Jemaah Haji Dapat Air 1 Liter per Hari di Tengah Panas Ekstrem
Abdul Azis Alimuddin April 27, 2026 01:21 AM

Hasim Arfah
Wartawan Tribun Timur dan Media Centre Haji 2026 dari Arab Saudi

TRIBUN-TIMUR.COM - Suasana Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah, masih dipadati arus kedatangan jemaah haji Indonesia.

Memasuki hari ke-6 operasional, pergerakan jemaah berlangsung nyaris tanpa jeda.

Hingga saat ini, sebanyak 72 kelompok terbang (kloter) dengan total 28.004 jemaah telah tiba di Tanah Suci.

Kloter terakhir yang mendarat tercatat SOC 13 pada pukul 05.45 waktu setempat.

Petugas tampak sigap mengurai arus kedatangan.

Satu per satu jemaah diarahkan menuju bus untuk diberangkatkan ke hotel masing-masing.

Kepala Daker Bandara, Abdul Basir, memastikan tidak ada jemaah yang tertahan di bandara.

“Semua jemaah sudah diberangkatkan ke hotel. Proses layanan berjalan lancar meski ada tantangan,” ujarnya.

Di lapangan, tantangan itu terlihat nyata.

Dari total jemaah, sebanyak 5.655 orang merupakan lansia.

Jumlah ini membuat ritme pelayanan harus menyesuaikan.

Kursi roda, payung, hingga mobil golf menjadi pemandangan yang mendominasi area bandara.

Petugas harus bergerak ekstra.

Tak hanya membantu mobilitas, mereka juga mendampingi proses pemeriksaan dokumen.

Setiap visa dipindai satu per satu.

Proses ini memakan waktu lebih lama, terutama bagi jemaah lansia yang belum terbiasa dengan prosedur.

“Kami bahkan membantu membuka paspor saat proses scan,” kata Abdul Basir.

Kendala lain muncul dari sisi komunikasi.

Sebagian jemaah lebih fasih menggunakan bahasa daerah.

Sementara tidak semua petugas memahami bahasa tersebut.

Dari sisi kesehatan, rata-rata 30 jemaah per kloter menggunakan kursi roda.

Kondisi ini menjadi tantangan saat proses naik ke dalam bus.

Apalagi waktu layanan terbatas.

Keberangkatan jemaah pun tidak dilakukan sekaligus.

Mereka diberangkatkan bertahap per bus, menyesuaikan regulasi otoritas Arab Saudi.

Setiap bus baru bergerak setelah proses pemindaian visa selesai.

Dari bandara menuju hotel di Madinah, perjalanan ditempuh sekitar 30 menit.

Dalam 2 hingga 3 hari ke depan, arus kedatangan diperkirakan mencapai puncak.

Sekitar 20 kloter per hari dijadwalkan tiba.

Saat ini, rata-rata masih di angka 18 kloter per hari.

Suhu Panas

Di sisi lain, tantangan berbeda menanti jemaah di Makkah.

Suhu panas yang menyengat menjadi ujian tersendiri.

Di tengah kondisi itu, seteguk air menjadi sangat berarti.

Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi bersama PPIH menyiapkan pasokan air minum.

Setiap jemaah mendapatkan jatah satu liter per hari.

Distribusi dilakukan melalui hotel tempat jemaah menginap.

Kepala Daker Makkah PPIH, Ihsan Faisal, memastikan sistem berjalan terorganisir.

“Setiap jemaah berhak mendapatkan satu liter air per hari. Jika habis, hotel akan mengisi kembali,” ujarnya saat meninjau Emaar Al Diyafa Hotel di kawasan Syisyah.

Air minum ini bukan sekadar kebutuhan dasar.

Lebih dari itu, menjadi bagian penting menjaga kondisi fisik jemaah.

Aktivitas ibadah yang padat membutuhkan stamina yang prima.

Tawaf dan sa’i, misalnya, menuntut kekuatan fisik di tengah suhu tinggi.

Selain air minum, kesiapan akomodasi juga terus dimatangkan.

Hotel-hotel di Makkah dijadwalkan mulai ditempati pada 30 April 2026.

Fasilitas yang disiapkan cukup lengkap.

Mulai dari kamar, layanan kebersihan, hingga akses transportasi menuju Masjidil Haram.

Dalam satu kamar, tiga hingga empat jemaah akan ditempatkan.

Pengaturan ini untuk menjaga keseimbangan antara kenyamanan dan efisiensi.

“Secara umum hotel sudah siap ditempati,” kata Ihsan.

Di tengah jutaan jemaah yang memadati Makkah, satu liter air per hari mungkin terlihat sederhana.

Namun, di balik itu, tersimpan upaya besar menjaga kekuatan jemaah hingga puncak ibadah.

Salat Arbain

Sementara itu di Madinah, jemaah juga diingatkan untuk mengatur ritme ibadah.

Terutama saat berada di Masjid Nabawi.

PPIH mengimbau agar jemaah, khususnya lansia, tidak memaksakan diri menuntaskan salat Arbain.

Pembimbing Ibadah PPIH Daker Bandara, Anis Diyah Puspita, menegaskan Arbain bukan rukun maupun wajib haji.

Karena itu, tidak memengaruhi keabsahan ibadah.

“Jemaah banyak yang lansia, tidak harus memaksakan Arbain,” ujarnya.

Menjaga kesehatan menjadi prioritas utama.

Apalagi menjelang puncak haji di Arafah.

Kelelahan justru bisa berdampak pada pelaksanaan rukun utama.

Sejak awal kedatangan, jemaah terus diingatkan untuk mengatur aktivitas.

Salat di Masjid Nabawi tetap dianjurkan.

Namun, kondisi fisik harus menjadi pertimbangan.

Jika lelah, jemaah diminta beristirahat.

Ibadah bisa dilakukan di hotel.

“Kalau sehat silakan. Tapi kalau lelah, salat di hotel juga tetap berpahala,” kata Anis.

Pesan ini menjadi penegas.

Bahwa ibadah haji bukan sekadar soal kuantitas.

Tetapi juga tentang kesiapan fisik dan keselamatan.

Dengan stamina terjaga, jemaah diharapkan mampu menjalani puncak haji dengan lancar dan khusyuk.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.