Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Ismet
TRIBUNPALU.COM, MOROWALI – Proyek sumur bor di Desa Kaleroang menjadi perhatian karena hingga April 2026 belum juga rampung, padahal anggaran pembangunan mencapai sekitar Rp700 juta yang bersumber dari APBD daerah tahun anggaran 2025.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Morowali, Alkaf, mengungkap kendala utama yang menyebabkan proyek sumur bor di Desa Kaleroang, Kecamatan Bungku Selatan, belum juga rampung.
Hal itu disampaikannya saat diwawancarai Tribunpalu.com di ruang kerjanya, Kantor Dinas PUPR Kabupaten Morowali, Desa Bente, Kecamatan Bungku Tengah, Senin (27/4/2026).
Menurut Alkaf, hambatan utama proyek berada pada proses mobilisasi material yang didatangkan dari luar daerah.
“Kendalanya, Bapak tahu sendiri, kalau pengadaan di pulau dengan kondisi tertentu, terutama pada mobilisasi. Di situ kendalanya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, material untuk pembangunan sumur bor tersebut didatangkan dari Surabaya, Jawa Timur, sehingga proses pengiriman memerlukan waktu lebih lama.
“Mobilisasi pengadaannya itu dari Surabaya. Materialnya dari sana,” katanya.
Baca juga: Target 54 Persen, Dinkes Sulteng Dorong Peningkatan Layanan Cek Kesehatan Gratis di Donggala
Alkaf menuturkan, kondisi geografis wilayah serta proses distribusi material menjadi faktor yang memperlambat penyelesaian pekerjaan di lapangan.
Meski demikian, pihaknya menargetkan proyek tersebut segera diselesaikan setelah seluruh material tiba dan siap digunakan.
“Targetnya secepatnya kalau semua sudah siap,” pungkasnya. (*)