Renungan Harian Kristen 28 April 2026 - Tuhan yang Dimuliakan
Bacaan ayat: Hakim-hakim 7:2 (TB) Berfirmanlah TUHAN kepada Gideon: "Terlalu banyak rakyat yang bersama-sama dengan engkau itu dari pada yang Kuhendaki untuk menyerahkan orang Midian ke dalam tangan mereka, jangan-jangan orang Israel memegah-megahkan diri terhadap Aku, sambil berkata: Tanganku sendirilah yang menyelamatkan aku."
Oleh Pdt Feri Nugroho
Telah menjadi hal yang biasa ketika hadiah diberikan kepada para juara. Mereka adalah orang-orang yang berlatih keras sedemikian rupa untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Mereka tampil prima sebagai yang terbaik. Dan apresiasi yang diperoleh adalah teriakan girang para penonton, tropy sebagai simbol kemenangan dan tepuk tangan yang meriah sebagai tanda dukungan.
Sangat logis, manusiawi dan terlihat adil dalam kehidupan. Pola paham ini telah terbiasa dan menjadi budaya yang diwariskan turun temurun.
Namun coba hening sejenak untuk sekedar melirik 'para kalah'; mereka yang harus disingkirkan karena kalah.
Beberapa berhasil bangkit dan mendorong diri berlatih lebih keras. Beberapa yang lain harus menahan malu; sementara yang lain hanya bisa mendengus tanda kesal yang dalam.
Tragisnya, ada yang memilih untuk mundur dari percaturan lomba dengan sebuah predikat, "Saya tidak bisa. Saya tidak layak. Saya tidak berharga. Saya tidak punya passion." Ironis bukan?
Dalam dunia militer salah satu kekuatan yang dibanggakan ialah jumlah prajurit yang banyak.
Sebelum dunia modern menawarkan perang dengan senjata cukup menekan tombol, perang konvensional masih mengandalkan jumlah pasukan.
Gideon mendapatkan mandat untuk mengalahkan musuh, yaitu Midian. Tentu kalkulasi kemungkinan kemenangan akan ditentukan oleh jumlah pasukan yang ada.
Kondisi tersebut sangat rentan bagi umat Tuhan untuk mengandalkan diri dan tidak mau lagi percaya kepada Tuhan.
Mereka bisa saja memegahkan diri sebagai pasukan yang kuat sehingga dapat menang dalam peperangan dan mengalahkan musuh. Akibatnya, mereka lupa kepada Tuhan, sebagai Inisiator utama yang mengijinkan kemenangan terjadi.
Seleksipun dilakukan. Mereka yang takut dan gentar diminta pulang. Duapuluh dua ribu orang pulang dan tertinggal sepuluh ribu orang.
Masih terlalu banyak. Seleksi berikutnya, mereka diminta minum air di sungai; cara mereka minum air menjadi penentu keterpilihan.
Tersisa tiga ratus orang. Inilah orang pilihan.
Ketika bersanding dengan pasukan musuh, tiga ratus adalah jumlah yang sangat sedikit.
Rasanya mustahil untuk menang. Justru disinilah letak kebergantungan mereka kepada Tuhan. Bahwa dengan tiga ratus orang cukup untuk membumihanguskan Midian dengan cara yang ajaib.
Dalam hal apapun, jangan pernah memegahkan diri. Hargai diri secukupnya. Setiap waktu perlu sadar bahwa Tuhanlah yang berkarya dalam kehidupan kita.
Dia tidak pernah gagal, meskipun terlihat mustahil. Dia selalu punya cara untuk menolong. Amin
Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang