagai informasi, kasus daycare bermasalah di Yogyakarta terjadi di wilayah Umbulharjo.
Berdasarkan laporan per 26 April 2026, polisi menemukan dugaan kekerasan terhadap anak setelah melakukan penggerebekan pada 24 April 2026.
Dari hasil penyelidikan awal, sebanyak 53 anak diduga menjadi korban, sebagian besar masih berusia balita, bahkan di bawah dua tahun.
(*)