SURYA.CO.ID, SURABAYA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam sebesar 6,61 persen sepanjang periode 20–24 April 2026 dan ditutup di level 7.129,49 pada akhir perdagangan Jumat (24/4/2026).
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menjelaskan tekanan pasar dipicu eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas global dan mendorong kenaikan harga minyak.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran inflasi berkepanjangan serta berdampak langsung pada pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp17.315 per dolar AS.
Tekanan diperparah oleh keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk Mei 2026, sehingga memicu aksi jual asing.
Sepanjang tahun berjalan, net sell investor asing tercatat mencapai Rp42,8 triliun, terutama pada saham berkapitalisasi besar.
Dari sisi global, kebuntuan negosiasi Amerika Serikat dan Iran meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dunia, terutama di jalur Selat Hormuz.
Kondisi ini menjaga harga energi tetap tinggi dan berpotensi menahan penurunan inflasi global.
Di dalam negeri, kenaikan harga BBM non-subsidi turut meningkatkan tekanan inflasi, khususnya pada sektor transportasi dan logistik.
Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.
Brigita memperkirakan IHSG bergerak mixed dengan kecenderungan melemah, meski terdapat peluang technical rebound jangka pendek akibat kondisi oversold.
Level support krusial berada di rentang 7.100–7.150. Jika tidak bertahan, IHSG berpotensi turun ke area 7.022 hingga mendekati 6.917.
IPOT merekomendasikan sejumlah saham untuk trading pekan ini, antara lain DKFT, ESSA, dan ERAA. Selain itu, ETF XIIC dinilai menarik sebagai instrumen defensif berbasis konsumsi domestik.