Psikiater Soroti Risiko Trauma sampai PTSD Anak yang Jadi Korban Daycare di Jogja
GH News April 27, 2026 09:08 AM
Jakarta -

Belakangan ramai soal penitipan anak (daycare) Little Aresya di Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja diduga melakukan kekerasan dan diskriminasi terhadap anak-anak yang dititipkan di sana.

Kasat Reskrim Polresta Jogja Kompol Riski Adrian mengungkap kondisi anak yang dititipkan di daycare tersebut. Petugas melihat anak-anak dalam kondisi terikat.

"Karena ada juga yang kakinya diikat, tangannya diikat dan sebagainya. Secara umum seperti itu yang bisa saya jelaskan," katanya, dikutip dari detikJogja, Senin (27/4/2026).

Menurut psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, kasus yang terjadi di daycare tersebut dapat berdampak besar pada kondisi mental anak. Mereka bisa saja mengalami trauma yang mengganggu kehidupannya.

dr Lahargo menjelaskan dampak yang muncul bergantung pada usia, frekuensi kekerasan, dan bentuk kekerasan yang dialami. Meski tidak bisa bercerita, anak-anak akan menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka mengalami trauma yang berat.

"Trauma sering tidak muncul dalam bentuk 'cerita' yang bisa disampaikan dengan bahasa verbal yang jelas dan baik, tetapi melalui perubahan perilaku," ujarnya saat dihubungi detikcom, Minggu (26/4).

Tanda-tanda trauma yang dapat muncul dan perlu diwaspadai, seperti:

  • Anak menjadi lebih takut, mudah menangis, atau sangat lengket pada orang tua.
  • Sulit tidur, mimpi buruk, terbangun malam, atau takut ditinggal.
  • Regresi perkembangan, misalnya kembali mengompol, rewel berlebihan, atau bicara menjadi lebih sedikit, tidak lancar bicara padahal sebelumnya bisa.
  • Menjadi mudah kaget, agresif, atau justru sangat diam dan menarik diri.
  • Takut pada orang tertentu, seragam tertentu, atau tempat tertentu seperti daycare.
  • Gangguan makan dan penurunan rasa aman dasar (basic trust).

"Jika berat, anak dapat mengalami trauma psikologis yang menetap, termasuk gejala mirip PTSD pada anak," kata dr Lahargo.

"Anak mungkin belum mampu menjelaskan lukanya dengan kata-kata, tetapi perilakunya selalu bercerita. Bukan semua anak bisa berkata 'aku terluka', kadang mereka hanya menjadi lebih diam, lebih marah, atau lebih takut," tuturnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.