Polemik RTH Alun-Alun Kediri, Pemkot Buka Dialog dengan Tokoh Masyarakat
faridmukarrom April 27, 2026 09:48 AM

TRIBUNMATARAMAN.COM | KEDIRI -  Polemik pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Kediri yang hingga kini belum rampung terus menjadi sorotan publik.

Pemerintah kota pun mulai membuka ruang dialog bersama tokoh masyarakat untuk mencari solusi atas proyek yang sempat mandek tersebut.

Forum diskusi digelar di kediaman salah satu tokoh masyarakat dan dihadiri sejumlah pejabat daerah, termasuk perwakilan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) serta Dinas Komunikasi dan Informatika.

Dalam pertemuan itu, berbagai aspirasi disampaikan terkait kelanjutan pembangunan kawasan alun-alun.

Salah satu tokoh yang angkat bicara adalah Muhammad Anwar Iskandar atau Gus War. Ia menekankan pentingnya percepatan pembangunan agar kawasan pusat kota tidak terkesan terbengkalai.

Baca juga: Jadwal Baru MotoGP Prancis 2026 Usai Spanyol Live Trans7, Alex Marquez Ungkap Ini Pasca Juara Jerez

“Harapannya pembangunan RTH Alun-Alun Kediri bisa segera dilanjutkan agar tidak tampak kumuh. Kebersihan dan kerapian itu mencerminkan masyarakat Kota Kediri yang tertib dan peduli lingkungan,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan alun-alun memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai ruang terbuka, tetapi juga sebagai pusat aktivitas sosial dan ekonomi. Ia menyoroti dampak pembangunan terhadap pelaku UMKM yang sebelumnya menggantungkan penghasilan di kawasan tersebut.

“Dulu sebelum dibangun itu kan tempat masyarakat berjualan mencari nafkah. Setelah dibangun mereka berhenti. Nanti setelah selesai, mereka bisa kembali aktif berjualan, ini penting dari sisi sosial dan ekonomi,” jelasnya.

Gus War juga menilai, jika proyek ini dapat diselesaikan dengan baik, maka manfaatnya akan terasa luas. Selain mempercantik wajah kota, keberadaan RTH juga dapat menghidupkan kembali ekonomi masyarakat serta menjadi ruang rekreasi yang sehat.

“Kalau selesai dengan baik, pertama wajah Kota Kediri akan terlihat rapi dan bersih. Kedua, UMKM bisa hidup lagi. Ketiga, jadi tempat rekreasi masyarakat,” tambahnya.

Ia mengingatkan bahwa kondisi proyek yang berlarut-larut bisa memunculkan persepsi negatif terhadap kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Karena itu, ia mendorong semua pihak untuk segera menemukan titik temu.

“Kalau dibiarkan seperti ini, kesannya masyarakat tidak peduli kebersihan dan ketertiban. Ini yang harus dijaga bersama,” tegasnya.

Lebih lanjut, Gus War menekankan bahwa penyelesaian persoalan pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari sisi material semata. Aspek sosial dan kemanusiaan, menurutnya, harus menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.

(tribunmataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.