Mengukir Jejak Kartini: Inspirasi Kekuatan dan Kepemimpinan Perempuan di Madrasah
Abdul Azis Alimuddin April 27, 2026 01:21 AM

Oleh: Dian Sari
Guru MAN Insan Cendekia Gowa / Kader Fatayat NU Sulsel

TRIBUN-TIMUR.COM - Dalam momentum peringatan hari Kartini, ada perubahan yang perlu dirayakan: perempuan tidak lagi sekadar hadir mengajar di ruang kelas, tetapi juga mengambil peran di ruang kepemimpinan.

Di lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia, arah ini bukan hal baru.

Sejak lama, perempuan telah menjadi bagian penting dalam pengelolaan dan pengembangan madrasah—meski sering luput dari sorotan.

Belakangan, penguatan itu semakin terlihat, termasuk pada level strategis, seperti kehadiran Nyayu Khodijah sebagai Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah.

Ini menjadi sinyal penting bahwa peran perempuan tidak hanya bekerja di lapangan, tetapi juga turut menentukan arah kebijakan.

Dampaknya mulai terasa, termasuk di Sulawesi Selatan.

Selama ini, madrasah kerap dipersepsikan sebagai ruang yang relatif konservatif dalam hal kepemimpinan.

Perempuan hadir dalam jumlah besar sebagai guru, tetapi tidak selalu terlihat di posisi pengambil keputusan.

Ada semacam “langit-langit tak terlihat” yang membatasi langkah mereka.

Fenomena ini bukan tanpa konteks.

Secara global, data UNESCO menunjukkan bahwa perempuan mendominasi profesi guru, khususnya pada jenjang pendidikan dasar.

Di Indonesia, pola serupa juga terlihat.

Data Badan Pusat Statistik mencatat bahwa perempuan merupakan bagian signifikan dari tenaga pendidik, terutama di jenjang dasar dan menengah.

Namun dominasi itu berhenti di ruang kelas.

Ketika masuk ke level kepemimpinan, jumlahnya menyusut.

Inilah yang sejak lama dikenal sebagai “feminisasi profesi pendidikan”—perempuan hadir kuat sebagai pengajar, tetapi belum sepenuhnya terwakili dalam posisi kepemimpinan.

Kini, langit-langit itu mulai retak.

Di Sulawesi Selatan, perubahan itu bukan sekadar narasi.

Ia hadir dalam angka, prestasi, dan kepemimpinan yang teruji.

MAN 2 Kota Makassar misalnya, terus mencetak prestasi gemilang di tingkat nasional maupun internasional.

Di bawah kepemimpinan Darmawati sejak 2021, madrasah ini tidak hanya mampu menjaga reputasinya sebagai madrasah unggulan, tetapi juga memperluas capaian hingga ke tingkat global.

Berdasarkan rilis resmi Pusat Prestasi Nasional pada 1 Agustus 2025, madrasah ini berhasil masuk dalam jajaran Top 20 Madrasah Aliyah Terbaik se-Indonesia sekaligus Top 100 nasional jenjang SMA/MA.

Dari Kabupaten Gowa, sosok perempuan inspiratif di balik kemajuan MAN Insan Cendekia Gowa adalah Supiana.

Sebagai kepala madrasah pertama pada periode 2018–2022, Ia berhasil mengantarkan hampir 90 persen siswa angkatan pertama diterima di berbagai PTN, PTKIN dan sekolah kedinasan.

Berdasarkan data LTMPT (2022), madrasah ini juga mencatat rerata skor UTBK tertinggi di Provinsi Sulawesi Selatan.

Capaian tersebut menjadi penanda bahwa pada fase awal pendiriannya, madrasah ini telah ditopang oleh kepemimpinan yang visioner dan terukur.

Sosok perempuan lain yang turut menunjukkan kapasitas kepemimpinan di madrasah adalah Nurhaedah.

Saat ini ia memimpin MTsN 1 Kota Makassar, setelah sebelumnya menjabat sebagai kepala MAN 1 Kota Makassar.

Rekam jejak ini menunjukkan kepemimpinan yang keberlanjutan, berpengalaman dan adaptif dalam mengelola madrasah pada jenjang yang berbeda.

Pada jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), kepemimpinan perempuan juga terlihat di beberapa satuan pendidikan.

