Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG – Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Kupang mengimbau para lulusannya agar tidak menyalahgunakan pengetahuan dalam aktivitas sehari-hari.
Adapun SMKN 2 Kupang belakangan menjadi sorotan lantaran dua alumninya terlibat dalam phishing tools atau kejahatan siber. Dua remaja itu sudah diamankan aparat kepolisian dari Mabes Polri.
Lain sisi, SMKN 2 Kupang juga berharap pengetahuan yang ada bisa dimanfaatkan dan dikembangkan, yang tidak merugikan orang lain. Sekolah memahami adanya keterbatasan dalam penyampaian pengetahuan bagi siswa-siswi.
Wakil Kepala SMKN 2 Kupang Regina Thine, Senin (27/4/2026) bercerita, banyak siswa di sekolah tersebut yang dalam akademik memang tidak begitu menonjol. Padahal, pelajar itu memiliki kemampuan yang lebih baik.
"Setiap anak kita bisa melihatnya secara unik. Bahwa keterbatasan akademik mungkin ya, tapi ada kemampuan yang dimiliki," katanya, di temui di SMKN 2 Kupang.
Dia menyebut, semua guru di SMKN 2 Kupang menaruh harapan agar lulusan sekolah itu memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dari para gurunya. Itu merupakan sukacita dan kebanggaan juga untuk sekolah.
Terhadap dua alumni yang terlibat dalam kasus siber, Regina menyebut itu merupakan kemampuan yang dikembangkan secara individual. Namun, tindaka itu perlu dibarengi dengan pemicu.
"Mungkin mereka tidak dapatkan di sekolah. Kita berharap mereka di luar sana mereka mendapat yang terbaik. Kita berharap pemicu itu mengarahkan ke hal yang baik," katanya.
Baca juga: Rekam Pendidikan Dua Pelaku Phishing Tools asal Kupang yang Ditangkap Mabes Polri dan FBI
Dalam amatannya, Regina menyebut semua materi yang disampaikan ke siswa umumnya sama. Tidak ada perlakuan khusus bagi pelajar. Namun, ada siswa yang secara sukarela melakukan belajar tambahan.
Namun, menurut dia, hal itu merupakan wajar. Terutama bagi siswa yang berlatar belakang ekonomi menengah kebawah. Bahkan, ada siswa yang secara pengamatan tidak mencolok di akademik, tetapi sangat baik dalam kegiatan di luar sekolah.
"Ada satu yang terakhir, ikut lomba robotik. Kalau di sekolah itu biasa-biasa saja," katanya.
Pengembangan pengetahuan secara pribadi, ujar dia, bisa menjadi pemicu banyak siswa hingga alumninya berkembang. Namun, seringkali banyak anak yang tidak mengetahui dampak yang timbul ketika pendalaman pengetahuan.
"Mereka punya kemampuan tapi tidak digunakan baik, kan kasian juga," katanya.
Lorenso B Kanuru, guru pada program Broadcasting dan Perfilman SMKN 2 Kupang menambahkan, ketika ada penyalahgunaan siber maka bisa dilacak melalui jejak digital hingga alamat IP. Dia membenarkan, ada banyak hal baik yang bisa digunakan dari pengetahuan seperti ini.
"Itu bisa buat web untuk orang, itu banyak," katanya.
Lorenso mengatakan, phishing itu digunakan untuk memanipulasi domain menyerupai asli. Ketika pengguna tidak menyadari dan mengakses sistem itu dan secara otomatis mengambil data.
Menurut dia, pada sekolah tidak diajarkan materi tersebut. Tetapi, pengembangan secara otodidak bisa dilakukan. Apalagi sat ini, tutorial atau berbagai contoh bisa diperoleh dari YouTube.
Dia mengatakan, phishing seperti yang dilakukan dua alumni itu lebih cenderung menggunakan perangkat penghubung telegram, yang dinilai lebih aman. Ia juga menyebut, sekolah rutin melakukan pemeriksaan handphone agar tidak ada penyalahgunaan.
Lorenso menilai, kejadian yang dialami dua alumni SMKN 2 Kupang itu kemungkinan karena mereka tidak menyadari implikasi yang timbul dikemudian hari. (fan)