Taufiq Ismail Baca Puisi di SMA Fajar Harapan Banda Aceh, Pertemuan Batin Antara Kata dan Sejarah
Sri Widya Rahma April 27, 2026 05:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Banda Aceh

TribunGayo.com, BANDA ACEH - Ada sesuatu yang selalu terasa berbeda ketika Taufiq Ismail datang ke Aceh.

Baca juga: Penyair Indonesia Taufiq Ismail Berziarah ke Makam Budayawan Aceh Ali Hasjmy

Bukan sekadar kunjungan seorang sastrawan, melainkan semacam pertemuan batin antara kata-kata dan sejarah.

Taufiq Ismail Membaca Puisi

Di masjid Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 10 Fajar Harapan, Banda Aceh, Senin (27/4/2026) pagi, suasana itu terasa hidup.

Penyair besar berusia 91 tahun itu duduk  tegak, suaranya tetap jernih, tenaganya tak tampak surut.

Bersama istrinya, Ati Ismail, ia hadir bukan hanya sebagai tamu, tetapi sebagai penjaga ingatan yang menyalakan kembali api dalam kata-kata.

Enam puisi dibacakan. Tentang Aceh, tentang Palestina, tentang nasihat kehidupan.

Tema-tema yang berat, tetapi meluncur ringan dari bibirnya.

Para siswa duduk rapat, sekitar dua ratus pelajar dari berbagai sekolah di Banda Aceh, mendengarkan dengan khidmat.

Di ruang itu, puisi tidak lagi sekadar teks, melainkan pengalaman.

Taufiq berbagi pengalaman dan menyuntikkan semangat kepada generasi muda penuh harapan itu. 

Momen menjadi semakin hangat ketika LK Ara tampil dengan puisi barunya, “Bagaimana Kalau Taufiq Ismail Baca di Gunongan.”

Sebuah judul yang terasa seperti jembatan menghubungkan generasi, ruang dan kenangan.

Turut membaca puisi, Hanifah serta dua siswa Fajar Harapan, memberi warna bahwa sastra tidak pernah milik satu generasi saja.

Dinas Pendidikan Aceh pun menyambut hangat kehadiran ini.

Melalui perwakilannya, Syarwan Joni, Dinas Pendidikan Aceh menunjukkan antusiasme yang cepat dan sigap.

Dalam waktu singkat, koordinasi dilakukan dan pertemuan pun terwujud sebuah silaturahmi yang mungkin akan dikenang lama oleh para siswa.

Kepala sekolah, Anwar menyampaikan kegembiraannya.

Ia mengingat bagaimana puisi Taufiq, yang kemudian dipopulerkan oleh Chrisye lewat lagu “Ketika Tangan dan Kaki Berkata,” telah lama menjadi sumber motivasi di sekolahnya.

Puisi itu hidup bukan hanya di buku, tetapi dalam ingatan kolektif siswa.

Baca juga: Tiga Seniman Gayo Perkuat Tim Artistik Pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim

Sejumlah seniman Aceh juga hadir, di antaranya:

  • Wina SW
  • Zul Kirbi
  • Asmira Dieni
  • Fikar W Eda
  • Devie Matahari
  • Hasbi Yahya dari Kuala Lumpur

Dari Jakarta, hadir pula Irini Dewi Wanti, Direktur Film, Musik dan Seni Kementerian Kebudayaan bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Aceh.

Ini bukan sekadar acara sekolahmelainkan pertemuan lintas ruang, lintas generasi dan lintas pengalaman seni.

Yang menarik, Taufiq tidak hanya membaca puisi. Ia berdialog. Menjawab, bertanya, bahkan sesekali menyelipkan humor.

Dipandu oleh Fikar W Eda, percakapan itu mengalir seperti sungai yang tenang, tetapi dalam.

Para siswa tidak hanya mendengar, mereka terlibat.

Aceh Bukan Ruang Asing bagi Taufiq Ismail

Aceh sendiri bukan ruang asing bagi Taufiq Ismail. Ia pernah datang pada 2001, membawa rombongan seniman Indonesia, berdialog dengan siswa di SMA Modal Bangsa.

Jauh sebelumnya, tahun 1986, ia hadir dalam Pertemuan Sastrawan ASEAN di Universitas Jabal Ghafur, dan bahkan sempat membaca puisi di Takengon.

Kedatangannya kali ini seperti mengulang jejak lama namun dengan makna baru.

Usia boleh menua, tetapi suara puisi itu tetap muda.

Di hadapan para pelajar, Taufiq Ismail menunjukkan bahwa kata-kata tidak pernah kehilangan tenaga, selama ia dihidupkan dengan keyakinan.

Dan mungkin, bagi para siswa yang hadir hari itu, yang mereka ingat bukan hanya puisi-puisi yang dibacakan.

Tetapi sosok tua yang duduk tegak, yang membuktikan bahwa semangat tidak pernah mengenal usia.

Buku Taufiq Ismail kemudian dibagikan kepada siswa, guru dan Dinas Pendidikan Aceh oleh sang istri Ati Ismail.

Pertemuan berakhir menjelang Zuhur dan Tayfiq Ismail bersiap untuk tampil di hadapan publik yang lain di Gunongan Banda Aceh dalam kegiatan bertajuk "Puitika Tanah Rencong." (*) 

Baca juga: Tiga Seniman Gayo Perkuat Tim Artistik Pertunjukan Sengkewe Sepanjang Musim

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.