TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Penenun asal Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), Sitti Erni membawa kain tenun khas daerahnya hingga dikenal di mancanegara.
Perempuan asal Desa Masalili, Kecamatan Kontunaga ini telah menekuni profesi sebagai penenun sejak usia 16 tahun.
Keterampilan itu diwarisi dari orang tuanya dan terus ia tekuni selama 33 tahun tanpa henti hingga kini usianya telah menginjak 49 tahun.
Bagi Erni, menenun bukan sekadar pekerjaan, tetapi bagian dari tradisi keluarga yang harus dijaga.
Sehingga, seiring waktu, kemampuannya terus berkembang, baik dari segi teknik maupun variasi motif yang dihasilkan.
Kain yang dihasilkan Erni dikenal sebagai tenun Masalili, dengan ciri khas motif tradisional dan warna cerah dari bahan alami.
Dalam proses pewarnaan, ia menggunakan bahan seperti daun mangga, kulit mahoni, dan kayu secang.
Baca juga: DJ Panda Pakai Jaket Tenun Matarombeo Saat Meriahkan Puncak HUT ke-19 Konawe Utara Sulawesi Tenggara
Ia juga mempertahankan teknik sobi, yaitu teknik yang warna motifnya hanya terlihat di permukaan kain, sementara bagian dalam tetap polos.
“Teknik ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi identitas tenun Masalili,” kata Erni kepada Tribunnewssultra.com, Minggu (26/4/2026).
Erni menyampaikan harga kain tenun buatannya bervariasi, mulai Rp250 ribu hingga Rp800 ribu untuk motif sederhana.
Sementara motif bercorak dengan pewarna alami dibanderol antara Rp1,7 juta hingga Rp2,5 juta.
Kata dia, salah satu karyanya pernah dikenakan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, pada peringatan Hari Pers Nasional tahun 2022.
Tak hanya itu, kain tenunnya juga digunakan desainer nasional dan ditampilkan dalam peragaan busana di luar negeri.
Pasarnya pun telah menjangkau sejumlah negara seperti Rusia, Jepang, hingga Prancis.
“Kalau saya belum pernah ke luar negeri, tetapi kalau hasil tenunku sudah sampai ke luar negeri untuk dipamerkan di sana,” jelasnya.(*)
(Tribunnewssultra.com/Dewi Lestari)