TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Sebanyak 50 delegasi dari kawasan Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia-Pasifik, hingga Arab Saudi berkumpul di Discovery Kartika Plaza Hotel, Bali, pada Selasa 28 April 2026.
Pertemuan internasional bertajuk The Colombo Plan Drug Advisory Program (CPDAP) National Secretariat Meeting ini menjadi momentum bagi negara-negara anggota untuk menyusun ulang strategi menghadapi ancaman narkotika yang kini berevolusi menggunakan jalur-jalur non-konvensional.
Kepala BNN RI, Komisaris Jenderal Polisi Dr. (H.C.) Suyudi Ario Seto, S.H., S.I.K., M.Si, mengungkapkan bahwa tantangan yang dihadapi dunia saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menyoroti pergeseran tren, di mana sindikat internasional kini mulai memanfaatkan kemajuan teknologi dan skala industri.
Baca juga: Jaringan Pengedar Narkoba Denpasar-Karangasem Diringkus, Bermula dari Kecurigaan Ojol
Menurutnya, persoalan narkotika saat ini tidak bisa lagi diselesaikan oleh satu negara secara mandiri, melainkan harus melalui respons kolektif yang berkelanjutan.
"Kami melihat tantangan narkotika semakin kompleks, mulai dari penyebaran narkotika sintetis dalam skala industri, pemanfaatan jalur maritim, hingga penggunaan platform digital untuk aktivitas ilegal," kata Suyudi Ario Seto saat jumpa pers.
"Ini adalah ancaman serius yang tentunya membutuhkan respons kolektif," tegasnya.
Acara tersebut mengusung tema “Enhancing Regional Cooperation for Effective and Inclusive Drug Use Response”.
Di tengah gempuran tren narkotika sintetis, Indonesia tetap konsisten mengusung filosofi "War on Drugs for Humanity".
Pendekatan ini mengedepankan keseimbangan antara penindakan tegas terhadap jaringan gelap (supply reduction) dan perlindungan terhadap korban penyalahgunaan (demand reduction) melalui rehabilitasi yang humanis.
Suyudi menjelaskan bahwa Indonesia berkomitmen untuk menghancurkan jaringan kejahatan terorganisir melalui penguatan intelijen dan pengawasan perbatasan, namun tetap memberikan hak asasi manusia yang layak bagi para korban.
Salah satu fokus utama BNN yang dipaparkan dalam forum ini adalah program "Ananda Bersinar", sebuah inisiatif yang dirancang khusus untuk melindungi generasi muda.
Program ini mengintegrasikan edukasi anti-narkoba langsung ke dalam kurikulum pendidikan, memperkuat peran ketahanan keluarga, hingga melibatkan remaja sebagai pendidik sebaya (peer education).
Upaya ini juga diperluas melalui kampanye digital dan pemberdayaan masyarakat melalui program Desa Bersih Narkotika (Bersinar) guna memastikan pencegahan dimulai dari akar rumput.
Kondisi darurat di kawasan juga diamini oleh Secretary General The Colombo Plan, Dr. Benjamin P. Reyes.
Ia secara blak-blakan menyebut bahwa saat ini mata dunia, khususnya para pelaku kejahatan narkotika, sedang tertuju pada Asia Tenggara sebagai pusat perdagangan utama.
Reyes mengapresiasi langkah BNN RI yang bersedia menjadi fasilitator bagi negara-negara anggota untuk mengoordinasikan langkah-langkah strategis di tengah lingkungan global yang terus berubah.
"Fokus perdagangan narkotika sebenarnya berada di kawasan Asia Tenggara, dan kita perlu menangani hal ini secara kolektif bersama dengan semua negara dan organisasi internasional," ujar Dr. Benjamin P. Reyes.
"Kami berterima kasih kepada BNN atas dukungan mereka dan kepada Indonesia karena telah memfasilitasi kegiatan ini," imbuhnya.
Reyes juga menanggapi isu mengenai dinamika internal The Colombo Plan, termasuk status Amerika Serikat yang merupakan donor utama.
Meski pembicaraan mengenai kontribusi AS masih terus didiskusikan, ia optimis bahwa organisasi ini akan tetap solid dengan hadirnya potensi negara-negara anggota baru yang tengah dijajaki.
"AS telah menjadi donor utama, namun kami masih mendiskusikan berbagai hal dengan mereka. Mereka masih mendukung beberapa proyek kami, dan saya sangat berharap kami bisa membawa mereka kembali," paparnya.
"Di saat yang sama, kami sedang dalam pembicaraan dengan Qatar dan mungkin Oman sebagai anggota baru. Kami juga berencana mengajak Timor Leste untuk bergabung," tambah Reyes.
Pertemuan yang dijadwalkan berlangsung hingga 30 April 2026 ini, akan berfokus pada diskusi panel mendalam mengenai mekanisme pendukung seperti kolaborasi lintas lembaga, bantuan internasional, dan inisiatif berbagi pembiayaan (cost-sharing).
Sebagai penutup rangkaian acara, para delegasi internasional dijadwalkan akan melakukan kunjungan budaya ke Istana Kepresidenan Tampaksiring dan Desa Penglipuran guna melihat langsung praktik lokal Indonesia dalam pemberdayaan masyarakat.
BNN berharap hasil dari pertemuan di Bali ini tidak hanya berhenti pada retorika, melainkan menghasilkan rekomendasi konkret yang inovatif dan segera dapat diimplementasikan demi menyelamatkan generasi masa depan dari bahaya narkotika. (*)