BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJAR- Dari kejauhan, bangunan SMPN 1 Paramasan Kabupaten Banjar tampak tak berbeda dengan sekolah lain. Ruang kelas berdiri rapi, laboratorium tersedia, suasana belajar pun terlihat normal.
Namun di balik itu, ada satu hal yang tak kasat mata tapi terasa nyata yakni sinyal yang nyaris tak pernah benar-benar hadir.
Bagi guru dan siswa di pedalaman Pegunungan Meratus ini, internet bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan barang langka yang harus diperjuangkan.
Untuk sekadar terhubung, mereka tak jarang harus mendaki bukit atau bahkan memanjat pohon. Dalam kondisi mendesak, satu-satunya pilihan adalah membeli voucher di warung, itu pun dengan akses terbatas.
“Kalau soal internet, susah sekali. Kadang kalau darurat, kami ke warung beli voucher. Itu pun terbatas,” ujar Rilo Adityo, guru sekaligus proktor di sekolah tersebut.
Baca juga: Waspada Kencing Tikus
Keterbatasan itu kembali diuji saat pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) beberapa hari lalu. Pagi di Paramasan belum sepenuhnya terang ketika ruang laboratorium komputer mulai terisi, Rabu (22/4). Siswa kelas 9 datang dengan seragam rapi, duduk di depan laptop sederhana yang berjajar di atas meja kayu.
Di luar jendela, hamparan hijau Meratus menyuguhkan ketenangan. Namun di dalam ruangan, suasana justru dipenuhi ketegangan yang tak terucap.
Akhmad Riduan, siswa 16 tahun asal Dusun Munggulahung, datang lebih awal dari biasanya. Perjalanan panjang melalui jalan berbatu sudah menjadi rutinitasnya.
Tapi pagi itu, tantangan yang ia hadapi bukan lagi soal jarak, melainkan ketidakpastian. “Saya berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat dan bisa siap ikut ujian,” ujarnya pelan.
Awalnya semua berjalan normal. Namun sekitar pukul 06.10 Wita, situasi berubah. Sistem tiba-tiba bermasalah, nama pengawas dan kartu login mendadak hilang. Ujian yang seharusnya dimulai, terpaksa tertunda.
Di tengah situasi itu, Rilo langsung bergerak cepat. Ponsel di tangan, Rilo mencoba berkoordinasi dengan tim teknis di kabupaten. Waktu terus berjalan, sementara puluhan siswa hanya bisa menatap layar tanpa soal.
“Momen itu cukup menegangkan. Tapi kami harus tetap tenang supaya siswa tidak panik,” katanya.
Di dalam ruangan, tak ada suara gaduh. Tidak ada keluhan. Hanya tatapan yang bergantian antara layar dan depan kelas. Sebagian siswa menunduk, sebagian lainnya menunggu dengan gelisah yang ditahan.
Riduan mengaku sempat diliputi kecemasan. Persiapan sejak subuh terasa menggantung tanpa kepastian. “Sudah siap dari pagi, tapi belum bisa mulai. Jadi agak cemas,” katanya.
Namun ia tetap bertahan di kursinya. Mouse di tangannya seakan siap digerakkan kapan saja. Bagi Riduan, TKA bukan sekadar ujian biasa. Ini adalah pintu menuju masa depan yang lebih baik. “Saya ingin tetap ikut sampai selesai. Ini kesempatan penting,” ucapnya.
Waktu terasa berjalan lambat. Hingga pukul 07.00 Wita, secercah harapan muncul. Sistem mulai mendapat penanganan sementara. Aktivitas di laboratorium perlahan kembali hidup, meski gangguan belum sepenuhnya hilang.
Penantian panjang baru benar-benar berakhir menjelang siang. Sekitar pukul 09.30 Wita, informasi diterima bahwa sistem TKA nasional tengah dalam proses pemulihan. Setengah jam berselang, tepat pukul 10.00 Wita, sistem akhirnya pulih. Ujian pun dimulai.
Kali ini, tanpa gangguan berarti. Suasana tegang perlahan berubah menjadi hening yang penuh konsentrasi. Satu per satu siswa mulai mengerjakan soal, menebus waktu yang sempat tertahan.
Di ruang sederhana di kaki Meratus itu, tersimpan cerita tentang keteguhan. Tentang siswa yang menempuh jarak, melawan keterbatasan, dan bertahan dalam ketidakpastian. Bagi mereka, ujian hari itu bukan sekadar deretan soal. Melainkan pelajaran tentang sabar, tekad, dan semangat yang tak mudah padam.
Kepala SMPN 1 Paramasan, Rahmiatun, menyebut peristiwa itu sebagai ujian yang sesungguhnya. Bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi kesiapan sistem. “Ini bukan hanya soal teknologi, tapi juga mental. Kami bangga siswa tetap tenang dan tidak menyerah,” ujarnya. (nurholis huda)