BANGKAPOS.COM – Tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/2026) malam menyita perhatian publik.
Sejumlah penumpang mengungkap detik-detik tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam kemarin.
Dari kesaksikan penumpang ini melihat dan merasakan langsung benturan keras terjadi.,
Bahkan, penumpang juga menyaksikan kepanikan penumpang lain hingga upaya penyelamatan darurat di lokasi kejadian.
Baca juga: Sosok Anita Palupy Indahsari, Kepala Sekolah Daycare Jogja yang Disorot, Namanya Masuk 13 Tersangka
Satu di antara penumpang, Munir, mengatakan rangkaian KRL yang ditumpanginya dari arah Jakarta menuju Cikarang tengah berhenti di stasiun saat insiden terjadi.
Kereta disebut berhenti karena adanya gangguan di jalur depan.
Menurut dia, dari arah belakang tiba-tiba datang KA Argo Bromo Anggrek dan langsung menghantam rangkaian KRL.
“Pokoknya ditabrak dari arah belakang, gerbong masinis kereta jarak jauh itu sampai nembus gerbong,” kata Munir di lokasi.
Ia menyebut gerbong khusus perempuan mengalami kerusakan paling parah.
Sejumlah penumpang kesulitan mengevakuasi diri karena akses tertutup bangku dan badan gerbong yang hancur.
Kesaksian serupa disampaikan penumpang lain, Hendri.
Ia mengaku mendengar suara keras seperti ledakan saat tabrakan terjadi.
“Ya kalau kedengerannya seperti suara bom, saking kencangnya,” ujar Hendri.
Ia menjelaskan, sebelum insiden, rangkaian KRL sempat berhenti cukup lama di Stasiun Bekasi Timur.
Tak lama kemudian, tabrakan terjadi dari arah belakang.
“Nah ini Argo Bromo nabrak gerbong belakang yang ditempatkan perempuan, agak masuk ke dalam,” ujarnya.
Baca juga: Sinyal Reshuffle Menguat, Sederet Nama Santer Masuk Kabinet Prabowo, Jenderal Dudung ke Istana
Hendri menggambarkan suasana saat kejadian berlangsung sangat cepat dan penuh kepanikan.
Asap tebal muncul sesaat setelah benturan, disusul bunyi sirene.
“Sekitar jam 8. Karena itu berasap, tabrakan kencang. Saya tinggal lari,” katanya. Ia juga menyebut puluhan ambulans dikerahkan ke lokasi untuk mengevakuasi korban.
Penumpang lainnya, Maksus (39), mengaku selamat karena sempat turun dari kereta beberapa saat sebelum tabrakan terjadi.
Ia awalnya turun ke peron untuk melihat kondisi di depan setelah kereta berhenti.
“Baru saya melangkah berapa langkah, kereta jalan sendiri tapi kenceng. Tiba-tiba duss! Lampu KRL mati,” ujarnya.
Ia melihat langsung bagaimana lokomotif kereta jarak jauh mendorong rangkaian KRL dari belakang hingga masuk ke dalam gerbong.
“Gerbong yang terkena paling parah itu gerbong 12 atau gerbong khusus perempuan dan gerbong 11,” kata Maksus.
Menurut dia, sejumlah penumpang terlihat terjepit dan terpental akibat dorongan keras tersebut.
“Ada yang nyangkut di atas, ada yang ke bawah juga. Saya sudah nggak tega lihatnya,” ujarnya.
Maksus mengaku gemetar setelah kejadian dan bersyukur tidak berada di dalam kereta saat benturan terjadi.
“Ya Allah untung aja tadi keluar. Habis itu saya mau ngambil HP aja sampai gemeteran,” katanya.
Insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026) menyisakan duka dan kepanikan.
Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 20.55 WIB itu melibatkan rangkaian KRL yang tengah berhenti dan kemudian ditabrak dari belakang oleh kereta jarak jauh.
Berdasarkan kronologi awal, KRL Commuter Line terpaksa berhenti setelah terjadi gangguan di jalur, yakni adanya mobil taksi yang tertabrak di perlintasan sebidang di sekitar Bulak Kapal.
Baca juga: Kondisi Pengendara yang Ditimpa Truk Pupuk Usai Hantam Videotron di Simpang Kantor Gubernur Babel
Saat kondisi kereta masih tertahan, KA Argo Bromo Anggrek rute Gambir–Surabaya Pasar Turi melaju dan menabrak bagian belakang rangkaian KRL. Benturan keras tak terhindarkan.
