Susah Tidur karena Main HP? Peneliti Sebut Bukan Akibat Blue Light, Tapi..
GH News April 27, 2026 10:09 PM
Jakarta -

Selama bertahun-tahun, kita percaya bahwa cahaya biru (blue light) dari layar ponsel adalah biang kerok utama gangguan tidur. Banyak dari kita akhirnya memakai kacamata anti-radiasi hingga mengaktifkan mode malam. Namun, penelitian terbaru menunjukkan fakta mengejutkan: masalahnya bukan pada cahaya ponsel, melainkan pola hidup kita.

Dilansir dari BBC, jurnalis teknologi Thomas Germain melakukan eksperimen ekstrem dengan menghindari cahaya biru selama berminggu-minggu. Ia memakai kacamata khusus hingga hanya menggunakan lilin di malam hari. Hasilnya? Kualitas tidurnya tidak berubah drastis karena blue light, melainkan karena faktor lain yang lebih kompleks.

Cahaya Biru Bukan Penyebab Utama

Kekhawatiran tentang cahaya biru bermula dari studi tahun 2014 yang menemukan pengguna iPad membutuhkan waktu lebih lama untuk tidur dan menghasilkan lebih sedikit melatonin dibanding pembaca buku fisik. Namun para ahli mengatakan kesimpulan ini sering disalahartikan.

Profesor psikiatri dari Stanford University, Jamie Zeitzer, menjelaskan bahwa hasil penelitian tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi nyata.

"Jumlah cahaya yang dipancarkan layar kita sebenarnya tidak signifikan," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa mata manusia memiliki protein sensitif cahaya bernama melanopsin yang memang lebih sensitif terhadap cahaya biru. Namun dalam kehidupan sehari-hari, cahaya dari layar ponsel tidak cukup terang untuk memberi dampak besar.

Penelitian lain juga menemukan bahwa penggunaan layar hanya menunda waktu tidur sekitar sembilan menit. Bahkan, total cahaya biru dari perangkat digital selama 24 jam lebih kecil dibandingkan satu menit paparan sinar matahari di luar ruangan.

Faktor Ini yang Lebih Berpengaruh

Para ahli sepakat bahwa yang lebih penting adalah total paparan cahaya sepanjang hari. Tubuh membutuhkan cahaya terang di pagi hari dan cahaya redup di malam hari agar ritme biologis tetap stabil.

Peneliti dari Norwegian University of Science and Technology, Håvard Kallestad, menyarankan agar orang lebih banyak terpapar cahaya alami.

"Pergilah ke luar ruangan jika bisa, gunakan lampu jika perlu," ujarnya.

Bahkan, berjalan kaki selama 30 menit di pagi hari sudah dapat membantu memperbaiki ritme tidur. Paparan cahaya sore hari juga membantu tubuh lebih tahan terhadap cahaya malam.

Zeitzer juga menekankan pentingnya kontras cahaya sepanjang hari.

"Kunci sebenarnya dari paparan cahaya adalah kontras," katanya.

Sebagai perbandingan, cahaya ruang tamu biasanya hanya sekitar 100 lux, sementara cahaya luar ruangan bisa mencapai 10.000 lux, bahkan lebih. Semakin tinggi angkanya, semakin terang cahayanya. Cahaya ponsel sendiri hanya sekitar 50-80 lux.

Bukan Cahaya, tapi...

Para ahli juga menilai masalah utama bukan cahaya layar, melainkan aktivitas yang dilakukan sebelum tidur. Konten di ponsel justru lebih berpengaruh dibanding cahayanya.

"Yang lebih membuat orang tetap terjaga adalah kontennya, bukan cahayanya," kata Zeitzer.

Aktivitas seperti scrolling media sosial, membaca berita, atau bekerja sebelum tidur dapat membuat otak tetap aktif. Selain itu, rutinitas sebelum tidur juga berpengaruh secara psikologis.

Zeitzer menjelaskan bahwa rutinitas tertentu (seperti menyalakan lampu redup atau menggunakan filter layar) dapat menjadi sinyal bagi tubuh untuk bersiap tidur.

"Ketika sesuatu menjadi bagian dari proses sebelum tidur, itu bisa menjadi isyarat psikologis yang sangat kuat," jelasnya.

Hasil eksperimen Germain juga menunjukkan, kualitas tidur tidak berubah drastis saat ia menghindari cahaya biru. Namun ia merasa lebih mudah tidur karena rutinitas malamnya menjadi lebih konsisten.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.