Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Dari tumpukan sampah yang dulu kerap menjadi masalah, warga Kelurahan Sumber Jaya kini bersiap menata masa depan baru.
Lewat program Eco Circle Center yang didukung Pertamina Patra Niaga, sampah diproyeksikan tak lagi berakhir di tempat pembuangan, melainkan menjadi penggerak ekonomi dan perubahan perilaku masyarakat.
Transformasi ini berangkat dari persoalan yang selama ini dianggap sepele: sampah rumah tangga. Namun melalui pendekatan terstruktur dan kolaboratif, limbah yang dulunya menjadi beban perlahan diarahkan menjadi sumber daya bernilai.
Program Eco Circle Center yang diinisiasi Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Selatan menjadi salah satu pengungkit utama perubahan tersebut.
Ke depan, pola pengelolaan sampah di Sumber Jaya diperkirakan akan semakin sistematis. Warga tidak lagi sekadar membuang, tetapi mulai memilah, mengolah, hingga memanfaatkan sampah sebagai bagian dari siklus ekonomi baru di tingkat komunitas.
Dari Masalah Lingkungan ke Kemandirian Warga
Ketua TPS3R Sumber Jaya, Marliana, melihat perubahan perilaku masyarakat sebagai fondasi utama yang akan terus menguat. Ia optimistis, kesadaran kolektif warga akan menjadi kunci keberlanjutan program ini.
“Ke depan, kami ingin masyarakat tidak hanya sadar membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga memahami bahwa sampah memiliki nilai dan bisa memberi manfaat ekonomi,” ujarnya ke TribunBengkulu.com.
Menggerakkan Ekonomi dari yang Terbuang
Dalam proyeksi pengembangannya, Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Sumber Jaya diperkirakan akan meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah secara bertahap.
Saat ini, volume pengolahan mencapai sekitar 200 kilogram per minggu, dan angka tersebut berpotensi meningkat seiring bertambahnya partisipasi warga.
Hasil pengolahan berupa cacahan plastik yang telah mencapai hingga 1,5 ton menjadi indikator awal terbentuknya rantai ekonomi sirkular.
Ke depan, produksi ini diproyeksikan tidak hanya meningkat dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas, sehingga mampu membuka akses pasar yang lebih luas.
Bagi masyarakat, perubahan ini bukan sekadar tentang kebersihan lingkungan.
Lebih dari itu, TPS3R mulai berperan sebagai ruang produktif yang menghadirkan peluang tambahan penghasilan, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi berbasis komunitas.
Dengan model yang terus berkembang, Sumber Jaya berpotensi menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat terintegrasi dengan penguatan ekonomi lokal, sebuah pendekatan yang relevan dalam menjawab tantangan lingkungan sekaligus kesejahteraan masyarakat.
Dari TPS3R Menuju Pusat Edukasi Lingkungan
Ke depan, fungsi TPS3R diproyeksikan melampaui peran teknis sebagai tempat pengolahan sampah. Kawasan ini diarahkan menjadi pusat edukasi lingkungan yang melibatkan berbagai elemen, mulai dari masyarakat hingga institusi pendidikan.
Saat ini, kolaborasi dengan bank sampah dan lembaga pendidikan telah berjalan, dan diperkirakan akan terus diperluas.
Melalui pendekatan ini, Sumber Jaya tidak hanya membangun sistem pengelolaan sampah, tetapi juga menanamkan nilai kesadaran lingkungan sejak dini.
Lurah Sumber Jaya, Nazuro Annur, menilai perubahan perilaku masyarakat menjadi capaian paling signifikan dari program ini. Ia menegaskan, arah pengembangan ke depan akan semakin menitikberatkan pada aspek edukasi dan partisipasi.
“Ke depan, kami ingin TPS3R ini menjadi pusat pembelajaran bersama, sehingga kesadaran lingkungan tidak berhenti di satu generasi saja,” katanya.
Peran Korporasi dalam Mendorong Keberlanjutan
Inisiatif ini tidak lepas dari dukungan berkelanjutan Pertamina Patra Niaga melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang dijalankan oleh Fuel Terminal Pulau Baai.
Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan.
Area Manager Communication, Relations & CSR, Rusminto Wahyudi, menegaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada hasil jangka pendek, tetapi juga dampak jangka panjang.
“Melalui Eco Circle Center, kami ingin memastikan bahwa masyarakat memiliki kemampuan untuk mengelola sampah secara mandiri, sekaligus merasakan manfaat ekonomi dari proses tersebut,” jelas Rusminto.
Pendekatan ini menjadi contoh bagaimana peran korporasi dapat berkontribusi dalam membangun sistem sosial yang lebih resilien, khususnya dalam pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Menuju Model Keberlanjutan yang Replikatif
Secara lebih luas, pengembangan Eco Circle Center di Sumber Jaya diproyeksikan akan berkontribusi terhadap pencapaian target pembangunan berkelanjutan, terutama dalam aspek pertumbuhan ekonomi inklusif, pembangunan komunitas berkelanjutan, serta pola konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.
Dengan tren yang terus menunjukkan perkembangan positif, Sumber Jaya memiliki peluang besar untuk menjadi model yang dapat direplikasi di wilayah lain, tidak hanya di Bengkulu, tetapi juga di kawasan Sumatera.
Pada akhirnya, perubahan yang sedang berlangsung di Sumber Jaya menunjukkan satu hal penting: ketika sampah dikelola dengan pendekatan yang tepat, ia tidak lagi menjadi akhir dari sebuah siklus, melainkan awal dari terbentuknya sistem baru yang lebih berkelanjutan, baik bagi lingkungan maupun kehidupan masyarakat.