Lokomotif KA Argo Bromo Anggrek menghantam gerbong terakhir KRL hingga menyebabkan kerusakan parah, terutama pada gerbong khusus perempuan yang berada di posisi paling belakang.
Bagian gerbong dilaporkan ringsek hingga menyulitkan proses evakuasi penumpang.
Menhub pastikan proses evakuasi berjalan cepat Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut.
Ia menegaskan bahwa penanganan awal difokuskan pada keselamatan korban.
“Kementerian Perhubungan menyampaikan keprihatinannya atas insiden yang melibatkan dua layanan kereta api di wilayah Stasiun Bekasi Timur pada Senin,” ujar Dudy dalam keterangannya.
Ia memastikan proses evakuasi dilakukan secara cepat dengan melibatkan berbagai pihak di lapangan.
Bahkan, dirinya turun langsung ke lokasi untuk memastikan penanganan berjalan optimal.
“Kemenhub memastikan evakuasi dilakukan secara cepat dengan mengutamakan keselamatan korban terdampak,” lanjutnya.
Hingga pagi ini, pendataan korban masih terus berlangsung.
Kementerian Perhubungan juga berkoordinasi dengan berbagai instansi, termasuk tim penyelamat dan operator, guna memastikan seluruh proses berjalan maksimal.
“Pendataan jumlah korban masih terus dilakukan. Kemenhub akan terus berkoordinasi secara intensif dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan proses evakuasi berjalan optimal seiring perkembangan di lapangan,” kata Dudy.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, menyatakan jumlah korban tewas akibat kecelakaan tersebut bertambah menjadi tujuh orang per Selasa (28/4/2026) pukul 07.00 WIB.
“Saya meng-update jumlah korban yang terjadi pada kecelakaan kereta pada malam tadi. Meninggal dunia itu 7 orang dan luka-luka dan dirawat itu sebanyak 81 orang,” ujar Bobby di lokasi.
Ia menambahkan, proses evakuasi dilakukan secara hati-hati oleh tim gabungan, termasuk Basarnas, mengingat kondisi rangkaian kereta yang ringsek dan saling menghimpit.
Selain itu, rangkaian KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan telah dievakuasi dari lokasi tabrakan untuk mempercepat penanganan dan pemulihan jalur.
Insiden ini masih dalam penanganan lebih lanjut oleh otoritas terkait, sementara proses evakuasi korban dan investigasi penyebab kecelakaan terus berlangsung.
Baca juga: Dicopot Prabowo dari Menteri P2MI, Karding Disebut Jadi Kepala Barantin Pengganti Sahat Manaor
Untuk mempercepat penanganan, KAI juga mendirikan posko tanggap darurat di area stasiun.
“Kemudian kita juga mengadakan posko tanggap darurat itu di Stasiun Bekasi ini,” tambahnya.
Proses evakuasi di lokasi kejadian berlangsung cukup menantang.
Petugas gabungan harus memotong bagian gerbong yang ringsek untuk menyelamatkan penumpang yang terjepit, khususnya di gerbong perempuan yang mengalami kerusakan paling parah.
“Ya, kita lagi potong bersihnya pelan-pelan juga, enggak bisa kita paksain juga, karena itu bisa mempersulit evakuasi di dalam,” kata Bobby.
Dari sisi operasional, KAI memastikan sebagian jalur sudah kembali berfungsi setelah proses evakuasi kendaraan dan rangkaian kereta dilakukan.
“Tadi juga saya sampaikan, per jam 1.24 WIB, track kita yang di jalur hilir itu sudah beroperasi, setelah kita tadi mengevakuasi mobil taksi bersama dengan KRL-nya yang tertemper oleh mobil taksi itu,” jelasnya.
Namun demikian, untuk mendukung proses penanganan lanjutan, operasional Stasiun Bekasi Timur ditutup sementara untuk layanan commuter line.
“Dan perlu kami umumkan juga. Sampai waktu nanti kita tentukan, Stasiun Bekasi Timur ini akan kita tutup sementara untuk commuter line, sehingga nanti layanan itu hanya sampai di Bekasi saja,” tegas Bobby.
Pemerintah juga memastikan bahwa investigasi akan dilakukan secara menyeluruh.
Kementerian Perhubungan mendukung langkah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam mengungkap penyebab pasti kecelakaan tersebut. “Selain itu, Kemenhub juga mendukung langkah-langkah investigasi dari KNKT dan pihak terkait guna mendalami penyebab insiden tersebut,” tutup Dudy.
(Kompas.com/Dian Erika Nugraheny/Nurpini Aulia Rapika/Febryan Kevin Candra Kurniawan/Kiki Safitri/Erlangga Djumena)