Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Sebut Tarakan Zero Kasus Penyakit Mulut dan Kuku
Junisah April 27, 2026 01:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan membeberkan kondisi sapi yang siap dan layak kurban. Selama ini temuan kasus Penyakit Mulut dan Kuku) (PMK) masih zero kasus ditemukan di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara).

Dikatakan dr Richard, Medik Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan, yang perlu diwaspadai penyakit sapi adalah penyebaran penyakit pada hewan ternak. Khususnya yang sedang ramai dibahas yakni PMK.

PMK ini lanjutnya sudah diantisipasi melalui filter di Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Kaltara. Kemudian dilakukan surveilans atau pemantauan.

"Nanti akan dilakukan monitoring apakah sapi tersehut sudah vaksin. " Kalau belum kita lakukan penawaran vaksinasi dan vaksin," ujarnya.

Baca juga: Vaksin Penyakit Mulut dan Kuku Hewan Ternak di Tana Tidung Ditarget 250 Dosis, Sapi Jadi Prioritas

Ia mengatakan, penyakit yang perlu kita khawatirkan adalah penyakit yang menular ke manusia. Misalnya penyakit antraks. 

"Tapi antraks di Kalimantan, di Tarakan masih bebas. Tidak ada kasus. Tapi kewaspadaan ini muncul karena banyak sapi yang masuk dari luar Tarakan. Tapi ini sudah di-filter lagi dari karantina dengan pemeriksaan laboratorium," ujarnya.

Menurut dr Richard, yang paling utama juga harus diperhatikan adalah umur sapi. "Biasanya Umur yang sering kita temukan itu belum cukup dua tahun. Dilihat dari giginya sudah full. "Giginya sudah besar-besar. Jadi gigi sapi yang kecil itu yang masih muda itu kecil," ungkapnya.

Ditandai terdapat gigi susu dan sepasang. Artinya jika lengkap mala layak kurban karena dianggap sudah mencapai usia 2 tahun.

"Nah, edukasi ini yang masih kita terus bencar sampaikan ke masyarakat. Kenapa harus 2 tahun ke atas," bebernya. 

Baca juga: Antisipasi Penyakit Mulut dan Kuku Masuk Malinau Kaltara, Sampel Ternak Diperiksa Jelang Puasa

Untuk sapi yang terjangkit PMK juga bisa dilihat tandanya biasanya terlihat berliur. 

"Jadi kelihatan itu. Kalau misalnya sapi berjalan , dia pasti pincang dan berliur. Ya, itu berdasarkan penyebarannya ke ternak lain. Kalau untuk manusia, dia tidak bisa," bebernya.

Bagi masyarakat diharapkan bisa melaporkan lebih cepat jika ada sapi yang ditemukan sakit.

"Sebenarnya perlaporan itu kita sudah sampaikan. Misalnya di Pasir Putih sudah disampaikan. Bahwa kalau hewan sakit lapor ke dinas kita atau ke puskeswana nanti akan kita tindak lanjut," ujarnya.

Kebanyakan laporannya  terlambat disampaikan dan tidak sampai di dinas.

"Sehingga kita tidak datangi. Kadang-kadang kita datangi, sudah sembuh. Jadi memang perlaporan itu pasti akan kita respons kalau laporannya masuk," ujarnya.

dr Ricahar di Tarakan 27042026
Medii Veteriner Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan, dr Richard

Semnentara itu, jika sapi sakit dan sudah divaksinasi gejala yang muncul tidak terlalu berat. " Makanya bisa ditangani dengan biasanya peternak dengan herba  mandiri. Dengan obat-obatan alami dan ternyata sembuh juga," katanya.

Ia menambahkan  jila  berkaitan dengan kebijakan pemerintah biasanya tidak ada biaya, misalnya  vaksinasi.

"Untuk vaksinasi kita tidak mengambil biaya, kita berikan vaksin, vitamin dan obat cacing. Itu tidak dipungut biaya," ujarnya.

Diharapkan tahun ini tidak ditemukan PMK pada sapi di Tarakan."Mudah-mudahan tidak ada lah. Kalau tahun lalu tidak ada juga. Jadi memang kasusnya sudah melandai. Kita harus antisipasi tetap," tukasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.