Mengunjungi Rumah Anggrek Keracunan Orchid di Tabalong, Anggrek Bulan Raksasa Jadi Primadona
Hari Widodo April 27, 2026 08:51 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Berbagai jenis anggrek dari berbagai daerah di Indonesia langsung menyambut begitu memasuki halaman sebuah rumah di Desa Garagata, Kecamatan Jaro, Kabupaten Tabalong, Kalsel.

Anggrek-anggrek itu sebagian diletakkan di area terbuka, sebagian lagi dirawat khusus di dalam ruangan berdinding kawat dengan atap paranet.

Dari empat area anggrek beratap itu, ada satu ruangan berdinding kawat yang langsung mencuri perhatian.

Di dalamnya berjajar rapi anggrek bulan raksasa atau Phalaenopsis gigantea dengan daun besar yang menjuntai, memberi kesan megah saat dilihat dari dekat.

Baca juga: Daftar 10 Buah dan Bunga Dipercaya Bawa Keberuntungan di Imlek 2026, Mulai Apel hingga Anggrek

Itulah suasana di Rumah Anggrek dengan nama Keracunan Orchid, milik Aris Sandi, seorang dokter ASN yang  bertugas di Puskesmas Hayaping, Bartim, Kalteng ini.

Pria kelahiran Tabalong tahun 1992 ini berhasil menyulap lahan di samping rumah menjadi tempat tumbuh ribuan anggrek, dengan Phalaenopsis gigantea sebagai primadona.

Nama Keracunan Orchid menggambarkan perjalanan Aris, dari awal mengenal anggrek hingga kini menjadi kolektor dengan ribuan tanaman.

Perjalanannya bermula pada 2018. Saat itu, seorang teman mengenalkannya pada anggrek Dendrobium anosmum yang didapat dari daerah Tabalong.

"Dulu dikasih teman anggrek jenis Dendrobium anosmum. Pas dirawat, akarnya bagus, bunganya juga bagus. Dari situ langsung jatuh hati," kenang Aris saat ditemui di rumah anggreknya, Senin (27/4/2026).

Sejak itu ketertarikannya makin kuat. Ia mulai membeli anggrek, dari satu tanaman hingga kini koleksinya mencapai 2.500 sampai 3.500-an anggrek.

"Dari dikasih teman dulu, akhirnya keracunan, keracunan memelihara anggrek," kata Aris sambil tersenyum.

Ketelatenan Aris membuat koleksinya kerap tampil di berbagai kontes anggrek. Bukan sekadar meramaikan, anggrek-anggreknya sering meraih penghargaan tingkat lokal hingga nasional.

"Sering ikut kontes dan alhamdulillah beberapa kali membawa nama Tabalong dapat juara," ujar Aris.

Terbaru, pada ajang nasional di Tanah Laut tahun 2024, anggrek Phalaenopsis gigantea miliknya langsung memborong tiga penghargaan.

Dari ratusan peserta yang ikut, anggrek andalannya itu berhasil meraih juara 1 di kelasnya, juara 1 untuk kategori keseluruhan, dan juga dinobatkan sebagai Best of Show.

Menariknya, anggrek yang mendapat tiga gelar sekaligus ini didapat kawan-kawannya di gunung dengan kondisi kurang bagus.

Kemudian di rumah anggrek miliknya itulah dilakukan perawatan secara telaten sekitar 3 tahun hingga akhirnya bisa membuahkan prestasi di level nasional.

Aris juga menyebut, di rumah anggreknya ini juga tersimpan beberapa koleksi yang bernilai mahal karena keunikan dan kelangkaannya.

Ada yang pernah ditawar hingga jutaan rupiah karena bentuknya berbeda dari tanaman lain yang satu spesies.

Namun Aris tetap pada pendiriannya. Ia tidak melepas anggrek koleksinya untuk dijual dan memilih merawatnya lebih jauh lagi.

"Kalau yang langka ada beberapa, salah satunya anggrek bulan yang habitatnya asli dari perbatasan Kalbar dan Malaysia, pertumbuhannya susah. Sekarang saya tinggal punya tiga pohon saja," kata Aris.

Baca juga: Satu Keunikan Pengembangan Anggrek di Pelaihari Tanahlaut Kalsel, Berbeda dengan Pola Biasanya

Aris berharap apa yang dilakoninya ini tidak sekadar menyalurkan hobi saja, tetapi juga ikut menjaga kelestarian anggrek, khususnya Phalaenopsis gigantea.

Terlebih, saat awal mengoleksi pada 2018, dari pengalamannya sendiri ketika itu sudah sulit mendapatkan Phalaenopsis gigantea.

Kini di rumah anggrek miliknya, jenis Phalaenopsis gigantea sudah tumbuh cukup banyak dengan perkembangan sangat baik. (banjarmasinpost.co.id/donyusman)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.