Laporan wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro
TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Pino Bahari (53), legenda tinju amatir Indonesia peraih medali emas Asian Games 1990, kini hanya bisa terbaring tak berdaya di sebuah hotel tempat ia menginap menjalani perawatan sementara di kawasan Simpang Siur, Kuta, Badung, Bali takbjauh dari kediamannya di Pemogan, Denpasar.
Mantan atlet nasional yang pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional ini harus berjuang melawan rasa sakit yang luar biasa setelah mengalami kecelakaan parah di Bypass Sanur pada Senin, 13 April lalu.
Pasca kecelakaan, Pino dilarikan ke RSUD Bali Mandara untuk menjalani operasi toraks dan kaki.
Proses pemulihannya membutuhkan waktu yang cukup lama, di mana ia harus menjalani istirahat total dan baru diperbolehkan belajar berdiri setidaknya dua bulan setelah operasi.
Baca juga: 34 Pejabat Ikuti Uji Kompetensi, Diproyeksikan Mengisi Kursi Jabatan Kadis dan Kaban
Di atas ranjang, sang juara tidak lagi terlihat tangguh seperti saat ia berada di ring tinju. Suaranya terdengar parau dan berat, sesekali ia meringis sambil memegangi bagian rusuk kirinya yang baru saja menjalani operasi besar.
"Sekarang masih harus bed rest total. Di rusuk dan pergelangan kaki kiri saya dipasang pen. Dokter bilang paling cepat 2 bulan lagi baru bisa belajar berdiri," ujar Pino dengan nada bicara yang lirih dan terputus-putus menahan nyeri saat dijumpai Tribun Bali, pada Senin 27 April 2026.
Insiden yang mematahkan empat ruas tulang rusuk dan pergelangan kaki kirinya itu terjadi saat Pino berusaha menghindari tabrakan dengan seorang pengendara motor perempuan yang memotong jalan secara tiba-tiba.
Demi menyelamatkan nyawa orang lain, Pria kelahiran 15 Oktober 1972 ini memilih membanting motornya hingga ia sendiri harus menanggung cedera fatal.
Namun, ironi pahit muncul di balik perjuangan medisnya, biaya operasi yang mencapai sekitar Rp200 juta untungnya dapat tercover oleh BPJS Kesehatan yang masih aktif, ditambah bantuan donasi dari rekan-rekan sesama insan olahraga.
Baca juga: SATPOL PP Dalami SHGB, Tindaklanjuti Dugaan Lahan Mangrove Dibabat di Kawasan BTID
Sebelum musibah ini terjadi, kehidupan Pino Bahari jauh dari kemewahan seorang pahlawan olahraga.
Ia mengaku sempat bekerja sambilan sebagai driver online mobil demi menyambung hidup keluarga.
"Saya sempat mengambil pekerjaan sebagai driver online untuk tetap menghidupi keluarga di tengah kondisi pekerjaan di dunia tinju yang sedang sepi," akunya.
Nasibnya kian terjepit setelah ia dirumahkan dari pekerjaannya sebagai pelatih di sebuah sasana di Canggu pada Maret lalu akibat sepinya anggota.
Pino, yang pernah meraih perak dan perunggu di berbagai edisi SEA Games serta juara nasional dan PON, merasa bahwa perhatian pemerintah terhadap masa tua para atlet masih sangat minim.
Dengan suara yang terdengar keruh karena menahan sesak di bagian dada, ia menyampaikan aspirasi yang mendalam bagi seluruh atlet nasional.
"Harapan besar saya, pemerintah khususnya Kemenpora bisa memberikan perhatian lebih melalui undang-undang dana pensiun bagi atlet nasional yang berprestasi," tegasnya.
Baca juga: Alokasikan Rp 200 M di 2026, Kualitas Jalan Kabupaten Gianyar, 80 Persen Lebih dalam Kondisi Mantap!
Di tengah masa pemulihannya, Pino menyampaikan harapan besar agar pemerintah, khususnya Kemenpora, memberikan perhatian lebih kepada para mantan atlet nasional melalui regulasi dana pensiun bagi atlet berprestasi.
Ia mengusulkan agar skema pensiun disesuaikan dengan tingkat pencapaian atlet, baik di tingkat Olimpiade, Asian Games, maupun SEA Games.
Pino meyakini bahwa jaminan masa tua yang layak akan memberikan rasa aman bagi orang tua untuk mendukung anak-anak mereka menjadi atlet nasional, sehingga proses regenerasi atlet di Indonesia dapat berjalan dengan lebih baik.
Menurut Pino, jaminan masa tua berdasarkan tingkat pencapaian prestasi seperti emas Olimpiade, Asian Games, atau SEA Games sangat krusial untuk masa depan regenerasi atlet Indonesia.
"Kami sudah mengorbankan usia produktif kami untuk berjuang mengharumkan nama bangsa," pungkas Pino.
Pino Bahari merupakan sosok mantan petinju amatir nasional yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia tinju Indonesia sejak usia dini.
Di bawah bimbingan sang ayah, Daniel Bahari, Pino telah dipersiapkan menjadi petinju sejak dini, karier prestasinya di dunia tinju amatir dimulai pada tahun 1988 hingga 1996.
Debut pertandingannya dilakukan pada usia 15 tahun di kelas 75 kg atau kelas menengah.
Selama masa aktifnya, Pino berhasil menorehkan berbagai prestasi gemilang, dengan pencapaian tertinggi berupa Medali Emas Asian Games Beijing 1990.
Selain itu, ia tercatat sebagai peraih Medali Perak SEA Games 1991, 1993, 1995, Medali Perunggu SEA Games 1989, Juara Nasional tingkat Junior dan Senior, serta Juara PON tahun 1989, 1993, dan 1996.
Meskipun berhasil lolos kualifikasi Olimpiade Atlanta 1996, Pino terpaksa batal bertanding akibat cedera tulang belakang parah yang dialaminya saat menjalani persiapan di pemusatan latihan.
Setelah gantung sarung tinju, Pino tetap berkontribusi di dunia tinju dengan membantu ayahnya mengelola Daniel Bahari Promotion.
Ia memiliki peran penting sebagai manajer dan matchmaker yang melahirkan juara dunia seperti Chris John dan Daud Yordan di awal karier mereka.
Pino juga aktif memajukan tinju di Bali dengan mengadakan acara fun fight serta mendirikan Komisi Tinju Profesional Indonesia (KTPI) untuk Provinsi Bali. (*)