Evaluasi OVOP Dilakukan, Dinsos PMD Tana Tidung Petakan Potensi Desa untuk Penguatan Ekonomi Lokal
Junisah April 27, 2026 07:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG -Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Tana Tidung mulai melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program one village one product (OVOP) sebagai upaya mengoptimalkan potensi ekonomi desa.

Evaluasi ini difokuskan pada pemetaan kembali potensi yang telah dikembangkan oleh masing-masing desa, guna menentukan arah penguatan program ke depan agar lebih terarah dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Sosial PMD Tana Tidung, Arief Prasetiawan mengatakan, pihaknya saat ini tengah menginventarisasi berbagai produk dan potensi yang sudah berjalan di desa-desa.

“Kami saat ini sedang melakukan evaluasi pelaksanaan program one village one product, dengan mencoba memetakan kembali desa mana yang sudah menghasilkan produk tertentu,” ujar Arief Prasetiawan.

Baca juga: Dinsos PMD Tana Tidung Verifikasi Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional, Tentukan Penerima Bansos

Ia menyebutkan, dari hasil sementara, beberapa desa telah menunjukkan potensi unggulan, seperti Desa Bandan Bikis dengan kolam ikan keramba, serta Desa Tideng Pale yang memiliki sektor pertanian sawah dalam mendukung ketahanan pangan.

“Ini sedang kita petakan kembali, supaya ke depan lebih optimal dan bisa berbagi peran, termasuk kemungkinan saling sharing potensi antar desa,” jelasnya.

Menurutnya, setiap desa memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari sisi geografis maupun pola kehidupan masyarakat, sehingga pendekatan pengembangan tidak bisa disamaratakan.

“Di wilayah darat masyarakat cenderung berkebun, sementara di wilayah sungai lebih banyak beraktivitas di perairan. Jadi kalau dipaksakan justru tidak akan optimal, karena kebiasaan dan pola hidupnya sudah terbentuk,” terangnya.

Lebih lanjut, Arief mengungkapkan rencana untuk mengelompokkan atau mengklaster potensi desa berdasarkan karakteristik tersebut, agar pengembangan produk lebih fokus dan terarah.

Baca juga: Dinsos PMD Tana Tidung Kaltara Serahkan Bantuan untuk Warga Terdampak Longsor

“Kita rencanakan nanti diklaster, setelah dipetakan potensi masing-masing desa. Dari situ kita bisa menentukan arah pengembangan produk yang sesuai,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan program OVOP ke depan juga akan melibatkan kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dan pemangku kepentingan lainnya, guna memastikan keberlanjutan dari hulu hingga hilir.

“Tidak hanya menanam atau memproduksi, tapi juga harus kita pikirkan bagaimana pemasaran dan penanganan jika ada kendala. Jadi kita coba kawal dari awal sampai ke hilirnya,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga mendorong adanya kerja sama antar desa dalam pemenuhan kebutuhan, melalui konsep saling melengkapi berdasarkan potensi masing-masing wilayah.

“Misalnya desa yang wilayahnya banyak air bisa fokus ke perikanan, sementara desa yang kuat di darat bisa ke pertanian atau kerajinan. Jadi bisa saling menutupi kebutuhan,” ujarnya.

Menurut Arief, penguatan sektor kebutuhan pokok seperti perikanan dan peternakan masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan di daerah, mengingat tingginya kebutuhan konsumsi harian masyarakat.

“Kalimantan ini kebutuhan pokok masih sangat menjanjikan, seperti ternak ayam atau ikan yang dikonsumsi setiap hari,” katanya.

Ia berharap, melalui pemetaan dan penguatan program OVOP ini, desa mampu memenuhi kebutuhan secara mandiri dengan biaya produksi yang lebih efisien serta memberikan keuntungan bagi masyarakat.

“Harapannya, kebutuhan di dalam daerah bisa terpenuhi dengan biaya rendah dan margin keuntungan yang lebih tinggi, sehingga pendapatan masyarakat desa bisa meningkat,” pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.