Marsufa saat ini menjabat sebagai Kepala MIN 1 Makassar, sementara MIN 2 Kota Makassar dipimpin oleh Nelvy.

Keduanya juga menunjukkan keberhasilan dalam kepemimpinannya, dengan berbagai capaian yang turut menguatkan kualitas dan perkembangan madrasah pada jenjang dasar.

Dari Kabupaten Jeneponto, Ihdiana Kepala MAN Jeneponto juga turut mewarnai kiprah kepemimpinan perempuan di madrasah.

Pada masa jabatan pertamanya, ia berhasil mencatat sejumlah prestasi yang memperkuat capaian madrasah yang dipimpinnya.

Kisah-kisah itu tidak berdiri sendiri.

Di berbagai madrasah di Sulawesi Selatan, ada banyak kisah perempuan megah lainnya yang juga memimpin, mengelola, dan menggerakkan perubahan.

Mereka bekerja dalam sunyi, memastikan mutu pendidikan terjaga, membangun budaya belajar, dan menguatkan karakter siswa.

Fakta-fakta ini mengarah pada satu kesimpulan yang jelas: perempuan tidak sedang “mencoba” memimpin.

Mereka sudah memimpin—dan berhasil.

Namun, keberhasilan ini belum sepenuhnya menjadi arus utama.

Di banyak tempat, perempuan masih harus membuktikan diri lebih keras untuk mendapatkan kepercayaan yang sama.

Mereka tidak hanya dinilai dari kinerja, tetapi juga dari persepsi—apakah cukup tegas, cukup kuat, atau cukup layak.

Dalam situasi ini, masih terasa adanya apa yang sering disebut sebagai glass ceiling atau “langit-langit kaca”—sebuah batas tak terlihat yang membuat perempuan sulit melangkah ke posisi kepemimpinan tertinggi, meski kapasitas dan prestasinya telah terbukti.

Di sinilah tantangannya: kepemimpinan masih sering dibayangkan dalam kerangka lama yang maskulin—otoritatif, hierarkis, dan dominan.

Sementara itu, gaya kepemimpinan perempuan yang kolaboratif, komunikatif, dan berbasis relasi kerap disalahpahami sebagai kelemahan.

Padahal, dalam dunia pendidikan yang menuntut adaptasi dan kerja tim, pendekatan ini justru menjadi kekuatan.

Madrasah, sebagai institusi pendidikan yang mengajarkan nilai keadilan, telah menunjukkan komitmennya dalam praktik kesetaraan.

Memberi ruang bagi perempuan untuk memimpin bukan sekadar soal keterwakilan, tetapi soal kualitas pendidikan itu sendiri.

Ketika akses dibuka secara adil, yang muncul bukan sekadar representasi—melainkan kualitas terbaik.

Dalam konteks ini, langkah Kementerian Agama Republik Indonesia patut diapresiasi.

Di tingkat daerah, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan di bawah kepemimpinan Ali Yafid menunjukkan arah yang semakin inklusif.

Ruang bagi perempuan untuk tampil dalam kepemimpinan madrasah kian terbuka melalui penguatan sistem seleksi berbasis merit, pembinaan berkelanjutan, serta dorongan untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif.

Hasilnya tampak konkret pada November 2025, ketika 15 kepala madrasah dilantik—9 di antaranya perempuan.

Komposisi ini bukan sekadar angka, melainkan penanda perubahan arah.

Bahwa kepemimpinan tidak lagi ditentukan oleh persepsi lama, melainkan oleh kapasitas dan kinerja.

Namun pekerjaan belum selesai. Membuka akses adalah langkah awal; memastikan keberlanjutan dan pemerataan adalah tantangan berikutnya.

Tanpa itu, keberhasilan yang hari ini kita rayakan berisiko berhenti sebagai pengecualian, bukan menjadi arah baru dalam wajah kepemimpinan madrasah.

Kartini pernah membayangkan dunia di mana perempuan memiliki akses yang setara untuk belajar.

Hari ini, bayangan itu bergerak lebih jauh.

Perempuan tidak hanya hadir sebagai peserta didik atau pendidik, tetapi juga turut menentukan arah.

Dari madrasah, jejak itu kini semakin jelas: Kartini tidak hanya dikenang—ia sedang dilanjutkan.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.