Asal-usul Nama Desa Jungkare di Klaten : Ada Kisah Legenda Nyai Jengkare dan Kyai Ageng Gribig
Hanang Yuwono April 27, 2026 12:15 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Jungkare adalah nama desa yang terletak di Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Desa Jungkare ini terdiri dari 14 rumah tangga (RT).

Lokasinya berjarak 32 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 1 jam kendaraan pribadi.

Baca juga: Rekomendasi Wisata di Sragen : Relaksasi di Pemandian Air Panas Bayanan, Bisa untuk Terapi

Sejarah Desa Jungkare

Desa ini memiliki sejarah yang kaya, dimulai dengan kisah dua tokoh legendaris, Nyai Jengkare dan Kyai Ageng Gribig.

Mereka membakar hutan belukar di wilayah tersebut, yang kemudian menjadi padukuhan yang subur dengan berbagai jenis tanaman.

Nama "Jungkare" sendiri berasal dari kata "jengkar" yang berarti berpindah, merujuk pada pergerakan Kyai Ageng Gribig ke arah barat.

Selain itu, Desa Jungkare juga dikenal dengan kisah perjuangan Kyai Mojo dalam Perang Diponegoro, yang menghadapi pasukan Belanda.

Baca juga: Adu Banteng di Purwantoro Wonogiri, Pelajar 15 Tahun Kendarai Pick Up, Tabrak Motor Saat Nyalip

Kyai Mojo yang berhasil melarikan diri dan bersembunyi di goa-goa buatan di dekat desa, memiliki peranan penting dalam sejarah desa ini.

Setelah pertempuran, Muthahal, anak buah Kyai Mojo, memenangkan sayembara yang mengarah pada pengangkatannya sebagai Bupati Anom dan pendirian pabrik gula di desa ini, yang kini menjadi kenangan sejarah.

SAMBUNG RASA - Bupati Hamenang, saat melakukan sambung rasa di Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (21/10/2025). Di momen tersebut, warga mengeluhkan soal pertanian dan peternakan kepada Hamenang.
SAMBUNG RASA - Bupati Hamenang, saat melakukan sambung rasa di Desa Jungkare, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Selasa (21/10/2025). Di momen tersebut, warga mengeluhkan soal pertanian dan peternakan kepada Hamenang. (TRIBUNSOLO.COM/IBNU DWI TAMTOMO)

Perjalanan Pembangunan dan Pergantian Pemimpin

Desa Jungkare telah mengalami banyak pergantian pemimpin sejak adanya lurah pada tahun 1921.

Seiring waktu, desa ini turut terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dengan menjadi markas para pejuang yang melawan penjajahan Belanda.

Banyak pemuda dari Desa Jungkare yang turut berjuang, dan ada yang gugur dalam peristiwa tersebut, seperti Much Tahrir yang dimakamkan di Makam Daleman Jungkare.

Setelah masa penjajahan, desa ini juga menjadi tempat perjuangan masyarakat terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitar pabrik gula yang ada.

Beberapa kali peristiwa demonstrasi terjadi, dan bahkan Ir. Soekarno berpidato di kediaman salah satu tokoh desa, Mbah Demang Mangunpawiro, yang menjadi titik bersejarah dalam perjalanan perjuangan masyarakat Jungkare.

Baca juga: 15 Ide Jualan Es Kekinian, Cocok Buat Bisnis Sampingan di Solo Raya

Potensi Wisata dan Kondisi Terkini

Desa Jungkare dikenal dengan potensi wisata alamnya yang menarik.

Dulu, desa ini terkenal dengan objek wisata "Nang Sawah", sebuah tempat wisata dengan spot foto yang menampilkan pesona persawahan hijau yang indah.

Wisata ini menjadi viral di kalangan anak muda Klaten berkat latar alam yang menawan, yang kemudian menarik wisatawan untuk berkunjung.

Namun, saat ini, "Nang Sawah" di Desa Jungkare dilaporkan sudah tidak beroperasi lagi dan terkesan terbengkalai.

Meskipun demikian, area ini tetap menjadi lokasi yang sering dikunjungi untuk kuliner, terutama soto yang menjadi favorit di kalangan masyarakat setempat.

Akses dan Lokasi

Desa Jungkare terletak sekitar 8 km dari pusat Kota Klaten, atau sekitar 20 menit perjalanan dengan kendaraan pribadi.

Lokasi ini mudah dijangkau, meskipun saat ini lebih dikenal sebagai tempat kuliner dan kegiatan sosial warga, daripada sebagai tujuan wisata utama.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.